Sosiologi Agama: Pembaharuan ritus Memule

PEMBAHARUAN RITUS MEMULE

TRADISI JAWA DALAM LITURGI KATOLIK

DI ANTARA UMAT DI LINGKUNGAN BANGIREJO, PAROKI JETIS, YOGYAKARTA

 

A.       PENDAHULUAN

A.1. Latar Belakang

Jauh sebelum Katolik masuk ke Pulau Jawa, tradisi slametan sudah hidup dan mengakar dalam masyarakat Jawa. Slametan mengungkapkan bentuk penghormatan terhadap roh-roh untuk mencapai keselamatan. Dalam etnografinya The Religion of Java yang kemudian diikuti oleh penulis-penulis lain, Clifford Geertz mengatakan: “Slametan merupakan suatu penegasan dan penguatan kembali tatanan kultural umum dan kekuasaan untuk menahan kekuatan kekacauan …. [1]” Slametan juga menjadi suatu bentuk ungkapan solidaritas ketentanggaan di masyarakat sekitar.

Setelah Katolik masuk ke Pulau Jawa, Gereja mulai mengadakan inkulturasi-inkulturasi budaya. Berbagai nilai-nilai budaya Jawa yang selaras dengan ajaran Gereja mulai diadaptasi dengan berbagai penyesuaian di sana-sini. Hasilnya, beberapa tradisi yang ada dalam masyarakat Jawa turut menjadi bagian dalam tradisi Katolik setempat, terutama dalam bidang Liturgi. Slametan sebagai bentuk usaha untuk mencapai keselarasan tatanan kultural dengan berbagai simbol-simbol dan ritus yang sarat dengan suatu bentuk sinkretisme mendapat maknanya yang baru dalam liturgi Katolik di Jawa. Perubahannya hampir tidak terasa karena bertepatan dengan semakin memudarnya ikatan-ikatan tradisional struktur masyarakat jawa: pertumbuhan laju ekonomi, urbanisasi, penyebaran mata uang, diferensiasi pekerjaan, dan terlebih modernisasi serta sekularisasi yang turut mempengaruhi perubahan tersebut.

Di sini memule yang menjadi salah satu bagian dari tradisi slametan akan menjadi fokus perhatian kelompok. Memule menjadi bidang penelitian karena upacara ini amat dekat dengan kehidupan umat beriman Katolik di Jawa. Di samping itu, kelompok menilai bahwa ada perpaduan yang sangat indah antara budaya Jawa dan Liturgi Katolik di Jawa dalam upacara memule yang bila tidak hati-hati, upacara tersebut tidak hanya berupa inkulturasi namun juga berisi dengan unsur-unsur sinkretisme yang membahayakan Gereja.

A.2. Rumusan Masalah

Penelitian ini menempatkan masalahnya pada perubahan atau pergeseran makna slametan, secara khusus di sini memule, yang ada di Jawa yang telah diadaptasi oleh Gereja Katolik di Jawa. Ada berbagai unsur, baik simbol, ritus, — sekaligus makna-maknanya yang mendalam – yang  telah terkisis bahkan hilang. Sekilas tampak jelas bahwa dengan inkulturasi liturgi unsur-unsur sinkretisme dari upacara memule telah hilang. Namun benarkah unsur-unsur sinkretisme dari memule itu telah hilang sama sekali sehingga slametan dalam liturgi Katolik betul-betul murni inkulturasi dan terlepas dari segala bentuk sinkretisme? Jika memang benar, apakah hanya karena inkulturasi saja unsur sinkretisme itu hilang, atau ada faktor pendukung lain yang juga mengakibatkan tidak dapat dihindarkan adanya perubahan? Namun jika tradisi slametan masih berisi unsur sinkretisme, mengapa Gereja tidak berusaha untuk menyingkirkannya? Itulah berbagai pertanyaan yang akan digali dalam penelitian ini.

 

A.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk melihat lebih dalam pelaksanaan praktek upacara memule dalam masyarakat di Jawa, secara khusus dalam paguyuban umat Katolik di Lingkungan Bangirejo. Konsep pemahaman apa yang dimiliki oleh umat katolik di Lingkungan Bangirejo tentang upacara memule dan keselamatan, kegiatan apa saja yang ada dalam upacara memule, perbedaan Upacara Memule dalam Gereja Katolik dan dalam tradisi Jawa. Dengan itu bisa diketahui apakah benar bahwa upacara memule dalam Liturgi Gereja Katolik mengandung suatu bentuk sinkretisme atau sungguh-sungguh murni inkulturasi.

 

A.4. Kerangka Teoritis

Dalam menjelaskan “Ritus dan Perubahan Sosial: Pemakaman di Jawa”, Clifford Geertz mengatakan bahwa bentuk ritual inti dalam sinkretisme adalah sebuah perayaan bersama yang disebut slametan. Slametan-slametan yang memiliki bentuk dan isi dengan hanya sedikit variasi pada segala kesempatan yang memiliki makna religius – para titik peralihan daur hidup, pada hari-hari suci menurut penanggalan, pada tahap-tahap tertentu daur panen, pada waktu pindah rumah, dan seterusnya – dimaksudkan baik untuk memberi persembahan bagi roh-roh maupun mekanisme-mekanisme bersama bagi keutuhan hidup bersama[2]. Makanan yang terhidang dalam slametan disajikan secara khusus, masing-masing melambangkan sebuah konsep religius tertentu. Kepala rumah tangga mengundang delapan atau sepuluh tetangga di samping kanan dan kirinya tanpa terkecuali untuk ambil bagian. Dapat dijelaskan dengan singkat bahwa slametan di Jawa penuh dengan simbol-simbol serta makna yang mendalam.

Tradisi yang telah hidup beratus-ratus tahun tentu sudah mengakar dan mendarah daging dalam hati orang-orang Jawa. Maka tentu mustahil apabila tradisi itu harus dibaharui begitu saja. Clifford Geertz sendiri mengatakan bahwa agama adalah sebuah sistem simbol-simbol yang bertindak untuk menetapkan suasana hati dan motivasi yang kuat, meresap dan tahan lama dalam diri manusia dengan merumuskan konsepsi-konsepsi tentang suatu tatanan umum eksistensi dan membungkus konsepsi-konsepsi itu dengan suatu pancaran faktualitasnya sehingga suasana hati dan motivasi-motivasi itu tampak khas realistik[3]. Melalui teori tersebut kami mencoba untuk melihat fenomena slametan khususnya upacara memule yang umum terjadi di Jawa.

Perkembangan dunia yang semakin maju dalam bentuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mengajak manusia untuk semakin berpikir rasional. Akibatnya, berbagai jenis perubahan baik cara hidup, cara pikir, maupun cara bertindak muncul di dalam masyarakat Jawa. Langsung atau tidak langsung tradisi beserta elemen-elemennya serta makna yang terkandung di dalamnya menjadi pudar. Dalam ungkapannya yang agak spesifik,  Durkeim membagi kondisi tersebut menjadi empat pola[4]: Pertama, tatanan sosial masyarakat tradisional yang dulu terikat tali kekeluargaan, komunitas dan agama sekarang telah digantikan oleh munculnya “kontrak sosial” baru di mana individualisme dan kepentingan pragmatis lebih berkuasa. Kedua, dalam hal perilaku dan moral, nilai-nilai sakral dan keyakinan keagamaan sekarang ditantang oleh kepercayaan baru yang lebih menekankan rasionalitas. Ketiga, di bidang politik munculnya masa demokratis dalam masyarakat arus bawah memicu putusnya hubungan individu dengan tuntutan moral lama – keluarga, kampung halaman, tradisi, kepercayaan, agama. Keempat, dalam urusan pribadi, kebebasan individu yang terlepas dari paradigma lama telah menjanjikan kesempatan besar dengan resiko yang tidak ringan untuk mewujudkan kemakmuran dan aktualisasi diri meskipun juga selalu dibayangi oleh ancaman serius yaitu perasaan kesepian dan terisolasi. Teori dari Durkheim ini hendak menjelaskan bagaimana situasi umat Katolik di Lingkungan Bangirejo juga mengalami adanya perubahan cara hidup, cara pikir, pola bertindak sebagai akibat dari perubahan dunia yang lebih luas. Di sini akan di lihat bagaimana perubahan situasi yang dahulu masih desa dan kini menjadi perkotaan, semakin tingginya pendidikan masyarakat, semakin kuat pengaruh para pemuka setempat (para prodiakon) mempengaruhi terjadinya perubahan-perubahan tertentu dalam tradisi memule di Lingkungan Bangirejo.

 

A.5. Metodologi Penelitian yang Digunakan

Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini memfokuskan diri pada wawancara yang dilakukan kepada beberapa umat Katolik di Jawa, khususnya di Lingkungan Bangirejo, Yogyakarta. Agar penelitian ini dapat membuahkan suatu hasil yang memuaskan, maka akan dilalui tahap-tahap sebagai berikut: 1) Perumusan Masalah, 2) Wawancara dengan umat, 3) Penyusunan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan mementingkan aspek kedalaman. Dalam penelitian ini, kelompok mengambil beberapa gagasan dari berbagai sumber, yaitu: Clifford Geertz, John Pemberton, Emile Durheim, dan Daniel L. Pas.

 

A.6. Sumbangan Bagi Gereja

Penelitian ini akan memberikan sumbangan yang berarti bagi Gereja, secara khusus dalam hal Liturgi. Harapannya, ada sebuah pemahaman yang lebih jelas mengenai upacara Memule yang ada dalam tradisi Gereja Katolik, secara khusus Gereja di Jawa.

 

B.        SITUASI UMUM UMAT LINGKUNGAN BANGIREJO[5]

Lingkungan Bangirejo termasuk dalam wilayah Paroki St. Albertus Agung, Jetis. Wilayah Bangirejo adalah wilayah III dalam ruang lingkup pembagian wilayah dalam paroki, dan termasuk dalam Kelurahan Karangwaru, Yogyakarta, dengan kode pos 55241. Untuk saat ini, jumlah umat Katolik di lingkungan Bangirejo adalah 136 orang. Di sini akan ditampilkan situasi umum umat Lingkungan Bangirejo  baik mengenai letak gegrafis Lingkungan Bangirejo, tingkat perekonomian yang terwujud dalam pekerjaan umat, dan tingkat pendidikan umat yang akan mempengaruhi cara hidup, cara pikir, maupun cara bertindak mereka.

 

 

B.2. Lingkungan Perumahan

Dahulu, Lingkungan Bangirejo masih bernuansa pedesaan. Di sekitar lingkungan ini masih terdapat banyak lahan untuk bercocok tanam. Dalam perkembangannya, sekarang ini Lingkungan Bangirejo telah berubah menjadi wilayah perkotaan. Salah satu sudut dari lingkungan ini terdapat sebuah lingkungan perumahan. Perumahan ini adalah salah satu hasil pembangunan pada zaman pendudukan Belanda. Ciri-ciri perumahan yang dapat dilihat sekarang ini adalah teratur, jalan-jalan yang melalui tengah-tengah perumahan juga telah diperhitungkan. Tidak seperti perumahan-perumahan di kota-kota pada umumnya,  perumahan di lingkungan Bangirejo ini tidak dipagari dengan tembok pembatas. Sengaja dibuat tanpa tembok pembatas sehingga sosialisasi dengan masyarakat sekitar yang ada di luar perumahan pun juga dapat terjalin. Tidak ada rasa pakewuh dalam benak masyarakat di luar perumahan untuk mengadakan kontak dengan masyarakat di dalam perumahan. Selain itu, sebuah rumah dalam kompleks perumahan tidak ada yang memasang pagar tinggi-tinggi dan rapat (bandingkan dengan perumahan elit di Jakarta) sehingga kontak relasi yang telah ada semakin mudah.

Agama dan kepercayaan yang berbeda-beda tidak membuat situasi rukun berkurang. Mereka yang beragama Katolik misalnya, juga dengan mudah menerima dan diterima dalam lingkungan sosial di dalam kompleks perumahan, maupun dalam kontak dengan masyarakat di luar perumahan. Hal yang mendukung dalam lingkungan perumahan antara lain adalah bahwa ukuran sebuah rumah dalam kompleks perumahan ini cukup luas. Kerapkali dapat dijumpai adanya ruangan yang besar yang dapat menampung banyak orang untuk berkumpul. Tempat yang luas itu menjadi sarana untuk melakukan kegiatan-kegiatan bersama dengan umat lingkungan, bahkan untuk kegiatan bersama dengan umat beragama lain.

 

 

 

B.3. Tingkat Pekerjaan

Umat lingkungan Bangirejo bisa dikatakan tergolong masyarakat menengah ke atas. Banyak yang sudah mapan dan mempunyai pekerjaan yang tetap yang dapat menjamin masa depan. Sebanyak 2,94% bekerja sebagai guru; 19,85% sebagai pekerja swasta; 8,82% sebagai pelajar dan mahasiswa; 3, 66% sebagai buruh; 9, 55% sebagai wiraswastawan, 16,91% sebagai Ibu Rumah Tangga; 2,94% sebagai seorang pensiunan; dan 33,08% tidak kerja (terdiri dari anak-anak usia prasekolah dan mereka yang menganggur). Tidak dapat dipungkiri, tingkat kesejahteraan sebagian besar  umat lingkungan Bangirejo cukup terjamin, tertata, dan pada akhirnya, semakin mendukung proses interaksi antaragama dan juga budaya dengan pola hidup masyarakat setempat.

Salah satu akibat dari kemapanan yang dialami oleh umat katolik Bangirejo adalah rendahnya intensitas tingkat kekawatiran dalam hidup. Kegiatan keagamaan lebih dirasakan sebagai ungkapan rasa syukur karena boleh menikmati indahnya kebersamaan dalam persaudaraan sekalipun umat tidak memiliki hubungan pertalian darah. Kebanyakan memang asli dari kota Yogyakarta pada umumnya, dan lingkungan Bangirejo pada khususnya. Tetapi, meskipun demikian, kebersamaan sudah tercipta dan terus berkembang.

Sebagai contoh, kegiatan mendoakan arwah orang yang sudah meninggal (memule) lebih dirasa sebagai ungkapan pelepasan yang wajar dan malah patut disyukuri; bukannya ditangisi. Perayaan doa arwah memule yang paling dominan disukai adalah memule 1000 hari. Sebabnya, kebanyakan umat telah memiliki jiwa penuh syukur yang tinggi sehingga arwah orang yang sudah meninggal pun juga ikut disyukuri. Terbukti, ciri khas perayaan memule 1000 hari juga banyak disukai. Misalnya, peng-kijing-an dan pelepasan dua burung merpati. Tidak seperti memule 3 hari, 7 hari, 40 hari, dan 100 hari serta 1 tahun, memule 1000 hari ini lebih membangkitkan kembali suasana batin dari umat yang telah ditinggal pergi oleh orang yang telah meninggal.

 

B.4. Tingkat Pendidikan

Pemahaman mengenai iman dan agama juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan umat lingkungan Bangirejo.  Dari seluruh umat lingkungan Bangirejo, tingkat pendidikan yang paling banyak ditempuh adalah SMA atau STM. Prosentasenya adalah 33,82%. Selain itu, sebanyak 6,61% merupakan lulusan Sekolah Dasar; sebanyak 14,70% adalah lulusan SMP; sebanyak 13,98% adalah tamatan Perguruan Tinggi; dan umat yang lain sebanyak 30,89% tidak sekolah. (Data ini sifatnya adalah dalam proses karena banyak umat lingkungan Bangirejo yang adalah anak-anak sedang menjalani proses belajar di sekolah. Tetapi, mereka yang sudah menikah dan tua juga diikutsertakan dalam data).

Pengaruh yang paling nyata dari tingginya tingkat pendidikan adalah proses penularan pemahaman yang begitu cepat. Banyak orang segera mengerti dan paham dengan apa yang diterimanya sebagai informasi karena memiliki kemampuan studi yang cukup. Bila dilihat dalam umat lingkungan Bangirejo, sebenarnya pemahaman iman pun juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dari umat sendiri. Memule lebih dipahami sebagai sesuatu yang perlu karena secara rasional, manusia, demikian juga mereka yang sudah meninggal, tetapi membutuhkan pertolongan orang lain. Terlebih yang meninggal,  diyakini bahwa di dalam proses mencapai kesempurnaan, dalam hal ini adalah surga, arwah mereka membutuhkan doa-doa dari orang-orang yang masih hidup. Doa-doa umat yang masih hidup itulah yang kemudian menjadi sangat penting dalam memule. Jadi, mendoakan memule setidaknya dapat membantu arwah orang-orang yang didoakan, meskipun di luar tujuan minimal ini ada kedekatan persaudaraan yang masih terasa sekalipun mereka yang dekat sudah meninggal.

 

C.        RITUS MEMULE DALAM TRADISI JAWA[6]

Nyewu merupakan slametan atau perayaan yang terakhir untuk mendoakan nyawa atau roh seseorang yang wafat sejauh-jauhnya dan menurut kepercayaan, nyawa itu hanya akan datang menjenguk keluarga pada setiap malam takbiran, dan rumah dibersihkan agar nyawa nenek moyang atau orang tuanya yang telah mendahului ke alam baka akan merasa senang melihat kehidupan keturunannya bahagia dan teratur rapi. Nyewu atau Upacara Mendhak ketiga ini dilaksanakan dengan maksud untuk menyempurnakan semua rasa dan bau hingga semua rasa dan bau sudah lenyap.

Ada beberapa masyarakat yang rupanya menggolongkan tradisi semacam ini, antara lain:

Ø      Golongan bangsawan: takir pentang yang berisi lauk, nasi asahan, ketan kolak, apem, bunga telon ditempatkan distoples dan diberi air, memotong kambing, dara/merpati, bebek/itik, dan pelepasan burung merpati.

Ø      Golongan rakyat biasa: nasi ambengan, nasi gurih, ketan kolak, apem, ingkung ayam, nasi golong dan bunga yang dimasukan dalam lodong serta kemenyan

Peringatan ini dilakukan dengan mengadakan kenduri yang diselenggarakan pada malam hari. Bahan yang digunakan untuk kenduri sama dengan bahan yang digunakan pada peringatan empat puluh hari. Namun ada beberapa bahan yang perlu diadakan untuk memperingati seribu hari meninggalnya ini, yaitu:

Ø      Daging kambing/domba becek. Sebelum dimasak becek, seekor domba disiram dengan bunga setaman, lalu dicuci bulunya, diselimuti dengan mori selebar sapu tangan, diberi kalung bunga yang telah dirangkai, diberi makan daun sirih. Keesokan harinya domba diikat kakinya lalu ditidurkan di tanah. Badan domba seutuhnya digambar pola dengan menggunakan ujung pisau. Hal ini dimaksudkan untuk mengirim tunggangan bagi arwah yang mati supaya lekas sampai surga. Setelah itu domba disembelih dan kemudian dimasak becek.

Ø      Sepasang burung merpati dikurung dan diberi rangkaian bunga. Setelah doa selesai dilakukan, burung merpati dilepas dan diterbangkan. Maksud tata cara ini adalah juga untuk mengirim tunggangan bagi arwah.

Ø      Sesaji, terdiri atas tikar bangka, benang lawe empat puluh helai, jodhog, clupak berisi minyak kelapa dan uceng-uceng (sumbu lampu), minyak kelapa satu botol, sisir, serit, cepuk berisi minyak tua, kaca/cermin, kapuk, kemenyan, pisang raja setangkep, gula kelapa setangkep, kelapa utuh satu butir, beras satu takir, sirih dengan kelengkapan untuk menginang, bunga boreh. Semuanya diletakkan di atas tampah dan diletakkan di tempat orang berkenduri untuk melakukan doa.

Dari beberapa perlengkapan atau syarat yang sudah disebutkan di atas, dalam kebudayaan jawa masing-masing itu ada maknanya, antara lain:

Ø      Tumpeng ungkur-ungkuran : bermakna bahwa mayit telah berpisah antara jasmani dan rohnya.

Ø      Daun kelor atau dhadhap srep : bermakna bahwa mayit yang dimandikan hilang dari dosa-dosanya (simbol daun kelor), jalan menuju Tuhan akan mudah dan akan menjadi damai (simbol daun dhadhap srep).

Ø      Menyembelih kambing : bermakna sebagai tunggangan mayat untuk menuju ke hadapan Tuhan.

Ø      Burung merpati sepasang : bermakna agar mayat diharapkan saat menghadap Tuhan dalam keadaan suci bersih tanpa dosa dan beban.

Ø      Sesajen kenduri : bermakna agar keselamatan selalu mengiringi orang yang meninggal sampai menghadap Tuhan.

Ø      Kelapa muda : mempunyai arti toya wening/toya suci (air yang melambangkan kehingan dan kesucian). Jadi kelapa muda merupakan simbol yang mengandung harapan agar orang yang barusaja meninggal dilimpahi kesucian sehingga dapat segera menghadap Tuhan.

Ø      Payung : Payung merupakan tanda belas kasih cinta sanak keluarga terhadap orang yang baru saja meninggal. Dimaksudkan agar orang yang baru saja meninggal itu tidak kehujanan dan kepanasan selama di liang kubur.

Kembang setaman : bermakna penghormatan kepada jenazah dan untuk mengenang kebaikan-kebaikan yang dilakukannya selama hidupnya dan juga suatu upaya keluarga untuk mendoakan agar arwahnya diterima Tuhan

 

D.       RITUS MEMULE DALAM LITURGI KATOLIK DI LINGKUNGAN BANGIREJO

Berdasarkan hasil wawancara dengan umat di lingkungan Bangirejo, pemahaman bahwa peringatan arwah yang hanya merupakan pengambil-alihan paksa budaya Jawa ke dalam Gereja yang kerap kali dimengerti sebagai bentuk Sinkretisme tidaklah nampak. Pemahaman ini dapat diterangkan melalui pemahaman umat di lingkungan ini bahwa dengan kematian, hidup seseorang tidak dilenyapkan melainkan diubah. Sebab dalam keadaan apapun, entah hidup atau mati kita selalu bersama Tuhan dan milik Tuhan (bdk Rm 14: 8). Itulah keyakinan Gereja katolik pada umumnya dan umat di lingkungan Bangirejo pada khusunya sejak awal mula. Dalam misteri Paskah yakni peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus, kematian seluruh umat manusia menemukan jawaban dan maknanya. Bila orang meninggal dalam Kristus, maka orang “beralih dari tubuh ini untuk menatap pada Tuhan” (2Kor 5:8). Benarlah perkataan ini: “Jika kita mati dengan Dia kita pun akan hidup dengan Dia” (2Tim 2: 11). Maka, umat Bangirejo dengan mantap meyakini bahwa setiap orang yang mati dalam Kristus akan dibangkitkan oleh Allah bagi kehidupan bersama dengannya untuk selama-lamanya.

Umat beriman Katolik di lingkungan Bangirejo mengimani bahwa di satu pihak, Kristus akan membangkitkan semua orang mati pada akhir jaman akan tetapi di lain pihak setiap orang Kristiani telah ikut mengalami kebangkitan Kristus melalui pembabtisan dan Ekaristi kudus. Dengan demikian dalam kehidupan kita sekarang ini orang sudah mulai mencicipi hidup abadi bersama Allah. Namun dengan kematian kehidupan abadi bersama Allah itu dianugerahkan secara penuh oleh-Nya kepada setiap orang yang percaya. Dalam rangka perjalanan kepada kehidupan mulia secara penuh bersama Allah di surga itulah Gereja semesta mendampingi setiap umatnya yang sedang dan telah meninggal dunia melalui segala macam doa dan kesalehan hidup lainnya.

Dasar praktek doa Gereja untuk orang yang telah meninggal dunia menurut penuturan Ibu Suharso yang bekerja sebagai katekis di lingkungan ini terletak pada iman Gereja akan kebangkitan Kristus yang karenanya berkaitan dengan kebangkitan orang-orang mati pula, selain itu juga terletak pada communio sanctorum atau persekutuan orang-orang kudus dalam Gereja. Ibu Suharso mengatakan bahwa Gereja sebagai perekutuan orang-orang kudus merupakan persatuan seluruh umat beriman yang didasarkan pada persekutuan Allah Tritunggal sendiri. Untuk mereka yang telah meninggal dan yang masih menantikan kerahiman Allah inilah doa untuk arwah atau peringatan arwah diadakan.

Doa ini lahir dari keyakinan bahwa Tuhan itu adalah Allah yang penuh belas kasih dan kerahiman dan bahwa persekutuan orang-orang kudus seluruh Gereja entah yang masih hidup ataupun yang telah meninggal tetap saling berhubungan dan saling mendukung dalam doa dan cinta kasih. Pada hakikatnya, semua orang beriman dalam Gereja selalu berada dalam situasi solidaritas persekutuan. Persekutuan seluruh Gereja menunjuk kenyataan bahwa kehidupan dan juga keselamatan kita bukanlah masalah pribadi melainkan urusan bersama. Dan ikatan persekutuan orang beriman bukan hanya terjadi dalam sejarah hidup sekarang ini tetapi juga dalam kematian dan saat mencapai kepenuhan keselamatan dari Allah di surga. Maka kita boleh percaya bahwa di hadapan Allah yang berbelas kasih atas dasar kemahakuasaan dan keabadianNya, setiap doa kita pasi mempunyai daya dan maknanya bagi mereka yang didoakan.

     Sudah sejak awal mula umat lingkungan Bangirejo memiliki kebiasaan untuk mendoakan orang-orang yang sudah meninggal. Bahkan tradisi Gereja universal sendiri nampaknya begitu akrab bagi umat di lingkungan Bangirejo seperti yang nampak dalam tradisi kitab Makabe (2Mak 12: 42-45) yang dilakukan oleh Gereja Katolik yakni menjelang akhir masa Perjanjian Lama, praktek doa untuk orang yang telah meninggal dijalankan. Banyak kesaksian dari para Bapa Gereja hingga ajaran Gereja dan tulisan zaman ini yang mendukung praktek doa untuk orang yang telah meninggal ini. Secara khusus Gereja menyebut doa-doa untuk arwah atau orang yang telah meninggal itu, misalnya dalam Doa Syukur Agung.

     Gereja Katolik amat menghargai budaya setempat dari umat beriman dan menganjurkan agar adat istiadat umat beriman diintegrasikan dalam liturgi dan peribadatan Gereja. Inilah yang kemudian disebut sebagai Inkulturasi dalam Gereja. Di lingkungan Bangirejo dikenal kebiasaan untuk mendoakan arwah menurut rangkaian hari atau tahun sesuai adat Yogyakarta. Kebiasaan ini merupakan merupakan ungkapan iman mereka akan Allah yang melalui Kristus menganugerahkan penebusan dan pengampunan dosa kepada umatNya termasuk saudara-saudarinya yang telah meninggal. Dalam keyakinan iman dan pengharapan seperti itulah dan menurut semangat syukur kepada kebaikan dan kemurahan hati Allah inilah mereka  mendoakan saudara-saudari yang telah mendahului menghadap Allah. Doa peringatan Arwah dalam tradisi Katolik yang biasanya dijalankan di lingkungan Bangirejo biasanya terdiri dari perayaan liturgi atau ibadat untuk peringatan 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, 2 tahun, 1000 hari dan peringatan sesudah 1000 hari.

     Umat Bangirejo merasakan perlunya suatu penjelasan makna budaya diberikan sejauh membantu pemahaman iman Kristiani umat. Dalam peringatan arwah 1000 hari yang biasanya merupakan doa peringatan yang terakhir yang diselenggarakan, doa peringatan ini mau merayakan iman kita akan Allah sumber, asal-usul, tujuan dan kepenuhan segala sesuatu yang ada dan segala sesuatu yang hidup. Seluruh sejarah sejarah kehidupan manusia mengalir dari Allah, bersama Allah dan menuju Allah. Dan pada akhir zaman misteri karya keselamatan Allah yang terlaksana melalui Kristus akan diselesaikan dan dipenuhi dimana “Allah menjadi semua di dalam semua” (1Kor 15: 28). Doa peringatan arwah seribu hari menyatakan iman atas kepenuhan karya keselamatan Allah dalam Kristus dan akan karunia kepenuhan manusia dalam Kerajaan Allah. Selain itu, simbol yang terlihat di dalam peringatan 1000 hari semacam pelepasan burung dara perlu mendapat terang kitab suci dan makna liturgis. Bagi umat Bangirejo, pelepasan burung dara tersebut tidak hanya berarti pelepasan roh orang yang sudah meninggal, tetapi mempunyai makna liturgis yang mendalam yakni seperti Nabi Nuh yang melepaskan burung dara sebagai tanda dimulainya suatu dunia baru, demikian pula yang terjadi dalam peristiwa pelepasan burung dara peringatan 1000 hari meninggalnya seseorang.

Pada akhirnya menurut pandangan umat Lingkungan ini, semua hari yang dipilih sebagai hari peringatan adalah baik sebab Tuhan Yesus telah menebus dunia dengan seluruh isi dan tatanannya. Meskipun pemilihan hari peringatan arwah umumnya tetap boleh diperhitungkan menurut hitungan adat budaya setempat, namun akhirnya keputusan mengenai hari peringatan arwah sebaiknya menurut mereka perlu dipertimbangkan juga menurut segi-segi lain seperti sisi liturgi dan pastoral jemaat serta situasi-kondisi keluarga yang bersangkutan. Selain itu, setiap doa peringatan arwah entah hari atau tahun ke berapa pun dapat diselenggarakan dalam rangka perayaan Ekaristi. Namun, bila tidak diselenggarakan dalam rangka Ekaristi, doa peringatan arwah tersebut dapat diselenggarakan dalam rangka suatu ibadat.

 

E.        KESIMPULAN

Menurut pandangan Cliffrod Geertz, tradisi Religius Jawa, khususnya dari kaum petani, merupakan sebuah campuran unsur-unsur India, Islam, dan unsur-unsur pribumi Asia Tenggara. Tumbuhnya kerajaan-kerajaan besar dan militeristis sumber-sumber beras di pedalaman pada abad-abad pertama masa Kekristenan dihubungkan dengan penyebaran pola kebudayaan Hindu dan Buddha ke pulau Jawa. Ekspansi perdagangan Internasional melalui jalur laut ke kota-kota pelabuhan pantai Utara Jawa pada abad kelimabelas dan keenam belas dihubungkan dengan penyebaran pola budaya Islam. Setelah menemukan jalan ke massa petani, kedua agama dunia ini menjadi tergabung dengan tradisi-tradisi animistis yang mendasarinya yang khas bagi seluruh wilayah kebudayaan Melayu. Hasilnya adalah sinkretisme yang selaras dengan mitos dan ritus yang di dalamnya dewa-dewi Hindu, nabi-nabi Muslim dan para santo, roh-roh dan makhluk-makhluk halus setempat mendapatkan tempat yang layak[7].

Slametan, sebuah perayaan bersama masyarakat Jawa, dinilai sebagai bentuk ritual inti dalam sinkretisme tersebut. Mengapa? Karena pada slametan terdapat perpaduan khas antar unsur tradisi religius maupun dari unsur agama, sehingga sulit diketahui lagi mana yang merupakan unsur asli dari slametan itu sendiri.

 

 

 

E.1. Fenomena Simbol dalam Slametan

Memule sebagai salah satu bentuk slametan di dalam Jawa pun berisi aneka unsur yang macam-macam. Di dalam suatu kenduri bisa saja dimulai dengan pengucapan mantra dalam bahasa Jawa yang memohon supaya uba rampe dan sesaji-sesaji yang dimantrakan diterima oleh pelindung desa itu atau oleh ‘ada’ yang lain, kemudian didoakan dengan cara muslim dengan bahasa Arabnya yang khas.

Di dalam umat Katolik, secara khusus lingkungan Bangirejo juga terdapat praktek slametan memule secara Katolik. Pada peringatan memule ini simbol yang digunakan lebih minim daripada memule pada masyarakat Jawa umumnya. Dari data wawancara, banyak yang mengatakan bahwa peringatan memule biasanya hanya berkumpul, berdoa bersama-sama sesuai dengan buku panduan, dan diakhiri dengan makan bersama yang lebih sebagai tanda syukur atas rejeki yang diterima, tidak dimantrai seperti yang terjadi pada umumnya. Di dalamnya pun tidak ada simbol berupa uba rampe yang didoakan agar diterima, apalagi dengan membakar kemenyan guna menenangkan roh-roh yang dianggap terlibat dalam ritus slametan itu. Doa yang dilantunkan lebih pada doa yang ditujukan kepada Tuhan agar dengan cintaNya menyambut arwah orang yang telah meninggal, dan memohon ketenteraman bagi arwah orang yang meninggal itu.

Upacara tabur bunga dilakukan pada keluarga intern, dan tidak ada ritus khusus untuk hal ini. Mereka pun berdoa secara Katolik dengan membuat tanda salib terlebih dahulu. Pelepasan burung merpati putih yang dipercaya sebagai ritus asli dari tradisi memule seribu hari di Jawa pun jarang sekali diadakan. Barangkali umat sudah merasa cukup dengan berkumpul dan berdoa bersama, sehingga tidak membutuhkan simbol-simbol yang notabene merupakan simbol asli dalam tradisi slametan masyarakat Jawa.

Bila menurut Cliffod Geertz slametan dianggap sebagai bentuk ritual inti dalam sinkretisme, maka sinkretisme itu tersamarkan atau bahkan tidak terlihat dalam peringatan memule secara Katolik, khususnya di Lingkungan Bangirejo. Umat Katolik lebih cenderung menggunakan simbol-simbol asli dari tradisi Gereja Katolik, semacam Salib, Tanda Salib, Lilin menyala, kain putih, dsb. yang terlepas dari simbol-simbol Jawa sendiri semacam mantra atau uba rampe-nya. Dari hal ini berlaku pengertian agama menurut Clifford Geertz, yaitu sebuah sistem simbol-simbol yang bertindak untuk menetapkan suasana hati dan motivasi yang kuat, meresap dan tahan lama dalam diri manusia dengan merumuskan konsepsi-konsepsi tentang suatu tatanan umum eksistensi dan membungkus konsepsi-konsepsi itu dengan suatu pancaran faktualitasnya sehingga suasana hati dan motivasi-motivasi itu tampak khas realistik.

 

E.2. Inkulturasi, Kemenangan Sebuah Tradisi

Dalam menghadapi situasi dunia yang semakin rasional, Durkeim dalam teorinya menjelaskan empat pola bagaimana suatu perubahan sosial dalam masyarakat dapat terjadi (lih. Kerangka Teori). Dalam kenyataan di lapangan, perubahan sosial itu sungguh-sungguh mampu membawa masyarakat untuk semakin berpikir rasional. Ritus-ritus beserta maknanya dikaji ulang dan dinilai rasionalitasnya. Hal-hal yang sungguh-sungguh berbau magis – segala yang berkaitan dengan roh-roh dan jiwa-jiwa – mulai ditinggalkan. Hal ini membawa kemudahan bagi Gereja yang hendak mengadakan inkulturasi dan pembersihan dari berbagai unsur sinkretisme. Umat Katolik di Lingkungan Bangirejo termasuk bagian dari kelompok masyarakat yang mengalami perubahan ini. Upacara memule yang beberapa puluh tahun yang lalu masih penuh dengan unsur sinkretisme seperti sesaji, makanan-makanan khusus, ritual khusus, doa khusus, dan sebagainya kini mulai bersih dari unsur-unsur tersebut. Rumus upacara memule yang disusun oleh Gereja kini menjadi pegangan umat untuk mengadakan upacara tersebut.

Pada peringatan memule secara Katolik, dari segi ritus, alat, dan tatan urutan upacara hampir tidak terlihat unsur inkulturasinya dengan budaya Jawa. Namun bila ditilik lebih dalam, inkulturasi yang terjadi yaitu pada pengambilan ‘waktu suci’-nya, waktu-waktu yang dipakai dalam tradisi Jawa untuk memperingati suatu hal yang dianggap religius atau sakral (peringatan 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, 1000 hari). Dalam peringatan memule secara Katolik, sistem waktu masyarakat Jawa inilah yang dipakai untuk melakukan kegiatan berkumpul dan berdoa. Selain itu bahasa Jawa yang digunakan dalam Liturgi Katolik juga tidak dimaksudkan sebagai suatu bentuk sinkretisme, namun lebih pada sarana agar makna yang terkandung di dalam agama Katolik tersampaikan dan diterima dengan baik oleh umat. Maka dari itu, slametan memule pada umat Katolik lebih cenderung pada bentuk inkulturasi, bukan pada sinkretisme seperti apa yang telah diungkapkan oleh Clifford Geertz dalam teorinya.

 

 

 

F.         DAFTAR PUSTAKA

Clifford Geertz,

1994       The Religion of Java (sebuah etnografi) yang dikutip oleh John Pemberton dalam “Jawa” on the Subjec of “Java”, Cornell University Press: Ithaca, hal 21.

2002       Kebudayaan dan Agama, bab III “Ritus dan Perubahan Sosial: Pemakaman di Jawa, Yogyakarta: Kanisius, 77.

1992       Kebudayaan dan Agama Bab 1 “Agama sebagai Sistem Kebudayaan”, Kanisius: Yogyakarta, 386.

Daniel L. Pas,

1996       Kesakralan Masyarakat Emile Durkheim dalam Seven Theories of Religion (terjemahan), Oxford University: New York, 144

Data Statistik umat lingkungan Bangirejo yang terbaru, tahun 2007-2008. Diambil dari sekretariat Paroki St. Albertus Agung Jetis, Yogyakarta 55241.

Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang,

2007       Peringatan Arwah di dalam Kristus Kita Memperoleh Penebusan, Kanisius, Yogyakarta

Sutrisnaatmaka,

1989       Slametan Jawa dan Ekaristi Gereja” dalam Majalah Rohani.



[1] Clifford Geertz, The Religion of Java (sebuah etnografi) yang dikutip oleh John Pemberton dalam “Jawa” on the Subjec of “Java”, Cornell University Press: Ithaca 1994, 21.

[2] Clifford Geertz, Kebudayaan dan Agama, bab III “Ritus dan Perubahan Sosial: Pemakaman di Jawa, Yogyakarta: Kanisius 2002, 77.

[3] Clifford Geertz, Kebudayaan dan Agama Bab 1 “Agama sebagai Sistem Kebudayaan”, Kanisius: Yogyakarta 1992, 386.

[4] Daniel L. Pas, Kesakralan Masyarakat Emile Durkheim dalam Seven Theories of Religion (terjemahan), Oxford University: New York 1996, 144.

[5] Dilihat dari Data Statistik umat lingkungan Bangirejo yang terbaru, tahun 2007-2008. Diambil dari sekretariat Paroki St. Albertus Agung Jetis, Yogyakarta 55241.

[6] Sutrisnaatmaka, “Slametan Jawa dan Ekaristi Gereja” dalam Majalah Rohani Thn. 1989.

[7] Clifford Geertz, Kebudayaan dan Agama, bab III “Ritus dan Perubahan Sosial: Pemakaman di Jawa”, Yogyakarta: Kanisius, 76.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: