Perbandingan Sinoptik: Ibu dan Saudara-Saudara Yesus

 

Jawab Yesus kepada mereka, “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?”

(Mrk 3: 33)

 

Ibu mana yang tidak kaget mendengar anaknya berkata demikian? Untunglah Maria tidak mendengarnya ketika Yesus berkata demikian. Jauh-jauh Maria, Ibu Yesus datang bersama saudara-saudaraNya untuk mengajak Yesus pulang agar Yesus mendapat ‘ketenangan jiwa’[1]. Berbagai berita tentang Yesus telah tersebar di seluruh penjuru Palestina[2]. Pengajaran dan karya Yesus membawa daya pikat[3] yang luar biasa bagi orang-orang di Palestina. Namun tidak jarang, pengajaran dan karya Yesus memunculkan kontroversi[4] (berlawanan, dalam bahasaku à melawan apa yg diajarkan oleh Yesus),  bahkan oposisi[5] (perlawanan, pertentangan à dalam bahasaku: orang yang berseberangan) dengan para Ahli Taurat[6], orang Farisi, dan Herodian. Dalam hal ini, ibu Yesus dan saudara-saudara Yesus menempati posisi sebagai orang yang juga beroposisi terhadap Yesus[7]. Dalam Markus, mereka tidak mengerti apa yang sedang diperjuangkan oleh Yesus. Karenanya, mereka menganggap Yesus membutuhkan ketenangan jiwa dan mencari Yesus untuk membawaNya pulang ke Nazaret.

 Dalam Markus (dan juga diikuti oleh Matius) diungkapkan dengan jelas bagaimana Yesus menanggapi kedatangan Maria dan saudara-saudaraNya dengan nada yang kurang lebih negatif. Akan tampak dalam Injil[8] Lukas di mana konsep semacam itu diperbaiki oleh pengarang injil Lukas. Lukas menempatkan ibuNya dan saudara-saudaraNya dalam kelompok yang mengikuti Yesus. Gambaran Lukas lebih positif daripada Markus dan Matius. Mengapa bisa berbeda? Inilah persoalan sinoptik yang hendak dibahas dalam paper ini[9].

Melihat Konteks Persoalan Sinoptik

(Mat 12: 46 – 50, Mrk 3: 31 – 35, Luk 8: 19 – 21)

Kisah sebelumnya: Yesus dan Beelzebul (Mrk 3: 20-30)

3:20 Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makan pun mereka tidak dapat.

3:21 Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.

3:22 Dan ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata: “Ia kerasukan Beelzebul,” dan: “Dengan penghulu setan Ia mengusir setan.”

3:23 Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan: “Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis?

3:24 Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan,

3:25 dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan.

3:26 Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya.

3:27 Tetapi tidak seorang pun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu.

3:28 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan.

3:29 Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal.”

3:30 Ia berkata demikian karena mereka katakan bahwa Ia kerasukan roh jahat.

 

31 Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia. 32 Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya, “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.” 33 Jawab Yesus kepada mereka, “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” 34 Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! 35 Siapa saja yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku.” (Mrk 3: 31 – 35).

Dalam Markus, teks itu ditempatkan persis setelah kisah Yesus dan Beelzebul. Markus menempatan teks ini secara strategis dan logis[10]. Maksudnya, kisah tentang ibu dan saudara-saudara Yesus ditempatkan setelah Yesus secara berturut-turut terlibat dalam kontroversi dengan orang Farisi dan Ahli Taurat dan terutama dalam konteks ketidakmengertian orang-orang terhadap pengajaran Yesus dalam kisah Yesus dan Beelzebul.[11] Kontroversi tersebut meliputi dua hal. Pertama, mengenai sikapnya terhadap pendosa[12]. Yesus mengampuni orang berdosa (Mrk 2: 1 – 12). Inilah kontroversi awal yang disajikan oleh Markus. Tuduhan menghujat Allah ini nantinya akan menjadi salah satu tuduhan yang disampaikan dalam pengadilan Yesus. Rupa-rupanya, setelah Yesus semakin berpengaruh di kalangan masyarakat dan ditambah lagi dengan peristiwa ‘Yesus menghujat Allah dan mengaku sebagai Anak Manusia’, orang-orang Farisi membuntuti Yesus dan mengawasi apa yang dilakukan oleh Yesus dan para muridNya. Kontroversi kedua berkaitan dengan sikap Yesus terhadap hukum Yahudi: Yesus dan para murid tidak berpuasa pada saat orang lain berpuasa (Mrk 2: 18 – 22), murid-murid Yesus melanggar hukum Sabat dengan memetik gandum pada hari Sabat (Mrk 2:23 – 28), dan Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat (Mrk 3: 1 – 6). Kontroversi itu berlanjut pada suatu persengkongkolan dengan para Herodian untuk membunuh Dia (Mrk 3:6).

Rencana untuk membunuh Yesus memperlihatkan suatu ketidakmengertian orang-orang akan apa yang diperjuangkan oleh Yesus dalam setiap karya dan pengajaranNya. Itulah yang hendak ditunjukkan secara khusus oleh pengarang Markus. Ketidakmengertian itu amat tampak dalam kisah Yesus dan Beelzebul. Orang-orang yang tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya diperjuangkan Yesus menganggap Ia tidak waras  dan kerasukan Beelzebul dan dengan penghulu setan Ia mengusir roh-roh Jahat (Mrk 3: 21 – 22). Ketidakmengertian[13] itu pulalah yang akhirnya membawa Ibu dan saudara-saudara Yesus datang mencari Yesus.

Keterangan tersebut diatas tidak bisa digunakan begitu saja ketika kita membaca perikop yang sama dari Injil Lukas. Maria dan saudara-saudara Yesus tidak lagi ditampilkan sebagai orang-orang yang tidak mengerti atas apa yang sedang diwartakan oleh Yesus[14]. Lukas tampak begitu banyak memperbaiki teks Markus yang dijadikannya sumber tulisannya. Demikianlah terjadi persoalan sinoptik di sini; mengapa kedua perikop tersebut tampak ada perbedaan yang amat berarti sekalipun berdasarkan teori dua sumber Markus menjadi sumber utama dari Matius dan Lukas? Untuk apa Lukas menghilangkan beberapa ayat yang diambilnya dari Markus? Berbagai persoalan tersebut akan dicoba dijawab di sini. Untuk mengetahui persoalan sinoptik[15] secara lebih dekat, berikut ini adalah tabel perbandingan antara Injil Markus, Matius, dan Lukas.

 

Matius 12: 46 – 50

Markus 3: 31 – 35

Lukas 8: 19 – 21[16]

12:46 Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia.

12:47 Lalu seseorang berkata kepada-Nya, “Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.”

12:48 Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya, “Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku?”

12:49 Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!

12:50 Sebab siapa saja yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku.”

3:31 Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia.

3:32 Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya, “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.”

 

3:33 Jawab Yesus kepada mereka, “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?”

 

3:34 Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!

3:35 Siapa saja yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku.”

8:19 Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mendekati Dia karena orang banyak.

8:20 Orang memberitahukan kepada-Nya,

 

“Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.”

 

 

 

 

 

 

 

 

8:21 Tetapi Ia menjawab mereka, “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.”

Teologi Markus, Matius, dan Lukas[17]

Perikop Yesus dan Sanak-SaudaraNya di atas ada dalam ketiga Injil sinoptik. Sesuai dengan teori dua sumber, maka dapat disimpulkan bahwa Matius dan Lukas mengambil perikop tersebut dari salah satu sumber pokoknya, yaitu Lukas. Meskipun demikian, ketiga pengarang Injil bukanlah seorang kompilator. Pengarang Injil adalah seorang teolog yang mau mengungkapkan teologinya dengan ciri khas masing-masing. Setiap teolog menjelaskan dan mengartikan pertistiwa Yesus secara berbeda sesuai dengan apa yang mereka lihat, mereka percayai, dan juga sesuai dengan konteks kebutuhan akan pewartaan jemaat pada WAKTU itu. Dalam hal ini, waktu penulisan amat mempengaruhi perbedaan konsep teologi dalam ketiga Injil Sinoptik. Faktor waktu penulisan menjadi aspek penting akan adanya perbedaan konsep teologi dan rumusan masing-masing Injil. Meskipun demikian, tetap ada konsep teologis dan juga rumusan yang tetap dipertahankan oleh Lukas dan juga Matius.

Persitiwa ini dituliskan dalam Injil Lukas sesudah perumpamaan tentang seorang penabur, berlainan dengan urutan dalam Injil Markus. Perikop tentang penabur itu sepertinya sengaja ditempatkan oleh Lukas, seperti halnya yang terdapat juga dengan ayat 16 – 18. Hal ini menjadi jelas apabila kita membandingkan Mrk 3: 35 dengan Lukas 8: 21. Ungkapan “Siapa saja yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku” dalam Markus diubah oleh Lukas menjadi “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” Kedua teks yang berbeda itu dapat dianggap sama. Yang dimaksukan Lukas dengan istilah ‘firman Allah’ tidak lain adalah ‘kehendak Allah’ itu sendiri. Tetapi rumusan yang dipilih Lukas mengingatkan kita secara langsung pada perumpamaan tersebut, khususnya dalam ayat penutupnya: “Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan” (ayat 15). Menjadi jelas di sini apa yang menjadi inti dari bagian ini: di antara pengikut-pengikut Yesus (di dalam Gereja) ada hubungan kerohanian yang lebih penting dari hubungan kekeluargaan yang berdasarkan darah atau dari hubungan-hibungan lain di dunia ini (suku, bahasa, kaum, dan bangsa)[18]. Pesekutuan sejati terjadi ketika orang-orang berusaha mendengarkan dengan sungguh-sungguh apa yang hendak dikatakan Allah kepadanya dan menjalankan apa yang didengarnya itu.

Yang hendak diungkapkan Markus mengenai perikop tersebut adalah bahwa yang benar-benar dapat dianggap sebagai saudara laki-laki dan perempuan adalah mereka yang melakukan kehendak Allah. Yesus mengharapkan mereka memiliki dedikasi yang sama terhadap kehendak Allah seperti Dia. Dedikasi demikianlah yang dapat menghantar kepada pertengkaran dengan orang-orang seperti ahli kitab dari Yerusalem. Ia tampaknya kurang waras bagi orang lain, bahkan juga oleh keluarganya sendiri. Tetapi, bagi Markus, inilah artinya menjadi “keluarga” Yesus[19].

Dalam kaitannya dengan perikop yang diperbandingkan di atas, Matius tampaknya mengadopsi teologi Markus. Menurut  Markus, ibu dan saudara-saudara Yesus digambarkan sebagai orang yang tidak mengerti apa yang diajarkan oleh Yesus. Bahkan keduabelas murid Yesus selalu saja ditampilkan sebagai orang-orang yang tidak kunjung memahami apa yang diajarkan Yesus. Namun, cerita Matius tidak berisikan kritikan langsung terhadap keluarga Yesus; keluarga Yesus hanya dipergunakan untuk menekankan bahwa mereka yang menaati kehendak Allah adalah keluarga Yesus[20].

Lukas dengan jelas menghilangkan bagian-bagian yang memunculkan kesan negatif terhadap ibu dan saudara-saudara Yesus tersebut. Lukas memperbaiki citra ibu dan saudara-saudara serta murid-murid Yesus yang ditampilkan secara kurang lebih negatif dalam injil Markus. Kunjungan dari keluarga Yesus memberi kesempatan bagiNya untuk menekankan kepada para muridNya bahwa hubungan yang fundamental dengan Dia tidak hanya didasarkan para ikatan darah atau hubungan duniawi lainnya, melainkan melalui mendengarkan dan melaksanakan sabda Allah[21]. Dengan menghilangkan ayat 33 dan 34 dari sumbernya, Lukas hendak memberi informasi penting yang ada dalam tulisannya yang kedua, yaitu pada Kis 1: 14 bahwa ibu dan saudara-saudara Yesus termasuk dalam kelompok mereka yang mendengarkan sabda Allah[22]. “Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus dan saudara-saudara Yesus” (Kis 1:14). Mereka menjadi model bagi mereka yang mendengarkan sabda Allah dan melaksanakannya. Terutama tentang Maria, Lukas sungguh-sungguh menampilkan Maria secara amat positif dan itu sudah dilakukannya dalam beberapa perikop dalam rangkaian kisah kanak-kanak.

Secara jelas Lukas menampiklan keunggulan Maria melalui cara hidup dan sikap hatinya yang miskin dan rendah hati di hadirat Allah yang ditampilkan dalam kisah kanak-kanak. Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Maria digambarkan sebagai orang yang taat pada sabda atau kehendak Allah. Kidung Magnificat semakin jelas membuktikan bahwa Lukas sungguh-sungguh memiliki gambaran akan Maria, ibu Yesus secara amat positif, yaitu Ibu Yesus yang memiliki sikap rendah hati dan sekaligus hormat kepada Allah. Dalam Magnificat, Maria sepenuhnya merealisasikan “orang-orang miskin dan rendah hati” yang dahulu dijanjikan penyelamatan oleh Allah. Melalui Maria dan di dalam Yesus Kristus yang lahir dari Maria, janji Allah itu mencapai kepenuhannya[23]. Maria mengambil peran dalam teologi Lukas yang hendak menampilkan Yesus yang menjadi kepenuhan akan janji Allah kepada umat manusia dan Maria memiliki peran yang amat penting di sana.

Refleksi

Yesus kerap kali menggunakan momen-momen tertentu untuk memberikan pengajaran kepada para muridNya. Tampak jelas dalam Injil bagaimana Yesus justru menggunakan berbagai kritikan dan pertanyaan yang tujukan untuk memojokkan Yesus untuk menyatakan ajarannya. Demikian juga kunjungan ibuNya, Maria dan saudara-saudara Yesus digunakan oleh Yesus untuk menyatakan tentang siapa saudara-saudara Yesus. “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya” (Luk 8: 21). Kunjungan dari keluarga Yesus memberi kesempatan bagiNya untuk menekankan kepada para muridNya bahwa hubungan yang fundamental dengan Dia tidak hanya didasarkan para ikatan darah atau hubungan duniawi lainnya, melainkan melalui mendengarkan dan melaksanakan sabda Allah. Berbagai tokoh dalam kitab suci dapat dipakai sebagai teladan orang-orang yang disebut keluarga Allah karena mereka mendengarkan dan melaksanakan sabda Allah dalam hidupnya sehari-hari.

 

 

Daftar Pustaka

Boland, B.J.  dan P.S. Naipospos,

1970    Tafsiran Alkitab LUKAS, Balai Penerbit Kristen: Jakarta

Dianne Bergant dan Robert J. Karris (ed.)

2002    Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, Kanisus: Yogyakarta

Eddy Kristianto,

1987    Maria dalam Gereja, Kanisius: Yogyakarta



[1] B.J. Boland dan P.S. Naipospos, Tafsiran Alkitab LUKAS, Balai Penerbit Kristen: Jakarta 1970, 173. Latar belakangnya ada pada perikop Yesus dan Beelzebul, Mrk 3: 21 “Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.”

[2] Mat 4: 25: Maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan.

[3] Daya pikat: para murid tinggalkan segalanya u/ ikut Yesus, orang2 takjub, orang-orang dating dari segala penjuru.

[4] KontroversiL pengampunan dosa, pergaulan dgn orang berdosa, puasa, sabat (sikap thdp hokum Yahudi)

[5] Oposisi: dgn ahli taurat, ahli taurat dr kelompok farisi, kaum herodian

[6] Ahli taurat datang dari Yerusalem (diutus?)  Mrk 3:22.

[7] Ini masuk dalam ciri bagian kedua Mrk yaitu ketidakmampuan orang untuk mengerti apa yg diajarkan oleh Yesus. Karenanya ikut2an mengganggap Yesus tidak waras. Mengapa mereka beroposisi juga? Lih Mrk 3:23: yg menganggap Yesus Kerasukan Beelzebul, dan dengan penghulu setan Ia mengusir setan ya…hanya Ahli Taurat yang datang dari Yerusalem itu. Dan, keluarga Yesus sejalan dengan mereka dalam hal ini: menganggap Yesus tidak waras lagi.

[8] Injil (avanggelizomai – terjemahkan bissar(Ibr:mewartakan kabar baik) : pesan2 yg diwartakan oleh jemaat kristen ttg hidup, wakat, dan kebangkitan Yesus. Kedua, Tulisan tentang Yesus. tradisi lisan à tradisi tertulis à susunan/peredaksianà kanonisasi. Thn 30-65 periode apostolik. Lukas:tahun 65-150 sebagai periode sub-apostolis/post apostolis,ditandai dgn meninggalnya tiga tokoh Jemaat Perdana (Petrus, Yakobus, dan Paulus). Apa yg membuat jemaat kristen menuliskan pewartaan mereka tentang Yesus? Faktor terpenting: penundaan (ketidakdatangan) parusia (kedatangan Yesus Kembali). Akibatnya, org kristen harus menginterpretasi dan mempelajari kembali pesan dan pengajaran Yesus. Faktor kedua: kematian para rasul dan saksi mata. Ketiga: penyebaran iman kristen. Kebutuhan yg mendorong penulisan: liturgi,pengajaran, seruan moral,seruan peneguhan, disiplin aturan2 praktis dlm jemaat,pewartaan,polemik, apologia.

[9] Problem sinoptik: 3 hipotesis awal:inspirasi rohKudus (><Yoh  beda?),catat scr akurat, tradisi lisan, tradisi tertulis (hip. Griesbach àmat Injil pertama; teori dua sumberàprioritas markus-pendek,Yunani jelek,ungkapan sulit dan Mat&luk jelaskan itu,teologi lbh jelek dr MtLuk).

Kritik yang digunakan: kritik redaksià berusaha untuk mengerti bagaimana seorang penginjil mengubah atau memodivikasi sumber-sumber penulisannya, bagaimana ia membuat jembatan untuk menghubungkan unit-unit yang semula terpisah. Kritik bentuk à mempelajari fungsi dan sejarah masing-masing kisah dan ucapan yg tertulis dalam injil sebagaimana mereka digunakan dalam komunitas religius sebelum bentuk,tempat, dan penggunaan mereka dalam injil sekarang ini.

[10] Maksudnya, pengarang Injil tidak asal-asalan untuk menempatkan kisah-per-kisah karena ada sesuatu yang hendak disampaikan kepada pembaca. Setiap penginjil adalah penulis yg cerdas yg menempatkan setiap bagian tulisan untuk membangun sebuah kesatuan yang mampu mengekspresikan pewartaan mereka. Dan memang akan tampak kelihatan alasan mengapa Yesus dicari oleh ibu dan saudara-saudaranya. Atau dengan kata lain, perikop Yesus dan sanak saudaranya tidak bisa lepas dari perikop sebelumnya.

[11] Matius mengikuti alur Markus dengan menempatkan peristiwa Yesus dan Sanak saudaraNya setelah kisah Yesus dan Beelzebul. Lukas mengubah alur Markus dengan menempatkan kisah Yesus dan Beelzebul jauh setelah kisah Yesus dan sanak-saudaraNya.

[12] Yesus mengampuni dan makan bersama dgn orang berdosa

[13] Ketidakmengertian: menyangkut rahasia mesias à pribadi Yesus menjadi misteri bg mereka (kekhususan Markus). Ada 3 alasan untuk itu: penjelasan historis (Yesus mmg mengenali diriNya sbg mesias tp bkn Mesias dlm konsep mereka; penjelasan tradisional (RM buah refleksi gereja); penjelasan redaksional (RM digunakan Mrk untuk menampilkan pandangan Kristologisnya.

[14] Di dalam Lukas, perikop Yesus dan sanak saudaraNya pun ditempatkan secara logis dan kronologis, tidak asal-asalan. Kisah ini didahului dengan perumpamaan tentang seorang penabur dan perumpamaan tentang seorang pelita. Kedua-duanya membicarakan masalah yang sama yaitu sabda dan orang yang mendengarkan sabda.

Perumpamaan (parabole: sejajarà mempermudah dan melibatkan pembaca) tentang seorang penabur: Allah menaburkan sabdaNya dalam diri setiap manusia dan berharap sabda itu akan tumbuh.

Makna perumpamaan ttg pelita: Yesus tidak ingin merahasiakan sesuatu pun tapi ingin agar pesannya tersampaikan.

[15] Persoalan sinoptik: kenapa ketiganya begitu mirip baik gaya,isi,susunan,dan pemakaian kata2nya (kesamaan POLA DASAR: Pembukaan, Perjalanan dari Galilea menuju Yerusalem, hari2 terakhir Yesus di Yerusalem), tetapi juga mengapa keduanya berbeda satu sama lain, mengapa mereka tidak menyalin dengan tepat? Gejala sinoptik: adanya kedekatan antar ketiganya.

[16] Sumber Lukas dan Matius adalah Markus. Mereka  menambahi (small and big Interpolation) dan mengurangi (small and big omission).

[17] Mengapa bisa berbeda/mengapa bisa terjadi persoalan sinoptik, Mgr. Haryo dlm bukunya hal 36-37 mengatakan: mereka punya pandangan tertentu, mereka memperbaiki, memperpendek atau menghaluskan, mungkin dengan maksud untuk membuat bahan tersebut lebih mudah diterapkan dalam lingkungan orang yang memakai bahan itu.

[18] B.J. Boland dan P.S. Naipospos, Tafsiran Alkitab LUKAS, 173.

[19] Dianne Bergant dan Robert J. Karris (ed.), Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, Kanisus: Yogyakarta 2002, 87.

[20] Dianne Bergant dan Robert J. Karris (ed.), Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, 53.

[21] Dianne Bergant dan Robert J. Karris (ed.), Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, 131.

[22] “di dalam” dikontraskan dengan “di luar” à Mrk: menempatkan itu dlm konteks kontroversi, Lukas menempatkan itu dlm konteks penjelasan tentang firman Allah: sekali lagi Yesus berbicara tentang firman Allah. Firman mesti didengar dan dilakukan oleh mereka yang mendengarkannya. Mendengarkan dan melaksanakan firman Allah merupakan jalan untuk tinggal dalam kesatuan (keluarga) dengan Yesus.

[23] Eddy Kristianto, Maria dalam Gereja, Kanisius: Yogyakarta, 1987, 33.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: