MITOS DAN RITUAL DALAM UPACARA BERSIH DESA

 Oleh : Afrianto Budi Purnomo (FT 3002)

 

I.              Pendahuluan

Jawa Tengah merupakan daerah yang terkenal dengan kesuburan tanahnya. Hamparan padi hijau membentang. Air jernih mengairi dan menyuburkan sawah-sawah. Tidak hanya hasil padi, desa-desa di Jawa Tengah memiliki banyak kekayaan alam. Ingatan akan hal tersebut menghadirkan bayangan masa lalu akan melimpahnya hasil bumi Jawa Tengah beserta segala bentuk pengungkapan religius yang mengiringi masyarakat dalam mengungkapkan rasa syukur atas suksesnya panen kepada Tuhan Maha Pencipta. Ungkapan syukur tersebut terungkap dalam berbagai bentuk ritus dan upacara, misalnya: slametan, bersih desa, papar tunggak, methik panen, dan seterusnya.

Bersih desa menjadi salah satu tradisi di Jawa Tengah berabad-abad  yang lalu, yang tetap dilestarikan hingga saat ini. Praktik ini terus dihidupi oleh masyarakat terutama di pedesaan yang mayoritas bermata pencaharian petani. Bersih desa menjadi ungkapan simbolis ritual dari agama Islam-Jawa dalam bentuk kultis yang mengungkapkan rasa syukur masyarakat atas hasil panen dan segala pekerjaan yang telah diselesaikan dengan baik. Upacar bersih desa merupakan bentuk lain dari upacara selamatan yang menjadi bagian itegral dari tradisi Islam-Jawa, yang menurut John Pemberton dalam bukunya “Jawa” disebutkan bahwa Jawa merupakan suatu daerah yang memiliki kekuatan potensial dalam hal ritual-ritual[1].

 

II.           Mitos dan Ritual  dalam Bersih Desa

Bersih desa merupakan bagian dari tradisi Jawa yang secara umum disebut selamatan (slametan). Slametan merupakan praktik sosio-religius orang Jawa sebagai bentuk perjamuan kerukunan sosio-religius yang diikuti oleh para tetangga bersama dengan para sanak kerabat dan sahabat. Lebih dari itu, acara slametan merupakan suatu usaha menyatu dengan gerakan kosmos alam; yakni untuk mencapai hidup yang selaras dan harmonis dengan siklus alam[2]. Acara slametan bagi kebanyakan orang Jawa sudah menjadi tradisi atau adat istiadat yang turun-temurun dan mengakar dalam masyarakat Jawa. Maka, ada kesan seolah-olah menjadi ‘wajib hukumnya’  bagi sebagian orang. Demikian juga dengan bersih desa. Upacara ini menjadi suatu upacara wajib yang diwariskan dan dilaksanakan secara turun-temurun.

Bersih desa merupakan pesta rakyat yang dilaksanakan sebagai wujud ungkapan syukur rakyat setempat kepada Tuhan Maha Pencipta atas suksesnya segala pekerjaan, terutama panen[3]. Dalam upacara tersebut, rakyat memohon kepada Tuhan agar mereka selalu memperoleh perlindungan dan dihindarkan dari bencana. Upacara ini dilaksanakan secara meriah yang disertai dengan berbagai pertunjukan seperti reog, tarian rakyat, sandiwara, wayang kulit, atau pun berbagai kegiatan oleh raga. Perayaan ini telah ada selama berabad-abad dan merupakan suatu warisan leluhur yang terus terpelihara hingga saat ini sekalipun terjadi berbagai perkembangan dan perubahan[4].

Suatu bentuk ritus dari bersih desa yang menarik dapat dilihat secara detail di Desa Bayat sebagaimana yang telah dituliskan oleh John Pamberton[5]. Masyarakat berkerumun pada lokasi dhanyang di pagi hari; suatu slametan formal di balai kampung siangnya; dan pergelaran wayang kulit semalam suntuk. Sekitar pukul 07.00, penduduk berada di lokasi dhanyang, misalnya sumur besar yang di sebelahnya terdapat pohon asam yang besar, sangat mencekam. Di sana mereka membersihkan sumur dan daerah di sekitarnya. Menjelang pukul 09.00 pagi, tikar-tikar telah digelar di halaman dekat sumur untuk menyelenggarakan slametan. Dihidangkan berbagai jenis makanan. Diselubungi kepulan asap dupa yang tebal, doa dibacakan meminta restu dari dhanyang untuk kampung dan penduduknya serta ‘negara Indonesia’. Setelah doa selesai dilanjutkan dengan makan bersama di mana terjadi suatu ritus berebut makanan. Pada sore harinya, beberapa sesepuh berpakaian formal mendekati sumur sambil membawa beberapa tokoh wayang kulit yang akan dipakai pergelaran malam harinya. Tenggelam dalam kepulan asap dupa, mereka meminta restu dhanyang, membungkukan badan mereka dengan takzim ke arah sumur. Dimulai dari sumur, arak-arakan bergerak memutari kampung searah jarum jam melalui lorong-lorong dan menyeberangi jalan-jalan besar di kota. Acara tersebut mirip karnaval peringatan tujuhbelas agustusan. Pada pukul tujuh petang, slametan resmi diselenggarakan di balai kampung yang dilanjutkan dengan pergelaran wayang kulit semalam suntuk.

Seperti desa-desa di Jawa Tengah pada umumnya, ada kepercayaan terhadap roh-roh penjaga, setan, mahluk halus, dan suatu kekuatan supra-natural. Suatu sikap hormat kepada roh-roh pelindung yang memberikan perasaan sejahtera merupakan fokus dari upacara bersih desa. Sumur, mata air, maupun pohon beringin yang keramat menjadi tempat ritual pada zaman dahulu. Tempat-tempat ini dipercayai sebagai tempat tinggal roh-roh pelindung (dhanyang). Sebagaimana kebanyakan berita tentang bersih desa, di sini mahluk-mahluk halus yag menjaga desa disebut-sebut dalam posisi marginal dibanding Tuhan yang merupakan fokus pusat dari rasa terimakasih untuk kemakmuran yang diespreksikan dalam istilah-istilah perlambangan melalui pembuatan makanan-makanan ritual meski sedang mengalami bencana kekeringan yang meluas[6]. Namun, praktik kuno itu kemudian dipengaruhi oleh Islam-Jawa yang merasuk dalam segala aspek kehidupan. Perayaan ini berpedoman pada penanggalan rembulan Islam-Jawa yang memiliki banyak keragaman dan terkesan idiosinkretik[7]. Pennggaran tersebut, seperti halnya sura (menjadi perayaan suran), menjadi waktu suci di mana terdapat banyak pantangan terutama dalam bertingkah laku di tempat-tempat tertentu yang dianggap suci maupun keramat. Bersih desa yang ditujukkan untuk membangun kembali hubungan dengan dunia roh, terutama roh penunggu atau penjaga desa (dhanyang), dan dengan demikian, seperti peristiwa pasca panen sering dipandang sebagai bersih desa walaupun sering disebut dengan istilah suran. Demikian juga seperti upacara-upacara Suran, peristiwa-peristiwa desa yang dilaksanakan di bulan ruwah juga sering dipandang sebagai bersih desa.

 

III.       Kesimpulan

Tradisi bersih desa mengungkapkan dua unsur penting yaitu mitos dan ritual. Mitos sendiri merupakan tindakan ritual, sesuatu yang diutarakan suatu peristiwa lisan yang terjadi dalam lingkungan masyarakat yang hidup. Penghormatan kepada para dhanyang yang terjadi pada upacara bersih desa dinyatakan melalui ritual-ritual penghormatan yang harus dilakukan oleh masyarakat pada waktu itu. Demikianlah upacara jaman dahulu telah mulai berubah seiring dengan perkembangan pengaruh Islam-Jawa. Dhanyang yang dahulu menjadi fokus penghormatan, kini diganti dengan Allah sang Maha Pencipta. Politik di Indonesa juga turut mempengaruhi berubahnya berbagai acara ritual yang mengiringi upacara bersih desa. Acara bersih desa ditempatkan tidak hanya bertepatan sesudah panen, namun, seperti telah disebutkan di atas bersamaan dengan perayaan suran, atau bahkan di beberapa tempat, bersih desa dilaksanakan bersamaan dengan perayaan hari kemerdekaan Indonesia. Meskipun demikian adanya, upacara bersih desa sungguh mengungkapkan kekayaan pengungkapan iman dan kepercayaan masyarakat Indonesia[8].

Bersih desa menjadi bagian dari kekayaan pengungkapan religiositas bangsa Indonesia. Sekalipun telah mengalami banyak pergeseran, namun fenomenologi agama justru mendapatkan kesempatan untuk dipelajari dan dikembangkan agar kita semakin mampu untuk mewartakan Kerajaan Allah dalam pluralitas dunia yang mengagumkan.

 

IV.        Daftar Pustaka

Pemberton, John.,

2004    Jawa” ditermahkan dari buku On the Subjek of “Java”, Cornell University Press, Ithaca 1994 oleh Hartono Hadikusumo. Mata Bangsa: Yogyakarta 2004.

Mariasusai Dhavamony.,

1995    Fenomenologi Agama diterjemahkan dari buku Phenomenology of Religion Gregorian University Press Roma oleh A Sudiarja dkk, Kanisius: Yogyakarta.

Wawan Susetya.

2007    Ilmu Makrifat Kejawen. Penerbit Narasi: Yogyakarta



[1]  John Pemberton. “Jawa” ditermahkan dari buku On the Subjek of “Java”, Cornell University Press, Ithaca 1994 oleh Hartono Hadikusumo. Mata Bangsa: Yogyakarta 2004, 351.

[2]  Wawan Susetya. Ilmu Makrifat Kejawen. Penerbit Narasi: Yogyakarta 2007, 60-61.

[3]  John Pemberton. “Jawa”, 327.

[4]  Misalnya dalam hal waktu pelaksanaan, mengingat dekatnya tanggal dari bersih desa musim panas dengan Tujuh Belasan, serta akibat pergeseran menyeluruh dari zaman orde baru, maka kedua peristiwa desa tahunan itu semakin sering dilaksanakan bersama-sama. John Pemberton. “Jawa”, 331.

[5]  John Pemberton. “Jawa”, 352.

[6]  John Pemberton. “Jawa”, 329.

[7]  John Pemberton. “Jawa”, 331.

[8]  Mariasusai Dhavamony. Fenomenologi Agama diterjemahkan dari buku Phenomenology of Religion Gregorian University Press Roma oleh A Sudiarja dkk, Kanisius: Yogyakarta 1995, 178.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: