Akhior: Orang Amon yang Diterima dalam Umat Allah

 

Melihat semuanya yang telah dilakukan Allah Israel,

maka Akhior percaya dengan teguhnya akan Allah,

lalu bersunat dan diterima ke dalam umat Israel hingga hari ini.

Yudit 14: 10

 

I.                   Pendahuluan

Teks yang dikutip dari Yudit 4: 10 di atas memperlihatkan suatu hal yang unik dalam sejarah umat Israel. Akhior adalah orang Amon tetapi diterima sebagai anggota  umat Allah secara penuh. Hal itu tentu saja bertentangan dengan dengan apa yang dikatakan oleh Musa dalam kitab Ulangan 23: 3-5.

“Seorang Amon atau seorang Moab janganlah masuk jemaah Tuhan, bahkan keturunannya yang kesepuluh pun tidak boleh masuk jemaah Tuhan sampai selama-lamanya, karena mereka tidak menyongsong kamu dengan roti dan air pada waktu perjalananmu keluar dari Mesir, dan karena mereka mengupah Bileam bin Beor dari Petor di Aram-Mesopotamia melawan engkau, supaya dikutukinya engkau. Tetapi Tuhan, Allahmu, tidak mau mendengarkan Bileam dan Tuhan, Allahmu, telah mengubah kutuk itu menjadi berkat bagimu, karena Tuhan, Allahmu, mengasihi engkau. Selama engkau hidup, janganlah engkau mengikhtiarkan kesejahteraan dan kebahagiaan mereka sampai selama-lamanya.”

Kutipan Ulangan 23: 3-5 tersebut mendapatkan paralelnya di dalam kitab Nehemia 13: 1-2. Hal itu semakin membuktikan betapa seriusnya hukum tersebut bagi bangsa Israel. Larangan bahwa seorang Amon atau seorang Moab untuk masuk dalam jemaat Tuhan bukanlah larangan yang main-main. Aturan tersebut merupakan salah satu bagian dari hukum Tuhan yang disampaikan lewat Musa dan harus dijalankan oleh seluruh umat Israel. Diterimanya Akhior menjadi anggota umat Allah menjadi sebuah peristiwa unik dalam sejarah keselamatan bangsa Israel yang bertentangan dengan hukum Musa tersebut. Mungkin hal ini lebih pada sebuah pengecualian bagaimana orang Amon bisa masuk dalam umat Allah. Tentunya, pengecualian itu tidak akan pernah lepas dari peran Akhior dalam sejarah keselamatan umat Israel, khususnya dari ancaman Holofernes dan para tentaranya.

Paper ini hendak membahas tentang perjalanan Akhior sejak awal hingga Akhior diperbolehkan untuk masuk secara resmi dalam umat Allah, tentang bani Amon dan tentang hukum Isael bagi orang Amon, peran Akhior dalam Keselamatan Bangsa Israel dari ancaman Holofernes yang berpuncak pada kemenangan Yudit atas Holofernes dan pasukannya. Peran Akhior tersebut kiranya menjadi sebuah alasan mengapa Akhior diterima secara resmi dalam umat Allah.

 

II.                 Nama Akhior dalam Kitab Yudit

Tokoh Akhior ditampilkan setelah penulis kitab Yudit menerangkan tentang reaksi orang-orang Israel yang diam di daerah Yudea tentang rencana kedatangan Holofernes dan tentaranya. Di sini mulai terlihat arah penulisan kitab Yudit, di mana  penulis lebih memperlihatkan ketakutan bangsa Israel atas kehancuran kembali Yerusalem dan bait Allah. “Maka mereka sangat ketakutan kepadanya dan gelisahlah mereka oleh karena Yerusalem dan Bait Allah, Tuhan mereka (Yudit 4:2).”  Maka, seluruh umat Israel mengadakan Ibadat untuk meminta pertolongan dari Allah. Ibadat itu akhirnya diterima oleh Allah. “Seruan mereka didengarkan oleh Tuhan yang dengan kasihan memandang kesesakan mereka. Beberapa hari lamanya umat di seluruh Yudea berpuasa dan juga di Yerusalem di hadapan Bait Suci Tuhan Yang Mahakuasa (Yudit 4:13).” Tuhan mendengarkan permohonan orang Israel tetapi pembaca harus membaca beberapa ayat untuk mengenalinya[1]. Maka, tidak terlalu jelas dalam ayat-ayat sesudah ayat tersebut ditampilkan, bagaimana seruan mereka didengarkan oleh Tuhan. Tetapi, penulis langsung mengalihkan pembicaraan mengenai perkabungan yang dilakukan oleh Israel dengan memusatkan diri pada tokoh Akhior. Bisa jadi bahwa seruan Israel itu dijawab oleh Tuhan dengan mengirimkan Akhior, sebelum Allah mengirimkan Yudit yang secara definitif akan mengalahkan Holofernes dan pasukannya.

Nama Akhior dalam Kitab Yudit muncul pada saat Panglima Holofernes, panglima besar bala tentara Asyur, memanggil semua pemuka Moab, para panglima Amon, dan para satrap dari daerah taklukan pantai. “Dipanggilnya semua pemuka Moab, para panglima Amon dan para satrap dari daerah pantai (Yudit 5:2b).” Daerah-daerah itu adalah daerah yang menjadi lawan Israel[2]. Dari merekalah Holofernes berusaha untuk mencari tahu segala sesuatu tentang bangsa Israel. Dalam kitab Yudit diceritakan tentang kemenangan-kemenangan besar yang dialami oleh raja Nebukadnezar atas bangsa-bangsa lain. Dengan seluruh angkatan perangnya, Raja Nebukadnezar hendak menaklukkan bangsa-bangsa di seluruh bumi (Ydt 2:1). Pasukan dikerahkan ke arah Barat sampai kepada bangsa Israel di Betulia. Bangsa Israel menjadi pusat perhatian Holofernes karena bangsa tersebut menjadi satu-satunya bangsa yang menolak untuk menyerah kepada Raja Nebukadnezar. “Mengapa dari antara semua penduduk wilayah Barat, hanya mereka sajalah yang enggan menyambut aku? (Yudit 5:4).” Di sinilah Akhior tampil untuk memberikan penjelasan mengenai segala sesuatu tentang bangsa Israel.

“Maka Akhior, penguasa semua bani Amon menyahut sebagai berikut: Sudilah tuanku mendengarkan perkataan yang hendak diucapkan hamba tuan, maka hamba akan memberi tahukan kebenaran tentang bangsa yang mendiami pegunungan di dekat tuanku ini. Tiada dusta akan keluar dari mulut hamba tuan (Yudit 5: 5).”

Akhior (=saudara terang) tidak hanya seorang Bani Amon. Penulis kitab Yudit menempatkan peran Akhior sebagai penguasa semua Bani Amon. Status Akhior tersebut membawa pembaca pada pertanyaan mengenai apa kepentingan penulis memasukan tokoh pemimpin Bani Amon dalam peran yang justru berpihak pada bangsa Israel yang secara de vacto adalah musuh besar Bani Amon[3]. Akhior di sini lebih merupakan tipe orang Amon yang paham akan panggilan bangsa lain, tampil dengan kerendahan hati dan memberikan kesaksian atas bangsa yang unik itu: Israel[4]. Sebagai seorang pemimpin Bani Amon, ia harus mengenal sungguh-sungguh keadaan musuh-musuhnya. Demikian juga dengan Holofernes. Ia merasa perlu untuk mengenal Israel secara mendalam, baik entis, strategis, politis, sumber kekuatan, dan pemimpin mereka untuk menilai kekuatan suatu bangsa[5]. Dengan melihat itu semua, seorang pemimpin akan dengan mudah menentukan strategi penyerangan. Sebagai musuh bebuyutan, Akhior mengenal Israel lebih dahulu daripada Holofernes. Inilah alasan mengapa Akhior mampu bercerita secara gambang dan jelas mengenai keadaan Israel kepada Holofernes beserta seluruh dewan penasehat dan para tamu undangan Holofernes.

 

 

 

III.              Peran Akhior dalam Kitab Yudit

Penulis Kitab Yudit mengarahkan ceritanya pada tokoh Holofernes dan Akhior. Munculnya kedua tokoh itu memasukkan drama Kitab Yudit  menjadi semakin memuncak. Dalam pertemuan dengan Holofernes dan pasukannya, Akhior memberi kesaksian mengenai bangsa Israel yang tidak mau menyerah kepada Raja Nebukadnezar. Suatu hal yang unik tampil dalam penjelasan Akhior mengenai Israel tersebut. Dalam memberikan penjelasan kepada para hadirin, pada mulut Akhior penulis meletakkan wejangan-wejangan yang mengenangkan sejarah umat Allah. Wejangan Akhior ini mengingatkan nas-nas yang serupa dalam Alkitab, Mzm 78; 105; 106. Dapat dibandingkan juga dengan wejangan Stefanus (Kis 7). Wejangan Akhior ini menyiapkan wejangan yang nanti akan dibawakan oleh Yudit (Yudit 11:9-19). Isi dari wejangan yang disampaikan oleh Akhior dimulai dari cerita mengenai pokok-pokok sejarah bangsa Israel secara ringkas tapi padat, yaitu sejak dari Mesopotamia sampai bangsa Israel menetap di Yerusalem (Yudit 5:6-21), sejak Allah memilih Israel menjadi bangsa yang terpilih, relasi antara Israel dengan Allahnya, hingga pengalaman jatuh-bangun yang dialami oleh Israel dalam menjaga hubungan dengan Allah. Pengenalan yang dalam akan bangsa Israel menghantar Akhior untuk masuk dalam misteri hubungan antara bangsa Israel dengan Allahnya. Hubungan antara Allah dengan bangsa Israel amat jelas diungkapkan dalam penjelasan Akhior.

Selama mereka tidak berdosa kepada Allah mereka, keadaan mereka baik saja karena Allah yang menyertai mereka membenci kefasikan. Tetapi ketika mereka menyimpang dari jalan hidup yang sudah ditentukan Allah bagi mereka, maka mereka dibasmi dengan banyak peperangan yang berlangsung lama sekali. Mereka diangkut tertawan ke negeri yang bukan negeri mereka sendiri. Bait Allah mereka menjadi puing belaka dan segala kota mereka dikuasai oleh lawan-lawan mereka. Oleh karena berbalik kepada Allah maka sekarang mereka sudah kembali dari perantauan di mana mereka telah diceraiberaikan. Mereka kembali memiliki kota Yerusalem. Di sana ada tempat suci mereka. Merekapun menetap pula di pegunungan karena sunyi sepi. Makanya, junjungan tuanku, jikalau pada kaum itu terdapat suatu kesalahan sehingga mereka telah berdosa kepada Allahnya dan kita dapat memastikan bahwasanya sungguh ada batu sandungan itu pada mereka, maka baiklah kita maju untuk memerangi mereka. Sebaliknya, jikalau tidak terdapat suatu pelanggaran pada bangsa itu, maka hendaklah tuanku berjauh saja, sebab mungkin Tuhan dan Allah mereka menjadi perisai bagi mereka, sehingga kita nanti menjadi ternista di hadapan seluruh bumi. (Yudit 5: 17-21)”

Mengagumkan bahwa Musuh Bebuyutan Israel ini justru berperan untuk menunjukkan inti iman bangsa Israel akan Allah yang menjadi pangkal kekuatan bangsa Israel. Akhior tampil sebagai saksi kehidupan religius Israel yang kokoh. Perjalanan suka-duka bangsa itu yang menempa mereka dalam keyakinan iman (lih. Kel 7;12) dilukiskan secara singkat, tepat, dan padat. Di sini menjadi semakin kentara peran dan kekuatan Allah yang mendasari iman Israel:

Maka berserulah mereka kepada Allahnya. Lalu Allah memukul seluruh negeri Mesir dengan bala-bala yang tak tersembuhkan. Karenanya orang-orang Mesir mengusir mereka. Allah mengeringkan Laut Merah di depan merekadan menuntun mereka di jalan menuju gunung Sinai dan daerah Kadesy-Barnea. Lalu semua penduduk padang gurun diusir oleh mereka (Yudit 5: 12-14).”

 

Penjelasan Akhior tersebut merupakan sebuah wejangan bagi Holofernes agar tidak gegabah dalam melawan kekuatan iman dan kesetiaan Yahwe pada Israel. Selama Israel setia kepada Yahwe, maka penyertaan Yahwe akan selalu dialami oleh bangsa Israel. Akhior menujukkan pula kelemahan bangsa Israel, yaitu apabila dalam bangsa Israel ada kejahatan atau ketidaksetiaan, maka Holofernes boleh menghancurkannya. Akhior paham bahwa kesetiaan pada Yahwe inilah yang akan menjadi kekuatan bangsa (Yudit 5:17-19)[6]. Kesimpulannya disampaikan Akhior secara bijaksana, tetapi juga penuh misteri: bila ada kepastian bahwa Israel berdosa, hancurkan saja; dan bila tiada kepastian itu, jauhkan diri[7]. Akhior mengungkapkan inti pokok gagasan kitab Yudit bahwa bukan kekuatan senjata yang menentukan keselamatan, melainkan kekuatan kasih Allah. Di sini dapat dilihat dengan jelas bagaimana Akhior sungguh-sungguh memiliki peran yang amat penting dalam keseluruhan jalan cerita kitab Yudit.

 

IV.              Diterimanya Akhior dalam Umat Allah

Kehadiran Akhior di tengah-tengah pasukan dan pemimpin-pemimpin Holofernes seolah-olah merupakan kehadiran seorang nabi. Sekalipun Akhior tidak membawakan sabda Allah, namun Akhior mampu mewartakan siapa Allah orang-orang Israel. Mendengar penjelasan dari Akhior tentang kekuatan Allah Israel, pasukan dan pemimpin-pemimpin Holofernes menjadi gempar dan ciut hatinya. Perkataan Akhior secara sepintas saja telah menyentuh hati pasukan dan pemimpin-pemimpin Holofernes. Bagi Holofernes, masalahnya menjadi jelas: Siapakah Allah? Bagi Holofernes dan pasukannya, hanya ada Nobukadezar. Lalu siapakah Allah yang dimaksudkan oleh Akhior itu? Di sinilah maksud penulis menjadi semakin jelas. “Setelah Akhior selesai berbicara maka seluruh rakyat yang berdiri di keliling kemah itu menggerutu. Para pembesar Holofernes dan segenap penduduk daerah pantai serta penduduk negeri Moab mengusulkan, supaya Akhior dibunuh saja (Ydt 5: 22).” Sekalipun Akhior menerangkan dengan penuh keyakinan, namun para pembesar Holoferens  menolak nasihatnya; melihat Israel hanya mengandalkan kekuatan Tuhannya, sedangkan Nebukadnezar sendiri memiliki bala tentara yang kuat, mereka yakin bahwa bangsa Israel itu akan dengan mudah dikalahkan. Ada beberapa pertimbangan para pembesar Holofernes di sini[8]. Pertama, pasukan Holofernes tidak mengalami kekurangan kekuatan militer sedikitpun; maka, apa yang dikatakan oleh para pembesar adalah benar. Kedua, itu hanya pernyataan dari seorang Jendran Bani Amon bukannya imam agung Israel, yang mengakui hubungan antara iman dan jaminan keselamatan, dosa dan kehancuran. Ketiga, yang dikatakan Akhior berupa ramalan: ia meramalkan apa yang hendak terjadi.  Penampilan Akhior dan perlakuan Holofernes kepadanya menunjukkan kemiripan dengan Nabi Mikha yang diperlakukan secara kejam oleh Ahab (lih. 1Raj 22:13-28)[9].

Perhatian semakin diarahkan kepada Akhior. Usul Akhior untuk mempertim-bangkan penyerangan kepada Israel secara berhati-hati tidak dihiraukan. Usul dari pasukan untuk langsung menyerang Israel juga tidak dihiraukan. Yang menjadi perhatian adalah tokoh Akhior yang akan disiksa bersama dengan penyerangan Holofernes terhadap Israel. Akhior akan dikirim ke Israel agar Akhior dapat menderita dan mati bersama dengan orang-orang Israel dalam penyerangan Holofernes nantinya. Allah yang diimani oleh bangsa Israel tidak dihiraukan kekuatannya oleh Holofernes; dan Akhior dianggap sebagai nabi yang tidak berbahaya. Holofernes menguji kebenaran penjelasan Akhior tentang kekuatan Allah Israel dengan mengirimkan akhior ke tengah-tengah bangsa itu. Allah akan terbukti berpihak pada Israel jika Israel mampu mengalahkan serangan Holofernes dan pasukannya dan demikian Akhior sendiri akan membuktikan kebenaran kesaksiannya itu.

Akhior ditemukan oleh orang-orang Israel dan kemudian diantar kepada pejabat-pejabat Israel di Betulia. Di sana Akhior memberikan keterangan tentang omongan besar Holofernes yang akan melakukan penyerangan langsung kepada bangsa Israel. Reaksi seluruh rakyat yang mengarahkan diri kepada Allah menunjukkan hubungan perjanjian antara Israel dengan Allah yang disampaikan oleh Akhior kepada Holofernes ( Yudit 5: 7-21); kecuali itu, perhatian kini memang lebih diarahkan bukan pada penderitaan yang akan dialami oleh Israel, melainkan pada penghinaan Holofernes terhadap Allah Israel. Sekalipun merupakan musuh besar Israel, Akhior mendapat penerimaan secara ramah. Penerimaan secara ramah pemimpin Bani Amon ini mengakhiri pembicaraan Akhior untuk sementara. Bagaimanapun juga, tampilnya tokoh Akhior pada drama ini telah mempersiapkan secara matang drama pertentangan antara kekuasaan manusiawi dan kekuatan iman. Akhior dijadikan umpan pertikaian antara Yahwe dan Nebukadnezar[10].

 

V.                Hubungan Israel dan Bani Amon

Penerimaan Akhior oleh bangsa Israel mengundang pembaca untuk kembali melihat ke belakang, bagaimana hubungan Israel dan Bani Amon pada awal mulanya. Asal mula bani Amon dan Moab diterangkan dalam Kej 19: 38; “Yang lebih muda pun melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Ben-Ami; dialah bapa bani Amon yang sekarang.” Nama bani Amon dihubungkan dengan ben’ammi, dalam bahasa Ibrani artinya: anak-anak saudara[11]. Secara singkat dijelaskan bahwa Amon dan Moab yang menjadi nenek moyang bani Amon dan Moab lahir dari ‘perkawinan’ antara Lot dan kedua anaknya. Kedua anak Lot membuat Lot mabuk sehingga Lot menidurinya dan akhirnya kedua anak Lot itu mengandung. Inisiatif kedua anak Lot untuk kawin dengan ayah mereka itu bukanlah sebuah perzinahan, namun lebih-lebih merupakan suatu usaha untuk mempertahankan keturunan Lot.

Sejak pertengahan abad 13 SM, Bani Amon terdiri atas kumpulan suku-suku kecil yang berpusat di sekitar Rabbatth-Amon[12]. Lama kelamaan hingga pada sekitar abar 7 SM suku-suku itu secara definitif bersatu membentang dari Sungai Yabok menuju ke arah timur hingga daerah padang gurun. Sebenarnya, batas Bani Amon tidak terlalu jelas dari daerah Moab dan Edom. Namun, berdasarkan tradisi Kitab Suci, Wilayah bani Amon terletak di sebelah utara kerajaan Sihon, di bagian hulu anak sungai Yabok (lih. Ul 3:16; Yos 12:2). Dalam sejarah diperlihatkan bahwa Amon mengadakan koalisi dengan Moab dan Abimmelekh dalam usaha untuk membantu Eglon, Raja Moab, dalam mendapatkan kembali daerah Moab di Trans-Yordania (lih. Hak 3:13-14). Dalam Hak 10:6-18 diceritakan bahwa Allah menyerahkan Israel kepada Bani Amon. Penindasan terhadap Israel yang dilakukan oleh bani Amon berakhir dalam kepemimpinan Yefta, hakim Israel. Namun dalam pembicaraan antara Yefta dan raja Bani Amon, tampak bahwa pertikaian itu sudah dimulai sejak lama. Demikian penjelasan Yefta kepada raja Bani Amon itu:

“ … Lalu orang Israel mengirim utusan kepada Sihon, raja orang Amori, raja di Hesybon, dan orang Israel meminta kepadanya: Izinkanlah kiranya kami berjalan melalui negerimu ini sampai ke tempat yang kami tuju. Tetapi Sihon tidak percaya kepada orang Israel yang hendak berjalan melalui daerahnya itu, maka dikumpulkannyalah seluruh rakyatnya. Ia berkemah di Yahas, lalu berperang melawan orang Israel. Tetapi TUHAN, Allah Israel, menyerahkan Sihon dengan seluruh rakyatnya ke dalam tangan orang Israel, dan mereka dikalahkan, sehingga orang Israel menduduki seluruh negeri kepunyaan orang Amori, penduduk negeri itu. Demikianlah dimiliki orang Israel seluruh daerah orang Amori itu, dari sungai Arnon sampai ke sungai Yabok dan dari padang gurun sampai ke sungai Yordan. (Hak 11: 19-22).

 

Asal mula pertikaian antara Israel dan Bani Amon tidak terlalu jelas. Tradisi Kitab Suci pun tidak memberikan informasi tentang latar belakang permusuhan tersebut. Dalam kutipan Kitab Hakim-Hakim di atas, terlihat bahwa permusuhan itu dipicu oleh ketidakpercayaan Sihon kepada orang Israel yang meminta izin untuk melewati daerahnya yang ditulis dalam kitab Bilangan 21: 21-30. Bahkan, Raja Orang Amori itu mengumpulkan seluruh rakyatnya untuk berperang melawan orang Israel. Namun Tuhan menyertai Israel sehingga penyerangan terhadap Israel kandas dan daerah kekuasaan Sihon diserahkan oleh Tuhan kepada orang-orang Israel. Nampak-nampaknya, inilah yang menjadi pemicu terjadinya permusuhan sengit antara orang Israel dan bani Amon, sekalipun tidak jelas juga apakah memang peristiwa itu merupakan sebab utama atas pertikaian-pertikaian selanjutnya. Berbagai pengulangan kisah yang sama semacam itu dalam berbagai tulisan Kitab Suci bisa menjadi bukti bagaimana peristiwa itu menjadi peristiwa paling pahit bangsa Israel berhadapan dengan orang Amon.

Permusuhan Israel dengan bani Amon menjadi permusuhan pula antara Allah dengan bani Amon. Musa pun menegaskan sikap Tuhan Allah orang Israel yang tidak mengizinkan orang Israel mendekati bani Amon. “Hanya negeri bani Amon tidak engkau dekati, baik sungai Yabok sepanjang tepinya maupun kota-kota di pegunungan, tepat seperti yang dilarang TUHAN, Allah kita (Ul 2:37).” Pernyataan itu ditegaskan lagi oleh Musa sendiri dalam pidatonya: “Seorang Amon atau seorang Moab janganlah masuk jemaah TUHAN, bahkan keturunannya yang kesepuluh pun tidak boleh masuk jemaah TUHAN sampai selama-lamanya (Ul 23:3).”  Dalam kitab Amos, Allah mengutuk bani Moab atas kesalahan-kesalahannya:

Beginilah firman TUHAN: “Karena tiga perbuatan jahat bani Amon, bahkan empat, Aku tidak akan menarik kembali keputusan-Ku: Oleh karena mereka membelah perut perempuan-perempuan hamil di Gilead dengan maksud meluaskan daerah mereka sendiri, Aku akan menyalakan api di dalam tembok Raba, sehingga purinya dimakan habis, diiringi sorak-sorai pada waktu pertempuran, diiringi angin badai pada waktu puting beliung; dan raja mereka harus pergi sebagai orang buangan, ia bersama-sama dengan pembesar-pembesarnya,” firman TUHAN (Amos 1: 13-15).

Dalam Kitab Amos dikatakan bahwa ada tiga perbuatan jahat bani Amon, bahkan empat, namun dalam Kitab Suci tidak terungkap kesalahan-kesalahan tersebut secara jelas. Kutipan beberapa ayat Kitab Suci di atas menandakan bahwa permusuhan bangsa Israel bahwa bani Amon telah terjadi dalam jangka waktu yang amat lama.

VI.              Penutup

Kemenangan Yudit atas Holofernes dan pasukannya menjadi anti-klimaks dari keseluruhan drama Kitab Yudit. Kekuatan Allah tidak dapat dilawan dengan kekuatan pedang dan bala tentara sekuat apapun. Kesaksian yang disampaikan Akhior kepada Holofernes itu terbukti benar. Akhior sendiri mengalami kebenaran akan kesaksian yang telah diucapkannya itu. Pengalaman iman itu akhirnya menghantar Akhior pada pertobatan yang dalam kepada Allah. Ia mengakui bahwa Allah Israel sungguh-sungguh hidup dan mendampingi umat yang setia kepada-Nya. “Melihat semuanya yang telah dilakukan Allah Israel maka Akhior percaya dengan teguhnya akan Allah, lalu bersunat dan diterima ke dalam umat Israel hingga hari ini (Yudit 14:10).” Menjadi pertanyaan bagi kita, apakah penerimaan Akhior dalam jemaat Allah itu telah mempertimbangan hukum Allah yang disampaikan lewat Musa. Israel adalah bangsa yang amat setia dengan hukum yang telah disampaikan oleh Allah melalui para nabi. Pertanyaan itu tidak bisa dijawab. Yang bisa dilihat di sini adalah keterbukaan hati Akhior bagi panggilan Allah melalui pengalaman rohaninya dan juga keterbukaan umat Allah untuk menerima orang yang bertobat kepada Allah.

Sikap umat Allah di Israel dalam menerima Akhior ini dapat menjadi pegangan bagi Gereja masa kini untuk semakin terbuka pada pertobatan. Secara hukum Gereja memiliki tata aturan yang mengatur segala sesuatu mengenai hubungan manusia dengan Allah melalui Gereja. Namun Gereja sesungguhnya tidak dapat membatasi pengalaman rohani manusia dengan Allah. Hubungan manusia dan Allah bersifat personal. Maka, tindakan pastoral dari Gereja amat dibutuhkan di sini. Dalam kaitannya dengan pengalaman Akhior, pada akhirnya Gereja tidak hanya perlu memiliki sikap terbuka pada orang-orang yang hendak mengikuti teladan Yesus Kristus. Gereja juga harus berusaha mewartakan kasih Allah dalam masyarakat agar mereka pun mampu mengalami kehadiran Allah yang nyata dalam pengalaman hidup sehari-hari.

VII.           Daftar Pustaka

Craghan dan Jerome Kodell,

          1990      Tobit Yudit Barukh, Kanisius: Yogyakarta

George Arthur Buttrick (ed.), 

          1962      The Interpreter’s Dictionary of The Bible, Abingdon: Nashaville

James L Mays,

          1817      Harpers Bible Community, Harper & Row Publisher: Sans Fransisco

Lembaga Alkitab Indonesia,

          2000      Kitab Suci Perjanjian Lama dan Baru, LAI: Arnoldus Ende

Oxford University Press,

            2001    Oxford Bible Commentary, Oxford University Press: New York



[1] Oxford Bible Commentary, Oxford University Press: New York 2001, 636.

[2] Bdk. Kej 19: 30.38; Bil 22-25; Ul 23:4; 1Sam 11: 1 dst; 2Sam 10:1-14; Neh 13:1-3; Yer 49:1-6; Yeh 25:2-11.

[3] James L Mays, Harpers Bible Community, Harper & Row Publisher: Sans Fransisco 1817

[4] John Craghan dan Jerome Kodell, Tobit Yudit Barukh, Kanisius: Yogyakarta 1990, 68.

[5] Oxford Bible Commentary, 636.

[6] Oxford Bible Commentary, 636.

[7] John Craghan dan Jerome Kodell, Tobit Yudit Barukh, 69.

[8] Oxford Bible Commentary, 637.

[9] John Craghan dan Jerome Kodell, Tobit Yudit Barukh, 70.

[10]  John Craghan dan Jerome Kodell, Tobit Yudit Barukh, 71.

[11] Lembaga Alkitab Indonesia, Kitab Suci Perjanjian Lama dan Baru, LAI: Arnoldus Ende 2000, 54.

[12] George Arthur Buttrick (ed.),  The Interpreter’s Dictionary of The Bible, Abingdon: Nashaville 1962, 110.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: