Ringkasan Filsafat Ketuhanan (kisi-kisi 1-14)

 Rm Purnomo MSF

 Karingkes Dening Aan ST

 

1.      Jelaskan kekhasan: filsafat ketuhanan, fenomenologi agama, dan teologi (suci)! Dan mengapa kadang-kadang orang menyatakan bahwa Allah para filsuf adalah berbeda dengan Allah yang hidup, yaitu Allah yang dikenal dalam agama. Mengapa hubungan antara filsuf dan teologi kadang disebut sebagai hubungan cinta-benci yang aneh?

 

·         Kita mengadakan refleksi tentang Allah melalui berbagai cara dan ilmu: fenomenologi agama, psikologi agama, sosiologi agama, teologi. Refleksi tentang Allah dalam filsafat juga disebut dalam berbagai nama: teologi kodrati, teodise, filsafat ketuhanan.

·         Teologi kodrati (theologia naturalis)/ teologi suci: istilah teologi berasal dari dua kata Yunani Theos (Allah) dan logos (perkataan), ditemukan dalam tulisan Aristoteles (384-322). Itu berarti “pengetahuan pertama” mengenai causa prima, sebab pertama atau sebab yang tidak disebabkan. Kata naturalis berasal dari kata Latin natura-nasci-natus, yang dilahirkan atau dijadikan: menyangkut alam semesta menurut kodratnya yang dijadikan, maka dibedakan dari wahyu.

·         Filsafat ketuhanan adalah suatu penelitian rasional tentang eksistensi Allah dan apa yang dapat ditangkap dari kodrat dan sifat-Nya. Filsafat ketuhanan menelaah Allah sebagaimana yang dikenal oleh akal budi. Sebagai puncak metafisika, disebut metafisika khusus, untuk membedakannya dengan metafisika umum yang membahas mengenai ada pada umumnya. Filsafat ketuhanan berbeda dengan teologi, atau kadang-kadang disebut teologi suci, yang juga berbicara tentang Allah. Namun teologi berbicara tentang Allah dalam terang pewahyuan berdasarkan iman, sedangkan filsafat ketuhanan lebih berdasarkan akal budi.

·         Jika ada dua ilmu yang berbeda, yaitu filsafat ketuhanan dan teologi, maka apakah dengan demikian ada Allah untuk para filsuf dan ada Allah untuk para teolog? Apakah ada Allah para filsuf dan Allah Abraham, Ishak, dan Yakub? Ungkapan ini diajukan oleh B. Pascal yang menurut dia memperlihatkan adanya dikotomi antara Tuhan para filsuf yang berefleksi tentang Allah melalui akal budi dan Tuhan para teolog atau agamawan yang berbicara tentang Allah dari iman murni. Sering kita mendengar pemisahan ini. Namun sebenarnya hal ini tidak mengena pada masalahnya dan justru berbahaya karena seakan-akan ada dua Allah. Tidak benar bahwa orang bersikap kritis filosofis atas dasar akal budi murni atau bersikap religius atas dasar iman saja. Kita tidak harus memilih salah satu. Karena agama yang dihayati oleh manusia harus bersikap kritis, dan dalam arti tertentu masuk akal, rasional. Meski kerasionalannya bukan satu-satunya segi agama.

·         Melihat bahwa dalam kenyataan hanya ada satu Allah yang ditelaah dalam berbagai bidang ilmu, khususnya filsafat dan teologi, maka tidak mengherankan bahwa bisa terjadi hubungan yang aneh antara filsafat dan teologi. Vincent Brummer menggarisbawahi hubungan khas ini ungkapan adanya hubungan cinta dan benci.

Between theologians and philosiphers there has often been a trange love-hate relationship. On the one hand, philosophers have a fundamental interest in those features of human exsistence on which theologians reflect, while theologians are very much dependent on the methodological tools which philosiphers provide. In fact, as we shall argue below, systematic theology can itself be interpreted as largely a philosiphical enterprise. On the other hand, howefer, philosophers have often demended that relogious believers justify their thruth claims by standarts of rationality which these claims can never meet to the satisfication of philosophers, and which many theologians consider to be quite inappropriate to the nature of claim in question. In their view religious belief must be judged on its own terms and does not require any extraneous philosophical foundations or justifications.

·         Brummer berpendapat bahwa teologi kodrati atau teologi filosofis bukan untuk mencari bukti kebenaran atau kepasluan iman (Kristiani), atau untuk menemukan dasar-dasar rasional yang netral akan pembenaran pengakuan atau penyangkalan iman Kristiani atau yang lain. Tugasnya adalah untuk menyelidiki persoalan-persoalan semantis dan hermeneutik tentang makna dan interpretasi iman: apa implikasi dan pengandaian atas konsep-konsep fundamental iman dan bagaimana tuntutan iman dapat ditafsirkan dalam cara yang koheren dan relevan. Segi normatif inilah yang membedakannya dari Fenomenologi Agama. Maka kekhasan fenomenologi agama adalah memahami lambang-lambang keagamaan, metamor, suatu tugas hermeneutik. Tugas filsafat agama adalah menyelidiki cara berpikir religius dan menentukan status logika dan permasalahannya. Maka filsafat agama tidak hanya meneliti Allah tetapi seluruh bidang agama; bukan hanya metode rasional tetapi juga fenomenologis à menganalisa konsep: suci, Allah, keselamatan, doa, kurban, ritus, dll.

 

2.     Kita menyaksikan adanya semacam kebangkitan kembali masalah ketuhanan pada abad ini. Coba terangkan, alasan umum dan alasan yang lebih dekat sehingga hal itu menjadi pertanyaan filosofis yang mendesak!

 

Kecenderungan para filsuf sejak 5 abad yang lalu adalah untuk menghilangkan masalah ketuhanan dari filsafat. Tetapi sampai sekarang mereka masih mengalami masalah tersebut. Filsafat telah ‘memanggil’ masalah ketuhanan dari pengasingan. Ada dua alasan kenapa masalah itu muncul kembali pada masa kontemporer ini:

Alasan umum munculya kembali masalah ketuhanan:

Dalam kenyataan setiap orang berpikir mau tidak mau terbawa kepada pertanyaan tentang arti kehidupan, serta arti kehidupan manusia pada khususnya. Dari pernyataan-pernyataan itu orang berpikir dan sampai pada suatu pertanyaan tentang realitas tertinggi, masalah ketuhanan.

Alasan khusus munculnya kembali masalah ketuhanan:

L. Leah menyebutkan adanya berbagai alasan khusus mengapa masalah ketuhanan dewasa ini ramai dibicarakan dalamm filsafat:

a.      Suatu motif historis dan psikologis

·       Menurut Louis Lavelle alasannya adalah adanya “kegoncangan dahsyat yang ditimbulkan pada jiwa manusia oleh kedua perang dunia.” Perubahan situasi politik yang kita alami akhir-akhir ini juga membuat orang bertanya-tanya. Apabila eksistensi manusia terancam dari segala penjuru, ia memaksa hati nurani untuk menyelidiki dirinya sendiri secara serius mengenai asal-usul serta nilainya. Kegoncangan ini juga terjadi di Indonesia terutama setalah kemerdekaan. Muncullah ratusan kelompok-kelompok yang mencoba dengan cara mereka masing-masing memahami faham Allah dan mempraktekan apa yang mereka yakini sebagai kebenaran. Orang bertanya tentang asal-usul mereka, sangkan paraning dumadi (demikian orang jawa merumuskannya).

·       Menyaksikan perkembangan teknologi yang begitu cepat orang sangat antusias dan melihat bahwa agama serta masalah ketuhanan hanyalah penghambat perkembangan manusia. Maka mereka menjauhinya. Pada tahun-tahun sebelumnya orang belum bisa melihat efek-efek negatif dari teknologi yang mereka terapkan. Sekarang orang mulai bertanya-tanya terhadap pengaruh teknik modern pada perkembangan alam semesta dan manusia pada umumnya. Di mana-mana muncul gerakan green peace atau gerakan-gerakan tradisional, juga dalam bidang keagamaan. Terkadang orang menjadi takut akan perkembangan dunia, akan adanya lobang ozon, sehingga sinar matahari langsung sampaike bumi tampa penghalang yang dirusak oleh polusi angkasa kita. Ilmu pengetahuan yang begitu maju bila dibandingkan dengan tingkat spiritual dan moral ternyata tidak mampu untuk menjawab segala permasalahan dan pertanyaan, apalagi tentanfg arti hidup manusia.

 

 

 

b.     Suatu pertanyaan filosofis yang mendesak

·       Dari pelajaran filsafat yang kita terima, atau dari buku-buku filsafat kontemporer, kita mengetahui bahwa filsafat masa kini berpusat pada pribadi manusia. Orang bertanya tentang arti kehidupan. Siapa aku yang “terlempar” di dunia ini. “Aku” kehilangan arah lalu bertanya pada diri sendiri, berefleksi. Tapi dari karangan-karangan yang muncul di bumi Indonesia terlihat juga bahwa refleksi mengenai Allah selalu ditemukan dalam kaitannya dengan masalah manusia.

·       Seorang pegajar dan pengarang teologi kristen yang juga uskup di Birmingham, Montefiore, mengetengahkan peran filsafat ketuhanan. Tanpa memperkembangkan pemikiran teologi kodrati bidang-bidang itu hanya berarti kecil, apalagi dengan semakin berkurangnya lingkup orang-orang yang tergabung dalam gereja. “Why ever should anyone in this secular society be interested in Jesus as the Son of God without a prior conviction about the reality of God.” Montefiore mengolah dasar intelektual dari iman akan Allah. Ia menolak anggapan Ninian Smart bahwa orang yang melakukan refleksi tentang teologi natual adalah “orang eropa yang sakit.”

·       Tapi Karl Barth menyatakan “Nein” (tidak) terhadap teologi kodrati, karena menurut dia tidak ada kontak antara manusia dengan Allah di luar pewahyuan Yesus Kristus. Untuk itulah Protestan tidak memandang filsafat Ketuhanan sebagai sesuatu yang penting. Suatu motif yang mula-mula bersifat historis dan psikologis berubah menjadi suatu pertanyaan filosofis dan pribadi yang mendesak. Siapa aku ini dengan pengalaman hidup dengan kegembiraan dan  harapanku? Apakah tujuan hidup ini, dan apakah artinya? Mengapa aku berada? Pertanyaan tersebut akhirnya membawa orang kepada masalah ketuhanan. Apakah keberadaan manusia itu bersifat antroposentis atau teosentris? O Colin menyatakan, “Bukanlah lagi dunia semata-mata melainkan kehadiran manusia di dunialah yang menimbulkan masalah ketuhanan.” Hubungan antara masalah manusia dan masalah ketuhanan menjadi penting baik bagi mereka yang percaya maupun bagi mereka yang tidak percaya.

 

 

3.     Apabila manusia menjadi sadar akan dirinya, yaitu akan strukturnya yang mendalam, maka ia akan melihat, bahwa eksistensi dipengaruhi oleh tiga sifat: faktisitas, transendensi, dan kebutuhan untuk mengerti. Bagaimana ketiga hal itu menimbulkan masalah pada filsafat ketuhanan?

 

Masalah ketuhanan harus dipelajari dengan berpangkal dari manusia. L. Leahy mencatat bahwa jika seseorang menjadi sadar akan dirinya, ia akan melihat bahwa eksistensinya dipengaruhi oleh tiga hal:

a.       Manusia sebagai faktisitas: Berarti manusia yang sadar akan dirinya menemukan bahwa dirinya sudah dan sedang berada. Ini suatu kenyataan dan fakta. Dari fakta ini orang bertanya tentang konsep ada, apakah semua yang ada ini menemukan diri seperti manusia menemukan dirinya yang sudah dan sedang berada. Ataukan adakah yang ada dari dirinya sendiri?

b.      Manusia sebagai transendensi – mengatasi ruang dan waktu -: kita sadar bahwa keberadaan kita mampu mengatasi ruang dan waktu sesaat. Kita bisa duduk di sini dan membayangkan seakan kita sedang berrekreasi. Kita sadar bahwa kita tidak sama dengan benda-benda yang lain seperti kursi. Namun manusia juga melihat bahwa dalam kesadaran dan eksistensinya ada batas-batas tertentu yang tidak terlampaui. Dalam keterbukaan/transendensi dan keterbatasannya manusia akhirnya sampai pada masalah ketuhanan. Apakah Allah masuk dalam dunia manusia atau tidak.

c.       Manusia sebagai kebutuhan untuk mengerti: Dalam diri manusia selalu muncul keinginan untuk memahami dan mengerti. Manusia selalu didorong oleh akalnya untuk mencari tahu akan sesuatu hal. Refleksi manusia ini terbentang luas. Timbul pertanyaan apakah pada suatu titik tertentu keinginan untuk mengerti ini sampai pada titik di mana kita tidak bertanya lagi? Titik itu merupakan kenyataan yang ada di dunia atau itu menunjuk pada Allah?

 

Kesadaran manusia akan srukturnya yang mendalam (faktisitas, keterbatasan dalam transendensi) dan keinginan untuk mengerti memunculkan masalah manusia yang utama yakni masalah kenyataan ke mana ia secara radikal menuju/diarahkan. Lalu tidak boleh tidak timbullan masalah tentang Tuhan, oleh karena ia bersifat konstitutif bagi manusia, setidak-tidaknya dalam bentuk pertanyaan.

 

 

BAB I

 

4.     Dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknik terhadap soal eksistensi Allah. Dapatkah mereka menghancurkan iman: prinsip umum dan penerapannya? Mampukah ilmu pengetahuan menerangkan atau menyangkal adanya Allah maupun membuat orang bahagia?

 

Memang ada ketakutan bahwa ilmu pengetahuan akan menjurus ke arah penolakan Allah. Apakah benar demikian? Tujuan ilmu pengetahuan adalah untuk mencapai kebenaran, dengan fundamen kenyataan-kenyataan sebagai suatu ukuran untuk menentukan suatu benar atau tidak. Melalui kriteria rasional saja, secara objektif seorang ilmuwan menganalisa suatu kenyataan. Bidangnya makin luas, merupakan suatu faktor kebudayaan yang sangat penting, yang bersama faktor lain ikut membangun kemanusiaan. Timbullah kesulitan yang muncul berhubungan dengan adanya orang-orang beriman yang berkeyakinan bahwa agama memberikan jawaban, baik atas soal-soal alam maupun atas soal-soal hidup; mengapa ada hujan, kecelakaan, dsb. Jawabannya, misal, semua telah direncanakan oleh Allah.

Kebenaran ili lain coraknya dengan kebenaran yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan. Seakan yang satu pandangan rakyat dan yang satu pandangana orang pandai. Bentorkan bisa tibul dalam satu bidang kehidupan. Ilmu alam pernah menghebohkan karena mengutarakan satu sistem kosmis baru.  Lalu sampailah pada teologi evolusi Darwin yang tidak sejalan dengan KS. Perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin cepat membangkitkan suatu suasana optimisme tentang masa depan manusia. Ada yang menduga bahwa akhirnya semua rahasia realitas akan dibuka berkat kemajuan ilmu pengetahuan ilmu pengetahuan; ada juga yang berpandangan, bahwa akhirnya semua rahasia realitas akan dibuka berkat kemajuan ilmu pengetahuan. Dengan jalan ini apa yang selalu diharapkan dari Alah dan rahmatNya, sekarang (diharapkan) dijawab oleh ilmu pengetahuan.

Penemuan-penemuan ilmiah serta penerapan teknisnya dianggap oleh banyak orang mengakibatkan penewaan manusia dan pengingkaran Allah dn rupanya inilah kecenderungan yang dianut oleh banyak orang awam dalam arti yang bukan ahli; – atau penurunan harkat manusia hampir sampai pada ketiadaan, dalam sebuah alam semesta yang berukuran luar biasa. Inilah terutama kesimpulan-kesimpulan yang ditarik oleh para ilmuwan. Baik para ilmuwan awam maupun para awam yang terus-menerus mengganggu kehidupan orang beriman. Jawabannya bukanlah dengan mempertentangkan ilmu-ilmu pengetahuan dan kepercayaan akan Allah dalam kedudukan yang sebenarnya.

 

 

 

 

 

o          Dapatkah ilmu pengetahuan dan teknik menghancurkan iman?

1.      Prinsip Umum

a.       Tak perlu takut akan “ancaman” ilmu pengetahuan dan teknik.

          Allah yang samalah yang menjadi pencipta alam semesta yang dipelajari dan diterangkan oleh ilmu-ilmu pengetahuan, Pencipta roh manusia yang dapat mengadakan penelitian, dan Pencipta Wahyu yang menjadi objek imannya. Maka tidak mungkin ada pertentangan.

          Jika ada, pertentangan tersebut hanya bersifat semu dan sementara. Ternyata dalam bentuk yang klasik, ilmu pengetahuan tidak menguntungkan kepercayaan kepada Allah , bahkan sering membawa orang ke arah ateisme. Ada yang berpendapat bahwa suatu saat kepercayaan kepada Allah akan lenyap sama sekali, sebab diganti oleh kebenaran rasional, yang dihasilkan oleh akal budi manusia dengan penyelidikan ilmiah.

          Pertentangan datang dari ilmu-ilmu pengetahuan apabila ilmu-ilmu pengetahuan keluar dari bidangnya dan mengadakan pilihan filosofis dan religius, yang bukan haknya, atau dari iman apabila mengadakan suatu pernilaian ilmiah tentang suatu hipotesa atau suatu teori yang dikemukakan oleh para ilmuwan, yang bukan kompetensinya.

b.      Ilmu-ilmu pengetahuan mempelajari fakta-fakta yang dapat dijangkau oleh panca indra, baik secara langsung maupun melalui perantaraan alat. Dalam penelitian ilmu-ilmu pengetahuan tidak pernah berhadapan dengan Allah maupun jiwa. Ia tidak berbicara tentang kebenaran iman.

c.       Bahwa seorang yang menganut paham evolusi menyatakan dirinya sebagai ateis; itu urusan dia. Tetapi bahwa ia mendasarkan ateismenya atas paham evolusi, itu berarti melanggar batas-batas ilmu-ilmu pengetahuan. Ilmu-ilmu pengetahuan tidak pernah mengingkari atau mengakui Allah. Ia tidak berbicara tentang soal itu dan tidak berhak berbicara tentang itu.

 

2.     Beberapa Penerapan:

          Ilmuwan bisa berhasil mengadakan kondisi-kondisi yang memungkinkan timbulnya hidup bukan mencipta (Misal: kloning, rekayasa genetika)

          Berhasil memisahkan dan menganalisa sintesa asli unsur-unsur kimia – tetapi bila berbicara tentang “kausa”, dia melompati bidang lain.

          Baik anti-evolusionis maupun evolusionis tidak mengurangi kebenaran iman.

 

Iman tidak dirugikan apabila ilmu-ilmu pengetahuan menempatakan manusia pada puncak suatu evolusi hewani. Yang pokok ialah mengakui bahwa dengan “hominisasi” itu, sebuah ambang telah dilangkahi dan bahwa pribadi manusia itu secara radikal berbeda dari hewan yang berada terdekat dengannya, karena kesadaran reflektif, dan karena kebebasan cinta kasih.

 

o        Mampukah ilmu pengetahuan menerangkan atau menyangkal adanya Allah maupun membuat orang bahagia?

 

Intinya, melalui ilmu-ilmu pengetahuan semesta alam terjamin akan dibuka kebenarannya. Akibat perkembangan ilmu pengetahuan akan terjamin masa depan yang bahagia bagi seluruh umat manusia. Namun, ilmu pengetahuan tak bisa menerangkan segala-galanya. Penelitian ilmiah tidak bisa membuka semua rahasia alam dan hidup.

Kesimpulan: penyelidikan-penyelidikan ilmiah dan penjelasan-penjelasan keagamaan akhirnya harus saling melengkapi, tidak dipertentangkan. Ilmu pengetahuan, teologi, filsafat menemukan kebenaran-kebenaran tertentu yang sesuai dengan bidangnya masing-masing. Tentang Allah ilmu pengetahuan tidak dapat menyatakan apa-apa. Ilmu itu berlangsung seakan-akan Allah tidak ada. Sebaiknya memang demikian, karena Allah tidak dapat dijadikan objek penyelidikan ilmiah. Ilmu pengetahuan tidak dapat menyangkal adanya Allah, juga tidak dapat memastikan adanya Allah.

 

5.     Dikatakan bahwa ilmu-ilmu pengetahuan dan tehnik dapat berfungsi sebagai pembantu orang beriman. Jelaskan sehubungan dengan 3 topik yang penting!

 

Melalui kesaksian sejarah, ilmu-ilmu pengetahuan dapat membantu pemurnian iman. Misalnya pada abad-abad yang lampau, penelitian masa prasejarah dan geologi menyebabkan orang mempertanyakan kebenaran-kebenaran bab-bab pertama kitab Kejadian. Dewasa ini banyak orang tidak terganggu oleh argumen-argumen itu, karena sudah lama diakui bahwa rangka, yang dipakai untuk mengungkapkan paham penciptaan, secara keliru diberi suatu nilai ilmiah yang tidak dimiliki oleh rangka tersebut. Melalui itu orang sampai pada suatu signifikasi religius dari KS.

 

a.      Transendensi dan imanensi Allah

       Kita dihinggapi oleh antropomorfisme, tetapi bagaimana tidak? Kita serig mengempatkan kausalitas Allah pada taraf yang sama seperti klausa-klausa sekunder, yakni klausa-klausa alami yang berlaku dalam dunia yang dipelajari oleh ilmu-ilmu pengetahuan.

       Ilmuwan tidak mencari dalam menerapkan ilmunya suatu “pelengkap” atau bantuan Allah.

       Ilmuwan mempraktikan ilmunya dengan bertindak seakan-akan tidak ada Allah.

       Allah bukan salah satu sebab kontingen, ia bersifat transenden, di atas segala “ada” yang diciptakan.

       Untuk menciptakan manusia Allah bertindak secara khusus. Itu tepat benar pada taraf iman dan filsafat. Tetapi bagaimana? Iman tidak memberi keterangan ilmu-ilmu pengetahuan.

       Bagi orang berima dan filsuf, Allah tidak bertindak di samping sebab-sebab alami, melainkan di dalam dan melalui mereka, atau lebih tepat, sebab-sebab itu adalah cara Allah bertindak di dalam dunia.

Imanensi Allah itu bukan intervensi seorang pekerja dalam suatu mekanisme yang telah ada untuk merubahnya, melainkan suatu kehadiran “asali” yang tak mungkin didefinisikan secara sempurna, yang memungkinkan kita untuk mengakui bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia adlaah karyaNya dan bahkan tindakanNya terwujud dalam apa yang kita  lihat, pelajari, dan analisa.

 

b.     Hal-hal yang suci dan profan

          Kemajuan teknis memang luar biasa: bisa mendekatkan dan juga bisa menjauhkan manusia (mesin, siaran media)

          Penemuan baru tak terbendung

          Resiko: mereka memuja karyanya, memuja kekuasaannya sendiri dan menolak Allah. Tetapi Allah mana yang mereka tolak?

          Meninggikan manusia bukan berarti menolak Allah

 

c.      Allah yang tak berguna?

          Mengapa harus meminta bantuan Allah?

          Mulai sekarang Allah tak berguna bagi manusia yang telah menjadi berkuasa dan merajai dunia.

          Resiko itu adalah pasti dan ada; tetapi apakah manusia bukan membebaskan diri dari suatu Allah yang palsu, yaitu Allah sebagai tempat pelarian? Allah yang dapat “dipergunakan”? ia bukan tempat berlindung dari ancaman daya-kekuatan alam atau manusia yang lain.

 

 

BAB II

6.     Uraikan pokok-pokok perkembangan pembicaraan tentang Allah dengan tekanan-tekanannya dari awal filsafat Yunani sampai Neoplatonisme!

 

·         Aristoteles (328-322 SM) memberi perhatian pada teori Anaximandros tentang aperion (yang tak terbatas). Yang tak terbatas melaksanakan dua fungsi sekaligus: sebagai prinsip material dan sebagai penyebab perubahan dan proses kosmis. Anaxmandros menyatakan bahwa unsur primer tersebut adalah Yang Awali, tidak terbatas

·         Xenophanes (570 SM) mengakui bahwa Allah adalah satu dan tidak digerakkan. Ia menggambarkan Allah berada di tempat yang sama. Bagi Xenophanes kosmos adalah suatu badan, spiritual, yang hidup, sadar, dan ilahi. Itulah sebab dari gerakan dan perubahan internalnya sendiri. Sumbangan Xenophanes terhadap filsafat adalah penolakannya yang teguh atas segala pluralitas.

·         Plato (427-347 SM) menentang gambaran antropomorfis tentang para dewa yang diajukan oleh para penyair Yunani. Ia menyatakan bahwa Demiurgos pada dirinya sendiri adalah baik. Oleh karena itu ia menghendaki bahwa segala hal mencerminkan dirinya sejauh itu mungkin. Bagi plato, ilahi menujuk secara khusus pada yang luar biasa, exelence. Yang ilahi merupakan kenyataan dunia yang nampak ini yang menjadi subjek perubahan tanpa akhir. Semakin tinggi kedudukan sesuatu dalam hirarki pengada-pengada, semakin ilahilah hal itu. Plato membagi pengada-pengada itu dalam dua kelompok besar: Pertama, dunia pengada yang sejati, dunia idea. Kedua, dunia material yang kelihatan, di mana pengada merupakan keberadaan yang ilusif.

·         Fragmen 12 De Philosphia dari Aristoteles memperlihatkan meningkatnya pamor agama kosmis: barangsiapa menyaksikan keindahan alam semesta akan mempertimbangkan badan-badan langit sebagai dewa-dewa atau karya dewa-dewa. L.J. Elders menyatakan bahwa teologi Aristoteles rupanya dikembangkan dalam alur pertama dengan kemungkinan besar ia menempatkan yang ilahi di antara idea atau membuat langit pertama sebagai dewa utama. Sementara dalam karya berikutnya, ia menghasilkan ajaran tentang Allah sebagai Aktualitas dan Penggerak pertama yang tidak digerakkan dari semesta alam. Kehendak Allah akan kesempurnaan membuat segalanya bergerak. Kegiatannya merupakan pengenalan diriNya.

·         Epicurus (341-270 SM) menunjukkan beberapa bukti untuk eksistensi dewa-dewa berhubung semua bangsa mempunyai kecenderungan untuk mengakui adanya dewa-dewa. Kaum Stoa menyetujui adanya penyebab Pengada tertinggi dalam dunia dan memegang teguh bahwa eksistensiNya dapat diperlihatkan. Cicero (106 – 43  SM) mene-kankan pendapat Epicuros yang mengatakan bahwa tidak ada satu bangsapun yang tidak percaya akan dewa-dewa. Cleiranthes berkeyakinan bahwa gejala kosmis yang dahsyat dan juga danya tingkatan-tingkatan dalam kesempurnaan yang kita saksikan menunjuk pada eksistensi Allah. Ia harus dipandang sebagai jiwa dunia. Philo dari Alexandria yang sangat berlawanan dengan teologi monistis dari kaum stoa, menekankan kembali transendensi Allah. Ia adalah lebih tinggi dari dunia dan mengatasi segala pengetahuan, keutamaan, dan kebaikan. Ia yang tak terbagi dan abadi adalah Yang Satu dan sungguh-sungguh ada.

·         Numenius dari abad II yang mempersiapkan jalan bagi neoplatonis mengajukan faham akan adanya perkembangan dalam Kedewaan. Dewa yang pertama adalah ada dalam diri-Nya sendiri. Ada-Nya adalah tak terbagi dan tak terkatakan. Ia adalah Bapa dari Dewa Kedua, Demiurgos, yang melalui pikirannya membuat dunia. Dewa ketiga adalah dunia sebagaimana yang dipikirkan oleh demiurgos.

·                   Dengan hadirnya Plotinus (203-270) suatu faham tentang Allah yang sangat religius dan bahkan mistik muncul ke permukaan. Allah secara mutlak adalah transenden. Ia adalah Yang Tunggal, di seberang pikiran ada-ada di dunia, tak terkatakan dan tak dapat dimengerti. Plotinus tidak memberikan bukti apapun adanya Allah karena Prinsip yang absolut tersebut dapat dipahami. Segalanya mengalir keluar dari-Nya. Melalui prinsip emanasi, prinsip utama itu tidaklah kehilangan suatu apapun. Segalanya harus berbalik kembali padaNya. Meski demikan Yang Tunggal adalah tetap tersembunyi, transenden terhadap segala pengetahuan. Sebab Allah adalah yang secara sempurna tunggal dan nyata, Ia berada di atas segala ada dan pikiran. Problem terbesar plotinos adalah hubungan antara yang banyak dan Yang Tunggal. Tekanan transendensi Allah yang dipikirkan oleh Albinus pada abad II mendasari teologi negatif. Ada-Nya Allah tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Allah adalah sebegitu sempurna sehingga tak ada atribut yang cocok untuk dikenakan kepada hakikat atau esensi-Nya. Allah adalah sekaligus baik dan tidak baik. Sedang Maximus dari Tyre memperlihatkan pendapat yang serupa dengan menyatakan bahwa sulitlah untuk mengetahui Allah menurut ada-Nya sendiri, karena Allah melampaui apa saja yang kita akui tentang Dia. Paling-paling kita hanya dapat membentuk konsep-konsep analogis untuk mengungkap ada-Nya.

 

 

7.      Bagaimana para Bapa Gereja mengolah paham Allah yang berlatar belakang Yahudi dengan cara berpikir Yunani (Agustinus-Anselmus)?

 

Para Bapa Gereja Yunani dan Latin merumuskan pandangan mereka yang diperkaya oleh Filsafat Yunani dan ajaran KS tentang Allah:

 

ST. AGUSTINUS

·       St. Agustinus (354 – 430) mengikuti teori Neoplatonisme mengenai ketidakdapat-diketahui-Nya Allah. Hakikan Allah adalah adaNya (esse) sendiri. Ia memandang Allah sebagai “Ada”. Ia mengenal Allah seperti yang tertera dalam kutipan terkenal dari Keluaran 3: 14 sebagai “He who is”, yang dalam terjemahan KS Indonesia berbunyi “Aku adalah Aku”. Ia membedakan antara pengetahuan kita tentang dunia material dengan hal-hal immaterial. Pengetahuan mengenai hal-hal material datang melalui indra. Pengetahuan mengenai yang immaterial diperoleh melalui pencerahan bdui. Allah, sang Surya Rohani, menerangi manusia dari dalam sehingga ia mulai mengatahui apa yang mula-mula tidak dapat ia tangkap. Inilah semacam “emanasi” dari prinsip tertinggi. Dalam hal ini kita menyaksikan hubungan dengan teori plotinos. St. Agustinus mengatakan bahwa Allah adalah “Pater intelligibilis lucis” atau ”Pater illuninationis nostrae”. Ungkapan ini merupakan suatu metafor. Penerangan ilahi secara aktual membimbing pemahaman manusiawi yang tercipta yang mempunyai kemampuan kognitif dan kegiatan dalam dirinya. Masalah metafisis bagi St. Agustinus terkandung dalam hubungan dengan apa yang tiada hentinya menjadi “lain” dalam waktu, apa yang tetap tidak berubah, sama dalam kekekalan. Allah, Pencipta yang tidak berubah dan Kebaikan yang tak berubah, menghasilkan hal-hal yang berubah.

·       Allah adalah pencipta segala sesuatu. Penciptaan ini bukanlah proses emanasi. Ia menolak ajaran Manikean bahwa Allah adalah terang dalam diriNya sendiri dan ciptaan-ciptaan adalah bagian dari Ada yang bersinar tersebut. Jika hal-hal tidak diturunkan dari Substansi Ilahi, maka jalan satu-satunya adalah creatio ex nihilo. Meski ajarannya tentang penciptaan tidak sistematis, O’Toole melihat ada tiga pandangan utama dalam ajarannya mengenai creatio ex nihilo: 1) There’is no pre-exixting substance independent of the activity of God and upon which He draws in creation (non erat unde faceret); 2) creation is not emanation of generation from the divine substance (ex nihilo); 2) creation does not flow from God with an absolute necessity (quia voluit, fecit).

·       St Agustinus menekankan ketergantungan yang erat dari ciptaan-ciptaan pada Allah, namun ia mengatakan bahwa kita harus mengakui pada waktu yang bersamaan adanya suatu perbedaan yang mendalam dan hakiki antara mereka.

·       Dionysius Areopagita menggarisbawahi lagi transendensi Allah. Sesuai dengan keyakinan yang tersebar luas yang mendapat inspirasinya dalam teologi negatif Dionisius, pengetahuan akan esensi Allah tidaklah mungkin bagi Manusia. Faham negatif tentang kemungkinan untuk mengenal esensi Allah menapatkan dukungan dalam faham noetik Avicenna. Avicenna menolak paham Aristoteles bahwa ‘intelek yang dapat dimengerti’ dan ‘kegiatan mengerti’ adalah satu. Ia melihat pengetahuan lebih sebagai akuisisi dari keserupaan. Dari hal ini dimengerti bahwa intelek yang diciptakan tidak dapat masuk ke dalam kontak dengan Allah sendiri dan bahwa Allah hanya akan dilihat dalam keserupaan-Nya

 

ST. ANSELMUS

·       St. Anselmus (1033 – 1109) dalam Monologion menunjukkan bagaimana refleksi rasional dapat menemukan kebenaran-kebenaran iman. Setelah hampir putus asa akhirnya ia menerbitkan Proslogion. Buku yang diawali doa tersebut berisi pokok: percaya dan sedikit memahami; ia memahami apa yang semula hanya diimani. Titik tolaknya percaya, bukan memahami untuk percaya. Ini serupa dengan pandangan St. Agustinus: Jika kamu tidak percaya, kamu tidak akan memahami. St. Anselmus menyampaikan adanya bukti adanya Allah dengan mengatakan bahwa Allah adalah “id quo maius cogitari nequit” (sesuatu yang lebih besar daripada yang dapat dibayangkan. Allah bagi kita adalah pengada yang tertinggi yang dapat kita pikirkan dan imanlah yang memberikan ini kepada kita. Argumen ini dikenal di kemudian hari sebagai argumen ontologis seperti diistilahkan oleh Emmanuel Kant. Rumusan St. Anselmus ini banyak dikritik namun tetap dibicarakan sampai sekarang. 

 

 

8.     “Jalan-jalan” atau cara-cara mana yang diusulkan oleh Thomas Aquinas untuk menunjuk ada-Nya Allah? Uraikan intisari kritik modern A. Flew terhadap gagasan tentang Allah!

 

ST. THOMAS AQUINAS

St. Thomas memperilihatkan adanya tiga cara untuk mengenal Allah:

          Via positiva: mengenakan pada Allah sifat-sifat yang baik seperti yang terdapat pada pengada-pengada sesuai dengan keadaannya karena adanya unsur partisipasi. Inilah unsur afirmasi.

          Via negativa: apa yang ada dalam pengada-pengada tidak terdapat dalam diri Allah seperti yang dikenal dalam dunia; maka tidak ada yang bisa dikenakan padaNya. Semua kata-kata tak berarti untuk Dia. Ini merupakan unsur penyangkalan

          Via emminentiae: hal baik yang terdapat dalam pengada-pengada secara sempurna dan mengatasi pemikiran manusia terdapat dalam diri Allah. Unsur lebih, maha, adalah kekhasan cara yang ketiga ini.

Model ungkapan atau bahasa yang cocok untuk menyatakan ketiga cara di atas adalah model bahasa analogi proporsional.

 

A.    FLEW

A Flew menyerang pendapat orang beriman atau banyak filsuf yang memegang teguh keberadaan Allah yang tak terkatakan. Ia mengutarakan gagasannya melalui perumpamaan yang dikembangkan dari cerita John Wisdom. Dengan perumpamaan tersebut A Flew berusaha untuk meyakinkan orang yang percaya bahwa pernyataan Allah yang tak kelihatan itu ada sebetulnya tidak berarti. Karena pernyataan itu tidak dapat dibenarkan atau disalahkan secara empiris atau ilmiah. Ia berpegang teguh bahwa suatu ungkapan itu bermakna, atau ada hubungan dengan kenyataan, jika ungkapan itu memenuhi standart verifikasi-falsifikasi. Malahan abgi A. Flew tekanman permasalahan berubah dari verifikasi ke falsifikasi. Pernyataan kita terhadap orang yang berpendapat demikian adalah “betulkah bahwa ungkapan baru bermakna kalau dapat dibenarkan atau disalahkan secara empiris saja?” “Tidakkah ada ungkapan bermakna yang di luar tata empiris?”

 

 

BAB III

 

9.     Bagaimana argumen ontologis St. Anselmus menurut bentuknya yang pertama dapat dirumuskan? Apa isi kritik Gaunilon terhadap argumen ontologis St. Anselmus dan bagaimana ia menjawab keberatan Gaunilon itu? Bandingkan dengan pendapat A. Platinga!

 

St. Anselmus menyatakan bahwa Allah adalah “id quo maius cogitari nequit” (sesuatu yang lebih besar/luhur; daripada itu tidak bisa dibayangkan). Allah bagi kita adalah pengada yang tertinggi yang dapat kita pikirkan dan imanlah yang memberikan ini kepada kita. Tetapi ‘pengada yang lebih besar daripadaNya tak dapat dibayangkan itu’ tidak berada hanya dalam pikiran. Maka jika sesuatu itu tidak terdapat selain hanya pada akal budi saja, orang dapat memikirkan juga bahwa Sesuatu itu terdapat pula dalam realitas: ini tingkatan yang lebih tinggi. Jadi, jika “ada” yang lebih besar daripadaNya itu tidak terbayangkan, hanya terdapat dalam akal budi saja, entitas yang sama ini, yang lebih besar dari padaNya tak terbayangkan, adalah berlainan dengan yang lebih besar daripada itu dapat dibayangkan: tetapi tentu saja tidak mungkin demikian. Dengan demikian ide tentang  Yang Maha Tinggi yang dapat dipikirkan itu sendiri menuntut pengakuan akan adaNya  di luar pikiran: Akibatnya, tidak ada kesangsian sedikit pun bahwa sesuatu yang lebih besar dapipadaNya tak terbayangkan itu ada, baik dalam akal budi, maupun di dalam realitas.” Argumen St. Anselmus mengenai adaNya Allah adalah mentuk argumen reductio ad absurdum. Argumen ini bermaksud untuk memperlihatkan bahwa pernyataan itu benar karena penyangkalannya mengandung suatu kontradiksi atau absurditas.

Rahib Gaunilon mengkritik pedas argumen Anselmus; intinya ia menyanggah kehadiran Yang Mahatinggi yang dapat dipikirkan dengan akal budi, dan legitimitas loncatan eksistensi di dalam akal ke eksistensi real:

1. Agar yang dipikirkan itu hadir dalam akal budi, maka sebelumnya akal budi harus mampu membuat paling sedikit representasi yang dekat dengan-Nya. Padahal itu tidak mungkin.

2.      Seandainya memang ada dalam pikiran, orang perlu membuktikan dulu realitas objektif yang mempunyai kodrat seperti itu. Contoh: pulau yang hilang

Jawaban Anselmus tertulis dalam Liber Apologeticus: “Saya mengandalkan imanmu dan kesadaranmu, sebagai argumenku yang paling kuat.” Anselmus menuduhnya sebagai orang Katolik yang pura-pura gila.

St. Thomas Aquinas tidak setuju juga denga argumen ontologis. Secara tegas ia mengatakan bahwa kita tidak pernah dapat menyimpulkan bahwa apa yang terdapat dalam pikiran, harus ada dalam realitas.

R. Descartes merumuskan arghumen ontologis dalam mEditations V. Menurut dia, tepat seperti orang dapat memiliki suatu ide yang jelas dan rinci mengenai nomor atau bentuk demikian orang dapat memiliki suatu ide yang jelas dan rinci mengenai Allah. Bagi dia ide tentang Allah adalah ide tentang Ada yang Mahasempurna. R. Descartes rupanya berpandangan bahwa dari faham tentang Allah orang dapat menjabarkan eksistensiNya. Allah adlaa mahasempurna, maka

Argumen ontologis A. Platinga dapat diringkas, menurut Brian Davies, dalam tujuh tahap sebagai berikut:

1. Ada sebuah dunia yang mungkin, yang mengandung suatu pengada dengan besar yang maksimal

2.      Pengada apapun dengan besar yang maksimal memiliki kekayaan kehebatan yang maksimal dalam setiap dunia yang mungkin.

3.      Kehebatan yang maksimal melingkupi kemahatahuan, kemahakuasaan, dan kesempurnaan moral.

4.      Oleh karena itu ada dunia yang mungkin di mana berada pengada yang memiliki kehebatan yang maksimal.

5.      Jika ada sebuah dunia yang mungkin di mana suatu pengada memiliki kehebatan yang maksimal, kemudian pengada itu mempunyai kehebatan maksimal dalam setiap dunia yang mungkin.

6.      Inilah suatu dunia yang mungkin

7.      Jadi Allah ada.

Beberapa filsuf menyerang seluruh argumen ini. Marilah kita lihat tahap ke empartsaja. A. Platinga dari kenyataan bahwa ada kemungkinan pengada yang mempunyai kehebatan yang maksimal dalam setiap dunia yang mungkin ia ia maju terus bahwa secara aktual ada pengada dengan kehebatan makasimal dalam dunia kita. Akan tetapi sebetulnya dari fakta bahwa Allah mungkin ada hanya harus disimpulkan bahwa Ia adalah MUNGKIN; bukannya bahwa secara aktual IA ADA.

 

10. Bagaimana argumen ontologis tradisional mendapat kritik dan seharusnya bagaimana kita menanggapi argumen dan kritik terhadapnya?

 

Rumusan tradisional argumen ontologis:

          “Ada” yang esensinya menyangkut atau menuntut eksistensi tidak boleh tidak berada.

          Padahal, esensi Ada yang kesempurnaannya tak terbatas itu menyangkut atau menuntut eksistensiNya,

          Jadi Ada yang kesempurnaannya tak terbatas itu tidak boleh tidak HARUS ADAi.

Premis minor dibuktikan dengan:

          Entah bahwa eksistensi itu sendiri merupakan kesempurnaan,

          Entah bahwa suatu kesempurnaan tak terbatas merangkum suatu maksud yang terbatas untuk bereksistensi.

Argumen ini tidak menyimpulkan apa-apa kecuali jika esensi Allah sudah dinyatakan sejak semula sebagai bersifat objektif. Jika esensi ilahi tidak menjamin secara langsung objektivitas-Nya, semua hubunganNya dengan eksistensi, tetaplah merupakan hubungan-hubungan dalam pikiran, sama sekali tak dapat disimpulkan, keculai secara hipotesis: jika esesi ini real, hubungan-hubungan itu juga real, sehingga esensi ini mestilah ada.

BAB IV: ARGUMEN ATAS DASAR KETERATURAN DAN RANCANGAN: TELEOLOGIS

 

11.   Jelaskan argumen rancangan qua keteraturan dan argumen rancangan qua tujuan, dengan contoh-tokoh!

 

Pembedaan rancangan qua keteraturan dan qua tujuan digagas oleh Brian Davis.

          Pertama, rancangan qua keteraturan. Misalnya: adanya kesinambungan suatu tanda yang teratur pada kertas; tangga nada musik; penataan bunga-bunga di Versailies, dll. Gagasan rancangan qua keteraturan ini didukung oleh Richard Swinburne.

Richard Swinburne membertahankan argumen rancangan keteraturan. Dalam tulisannya ia menarik kesimpulan: hampir semua objek di dunia ada di sebuah tataran yang amat tinggi dalam aturan yang ilmiah. … Semua keteraturan di alam seharusnya mengarah kepada penerimaan tuhan, membuat alam, sebagai adanya, menyelenggarakan simponi yang agung di dalam cara di mana manusia mencipta dari ‘tenggorokan’-nya sebuah rangkaian catatan yang tetap.

          Kedua, Salah satu argumen rancangan qua tujuan yang paling terkenal diajukan oleh William Paley. Ketika kita hendak memeriksa jam tangan kita, kita mempersepksikan (bertapa kita tidak dapat menemukannya di batu) bahwa itu terdiri dari beberapa bagian yang membingkai dan menjadikannya berguna. Bagian2 itu ‘bersatu’ dan mampu menunjukkan waktu.

 

12.   Terangkan struktur umum argumen lewat finalitas untuk membuktikan adanya Allah! Perhatikan perbedaan antar finalitas ekstrinsik dan finalitas intrinsik. Bukankah semua itu hanya kebetulan dan bagaimana dengan 3 ketidaksempurnaan menurut C. Cuenot?

 

Argumen teleologis merupakan argumen yang plg populer dan sederhana. Intinya, setiap bagian punya tujuan tertentu. Ini tidak berarti bahwa dlm dunia tidak ada keteraturan. Argumen ini didasarkan pada 3 pengandaian:

1.       Pengakuan akan adanya pengada-pengada yang struktur dan kegiatannya telah disesuaikan untuk mencapai suatu hasil yang bermanfaat (bagi dirinya atau yg lain), pendeknya pengakuan akan adanya finalitas.

2.       Pengakuan akan adanya suatu akal yang mengarahkan kepada suatu finalitas tertentu.

3.       Pengakuan bahwa akal yang mengarahkan itu tiada lain adalah Allah.

Rumusan ini mengarah ke argumen qua tujuan. Finalitas adalah suatu pengarahan sesuatu hal pada tujuan atau terjadinya suatu peristiwa atau proses demi tujuan tertentu; ditentukan oleh suatu tujuan dan  kepada suatu tujuan.

Finalitas ini bisa ekstrinsik (demi kebaikan sesuatu di luar atau suatu keseluruhan à misal: mesin ketik) atau juga ekstrinsik (pengaturan bagian-bagian demi makhluk itu sendiri, alami. Ini tidak bersifat individualistis, tapi selalu dalam kaitannya dengan yang lain. Misal: darah, kepala, dll).

 

Sementara argumen qua keteraturan mempunyai ciri umum sbb:

1.       Alam semesta mengandung suatu tingkat keteraturan yang tinggi.

2.       Masuk akallah untuk memperhitungkan keteraturan ini dalam kaitan dengan suatu penyebab eksternal dan intelegen, yaitu penyebab yang intelegen namun yang bukan menjadi bagian dari dunia yang teratur ini.

Sulit untuk melihat finalitas atau keteraturan semcam itu, apalagi untuk melihat finalitas yang ekstrinsik. Misal: Nyamuk malaria menyebabkan penyakit. Namun apakah ia tercipta untuk tujuan itu?

Mereka yang menentang finalitas selalu menunjuk segi kebetulan. Mereka mempertahankan bahwa kombinasi-kombinasi yang ada itu hanya merupakan salah satu dari kombinasi2 yg mungkin (meski terbatas). Namun apakah dapat dikatakan bahwa kombinasi yang menguntungkan, sekali diperoleh akan bertahan dan berkembang biak berkat keseimbangannya, kohesinya, adaptasi antar bagian2nya? Hal itu mengandaikan adanya suatu aturan dan hukum-hukum; bahwa beberapa hasil (dan bukan hasil sembarangan) sudah tercantum sebelumnya dalam kodrat unsur2 itu. Inilah yang justru merupakan kebalikan dari ‘kebetulan’. Misal: Kromosom X dan Y dalam ovulasi dapat menentukan jenis kelamin si anak. Tentu itu bukan kebetulan karena ada ‘aturan2nya’.

Di sisi lain, ketidaksempurnaan, kekacauan, kegagalan, dan kekeliruan dalam alam ini meruapakan senjata yang paling disukai untuk menolak finalitas. C Cuenot menyebut beberapa ketidaksempurnaan, yaitu:

1.       Atelie: organ atau fungsi2 yang tidak berperanan. Misal: usus buntu, gerakan refleks anjing yang menutup kotorannya.

2.       Hypertelie: pertumbuhan di luar batas-bata dari organ-oragan tertentu. Misal: cabang2 pada tanduk rusa.

3.       Dystelic: organ atau fungsi yang mengganggu bagi organsime, reaksi peradangan, bintik-bintik dari paru-paru yang menjadi saranmg kuman penyakit.

 

Sebagai catatan: para ahli pendukung finalitas tidak mengatakan bahwa semuanya sudah ada dalam keteraturan sempurna. Mereka hanya berkata bahwa ada suatu susunan sedemikan rupa yang tak dapat diterangkan begitu saja dengan kebetulan. Cukuplah dikatakan kalau ada finalitas.

 

 

13.   Untuk menerangkan finalitas, menurut aliran tertentu sudah cukup hanya menerima finalitas imanen saja dan tanpa suatu transendensi [yaitu finalitas yang akhirnya berdasarkan pada suatu akal transenden tidak perlu dicari]. Bagaimana tesis itu bisa dipertimbangkan dan siapa tokoh-tokoh serta pendapatnya?

 

Finalitas berarti bahwa keseluruhan (atau struktur) menentukan organisasi dari bagian-bagian: ada semacam prioritas dari keseluruhan yang sudah terorganisiasikan atau yang masih diorganisasikan terhadap unsur-unsur yang membentuknya. Ini menimbulkan problem filosofis, lebih lanjut akibat yang harus dihasilkan betul2 menentukan kegiatan-kegiatan yang terlibat. Pada waktu keseluruhan atau akibat itu melaksanakan penentuan ini, dia secara kongkret belum ada: jika tidak demikian dia tidak perlu dihasilkan. Sebaliknya, jika ia belum ada sama sekali, maka tidak mungkin juga melaksanakan penentuan. Lalu ia harus sudah ada dalam bentuk tertentu: ada dalam bentuk rencana? Tetapi rencana mengandaikan suatu ‘ada’ yang mengenal, yang berakal. Tiada rencana tanpa suatu akal. Ada yang mengenal tujuan sebagai tujuan dan tahu mengorganisir bagian-bagian demi tujuan itu. Tujuan itu harus ada sebelumnya dan mampu menggerakkan pengada-pengada ke arah tujuannya. Tambahan pula tujuan itu sudah harus ada dalam suatu Akal yang merancangkan dan mengatur pengada-pengada tersebut.

Grasse: semua mahluk hidup mengandung dalam dirinya sendiri suatu kuantitas besar dari intelegensi, lebih besar daripada yang dituntut untuk membangun suatu katedral. Intelegensi itu diramalkan ‘informasi’, tetapi tidak mengubah kodrat problem … Intelegensi tersebut adalah syarat ‘sine qua non’ kehidupan. Tanpa itu, tidak ada satu mahluk hidup pun yang bisa dimengerti. Dari mana intelegensi itu? Soal ini menarik, baik bagi para ahli biologi, maupun bagi para filsuf. Dan ilmu pengetahuan kontemporer tidak dapat memecahkannya.” Seandainya materi sendiri sudah ‘berintelegensi’ secara formal, mengapa dia akan berevolusi lagi sampai pada sebuah otak manusiawi yang berintelegen? Mungkin akan dijawab: “supaya berada dalam dunia semacam intelegensi lebih tinggi.” Jawaban ini tidak tepat karena justru intelegensi yang mempertanggungjawabkan evolusi dan hidup sudah jauh lebih itelegen daripada intelegensi manusiawi. Materi tidak berakal. Proses evolusi mengarah ke kompleksitas yang makin tinggi, yang tanpa keterarahan ini tidak akan muncul organisme seperti manusia. Hal ini ditegaskan oleh Montefiore.

Dalam makhluk hidup terdapatlah suatu prinsip imanen yang menyatukan dan mengarahkan daya-daya fisiko-kimia, dan ini terjadi secara tak sadar. Ada prinsip-prinsip, “ide-ide” pengorganisasi yang mengadakan pemilihan, membuat perhitungan, membuka jalan serta intelegen. Pendapat finalitas imanen ini bisa diterima, tetapi perlu ditolak argumen akan finalitas tyang semata-mata imanen, yang kecukupan dalam dirinya sendiri. Jika imanen semata-mata, harus diakui bahwa dalam materi elementer terdapat ciri-ciri pokok (atribut-atribut) dari suatu pikiran pencipta yang sama sekali lebih tinggi daripada pikiran sadar. Ini merupakan kontradiksi. Sebaliknya, jika materi yang tidak berakal menjadi tempat kedudukan aktivitas-aktivitas yang berakal, maka materi itu hanya dapat mengembalikan kita pada suatu pemikiran, suatu kebijaksanaan pengatur yang transenden. Jadi finalitas imanen menjadi bagiakan suatu partisipasi, suatu pengungkapan terjelma dari pikiran dan kebijakasanaan transenden itu. Interpretasi idealis tidak kita terima, karena suatu ide selalu berkaitan dengan suatu pikiran yang berpikir. Dunia idela hukum-hukum yang menguasai realitas berdasarkan poada pikiran. Pikiran ini harus bersifat sadar, jka ada, pada akhirnya tidak dapat dipahami selain berpijak pada suatu pikiran yang sadar.

Kesimpulannya: A.C. Ewing berpendapat bahwa “berbicara tentang ‘tujuan’ yang tidak terdapat dalam suatu intelegensi pun menurut saya kurang intelegibel, sama dengan berbicara tentang segitigas yang kurang perluasan.” Maka kita simpulkan bahwa akhirnya finalitas, atau penentuan pelaku oleh tujuannya mengandaikan bahwa tujuan itu dalam arti tertentu sudah ada sebelumnya. Tetapi pra-eksistensi (pra-adanya) ini pada akhirnya harus berupa suatu pra-eksistensi intensional dalam suatu ada yang berakal. Oleh sebab itu, disimpulkan bahwa harus ada suatu akal transenden, yang di dalamnya berakar, bagaikan dalam sumber dasar mereka, finalitas yang nampak sedang bekerja, laing sedikit dalam mahluk2 hdup. Tetapi… apakah akal ini adalah Allah?

 

 

14.   Finalitas atau penentuan pelaku oleh tujuannya mengandaikan bahwa tujuan itu dalam arti tertentu sudah ada sebelumnya. Apa maksud Demiurgos dan bagaimana kita menanggapi pemikiran tersebut sebagai sesuatu yang tidak tahan terhadap kenyataan akan adanya kesatuan fundamental dalam makhluk-makhluk hidup?

 

Demiurgos berarti artisan/seniman, craftman/pengrajin: yang dipakai Plato dalam bukunya Timeteus untuk menunjukkan penciptaan pengaturan dari dunia. I. Kant dalam Kritik Rasio Murni memuji argumen fisiko-teologis, tetapi menyangkal nilai absolutnya. Bukan hanya bahwa setiap penggunaan yang non-empiris dari prinsip-prinsip kausalitas, tetapi karena dalam argumen itu tidak ada pertimbangan antara akibat (sebagai titik pangkal), yaitu keteraturan dunia, dan penyebab yang hendak dicapai, yakni ada yang mutlak, tak terbatas, Pencipta.

Pendapat Kant tidak sejalan dengan pemikiran kita. Seandainya suatu demiurgos yang hanya mengatur materi yang sudah ada, maka materi itu sudah memiliki kodratnya, kemungkinannya, finalitasnya; paling tidak ia sudah tersusun dalam dirinya untuk menerima bentuk-bentuk, untuk menerima tindakan dari ‘demiurgos’ itu. Maka perlu mencari pengatur materi-materi yang memberi hakikat/esensi dan eksistensi pada setiap materi itu, yang menciptakannya. Itu tiada lain adalah akal pencipta (Allah). Penalaran ini tahan terhadap serangan Kant. Namun cukuplah kita ingat bahwa makhluk2 dilengkapi dengan kesatuan fundamental (tidak dengan yang artifisial). Keteraturan ke arah tujuan, ke arah kesatuan dari keseluruhan meresapi tiap-tiap unsur mereka. Forma mahluk hidup tidaklah menguasai secara ekstrinsik molekul-molekul yang menyusun mahluk hidup itu, melainkan merupakan suatu prinsip yang instrinsik baginya. Tidak seperti demiurgos atau pembuat arloji.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: