Ringkasan Filsafat Ketuhanan (kisi-kisi 15-39

Kaserat dening Aan ST

BAB V: ARGUMEN KOSMOLOGIS

 

1.       Jelaskan argumen kosmologis ada-Nya Allah menurut St. Thomas Aquinas. Apa keberatan Kenny dan Russel terhadap argumen kosmologis serta bagaimana kita menanggapi kritik mereka?

 

Argumen kosmologis-nya Thomas:

Argumen kosmologis mendapat bentuknya yang paling jelas dan terkenal dalam rumusan-rumusan St. Thomas Aquinas. Argumen ini dirumuskan dalam ketiga jalan pertama dari lima jalan (quinque viae) yang diajukan oleh St. Thomas Aquinas dalam bagian pertama Summa Theologiae. Jalan keempat bersifat ontologis karena berpangkal pada kata ‘ada’. Sedangkan jalan kelima bertolak dari keteraturan dan tujuan alam semesta, maka disebut argumen teleologis.

Kunci utama untuk tangkap maksud Thomas adalah JALAN PERTAMA, yaitu adanya motus (change- perubahan/bergerak), perubahan gerak, perpindahan. St. Thomas mengartikan kata motus sebagai yang mencakup perubahan kualitas, perubahan kuantitas dan perubahan tempat. Ada yang berubah sifatnya (misal: dingin jadi panas), ada yang kuantitas (kecil jadi besar), tempat (kanan jadi kiri). Perubahan adalah peralihan dari kemungkinan (potentia) ke perwujudan atau kenyataan (actus). Oleh karena kenyataan bahwa benda-benda mengalami perubahan, maka ada penyebab perubahan yang pada dirinya tidak disebabkan oleh yang lain, yaitu penggerak pertama. Penggerak pertama ini tidak ditemukan di dunia ini. Dan inilah yang disebut Allah.

JALAN KEDUA bepangkal dari paham sebab dan eksistensi. Fakta: tidak ada sesuatu yang menyebabkan diri sendiri. Keberadaan sesuatu butuh penyebab. Oleh karena itu keberadaan segala hal menuntut penyebab yang pada dirinya tidak disebabkan oleh sesuatu hal lain. Karena seandainya tidak ada penyebab yang demikian, maka jelaslah bahwa tidak ada sesuatu yang dapat berada. Karena keberadaan benda2 tergantung pada keberadaan penyebab yang tidak disebabkan, maka ada Penyebab pertama. Itulah Allah.

JALAN KETIGA memuat suatu usulan seperti jalan kedua, tetapi mulai berbeda. Kita menyaksikan ada pengada2 yang lahir/bereksitensi kemudian lenyap. Dgn kata lain, benda-benda dilahirkan dan dapat lenyap. Seandainya semuanya seperti itu maka ada suatu saat di mana tidak ada sesuatu sama sekali. Berhubung saat semacam itu tidak mungkin ada, maka tidak semua hal itu dilahirkan dan dapat hancur. Dengan demikian ada sesuatu yang tidak diturunkan dan tidak dapat hancur menurut batasan St Thomas: sesuatu yang harus ada. Dalam alam semesta terdapat yang “mungkin” ada (kontingen) dan yang “harus” ada (mutlak). Yang “harus” ada menurut orang beragama disebut Allah.

 

Keberatan Kenny dan Russel:

Anthony Kenny mengritik gagasan Thomas:

1.       Menurut Anthony Kenny hukum pertama Newton tentang gerak menghancurkan Jalan Pertama Thomas. Karena misalnya gerakan tubuh tertentu dapat dijelaskan oleh prinsip inertia dalam arti akibat gerakan tubuh sebelumnya tanpa mengandaikan suatu penggerak di luar dirinya. Di samping itu Kenny juga mengkritik Jalan Pertama sebagai berdasar pada anggapan keliru bahwa sesuatu dibuat secara aktual F hanya melalui bantuan dari sesuatu yang secara aktual F. “Orang yang dapat menjadikan orang lain menjadi raja tidak harus seorang raja.

Tanggapanku: … Paham ini mau mengatakan bahwa Allah bisa menjadikan manusia, tapi tidak identik bahwa Allah sama dengan manusia. Lalu bagaimana dengan paham bahwa manusia secitra dengan Allah?

 

2.       Berkenaan dengan jalan kedua, Kenny mengkritik bahwa uraian Thomas itu berdasarkan pada suatu paham tentang alam semesta yang bersifat fiksi berdasar astrologi saat itu. Sebab dunia seperti dibayangkan Thomas dengan latar belakang abad pertengahan tidak lagi sesuai dengan pengertian dunia jaman modern ini.

Tanggapanku: Ini khan masalah konteks suatu teori diciptakan. Lagipula, bagi saya pengertian bahwa Allah adalah penyebab yang tidak disebabkan masuk akal.

                               

Bertrand Russel mengatakan bahwa alam semesta hanya ada, dan hanya itulah. Ini sesuai dengan pendapat beberapa orang bahwa keberadaan sesuatu haruslah diterima sebagai fakta buta.

Tanggapanku: Tidak mungkin bahwa manusia bisa ‘damai’ dengan kenyataan buta semacam itu. Kodrat manusia adalah selalu berusaha untuk mencari tahu dan mencapai kejelasan yang sejelas-jelasnya.

 

 

 

2.       Uraikan keberatan terhadap argumen kosmologis pada umumnya!

 

       Berbagai keberatan pada umumnya berhubungan dengan prinsip Thomas bahwa tidak ada yang bergerak dan perpindah karena dirinya sendiri. Dalam kenyataan ada hal-hal yang bisa melakukan gerakan karena dirinya sendiri. Misal: manusia dan binatang. Kenny juga mengajukan kritik atasnya (nmr 16 di atas).

       “Problem deret mundur yang tak terbatas” juga mendapat kritikan tajam. Argumen kosmologis menegaskan bahwa tidak mungkin ada suatu seri tidak terbatas dari penyebaban; entah di mana pasti ada buck yang menghentikannya: penyebab yang tidak disebabkan. Tetapi muncul pertanyaan: kalau tidak ada sesuatu yang menyebabkan dirinya sendiri, mengapa ada penyebab yang tidak membutuhkan sebab lain daripada dirinya sendiri.

       Keberatan lain berkaitan dengan pendapat Thomas dan Leibniz ttg alasan sesuatu berada. Menurut beberapa orang keberadaan sesuatu haruslah diterima sebagai suatu fakta buta. Dalam suatu debat radio BBC yang terkenal antara F Copleston, Bertrand Russell  ditanya apakah ia setuju bahwa alam semesta adalah sesuatu pemberian “Cuma-Cuma”. Russell menjawab: “Saya mengatakan bahwa alam semesta hany adaa, dan hanya itulah. Segaris dengan jawaban ini John Hick menulis: “Pertama, bagaimana kita tahu bahwa alam semesta bukanlah suatu kenyataan buta yang melulu tidak inteligibel?”

       Kritik berikutnya menentang jalan ketiga. Suatu hal dapat hancur tidaklah berarti bahwa hal itu secara aktual akan hancur. Kucingku dapat ditendang, namun itu tidak berarti bahwa saya harus menendangnya. Segala sesuatu dapat lenyap tidak berarti bahwa entah oada suatu saat semuanya akan lenyap. Oleh sebab itu jalan Thomas dianggap sebagai kekeliruan karena membelokkan masalah.

 

3.       Masuk akalkah argumen kosmologis yang akhirnya sampai pada Penyebab yang tidak dapat disebabkan, apa alasannya? Bagaimana kaitannya dengan “deret mundur yang tak terbatas” dan masalah aktus-potensi?

 

ü      Pendapat Thomas tidak tergantung pertama-tama dari gambaran dunia (abad pertengahan yang keliru), melainkan dari penerimaan prinsip2 metafisis untuk menerangkannya. Perubahan mempunyai arti fisis dalam penyelidikan ilmu alam. Namn gejala yang sama juga mempunyai arti metafisis bagi mereka yang menerima kemungkinan pengetahuan metafisis: perubahan adalah peralihan dari kemungkinan ke kenyataan. Maka, perubahan menjadi landasan untuk menunjuk adanya Penyebab pertama. Namun sanggahan Kenny berjalan. Betul bahwa kingmaker tidak perlu menjadi raja danm bahwa orang mati tidak melakukan pembunuhan. Namun demikian Jalan Pertama tidak berbunyi. Pernyataan Thomas bisa jatuh pada pernyataan bahwa Allah adalah panas, dingin, merah jambu, dan lembut; karena Thomas mengatakan bahwa Allah adalah penyebab di dunia ini. Yang hendak dikatakan jalan pertama adalah bahwa hanya sesuatu yang nyata yang akan mengakibatkan perubahan untuk menjadi F yang secara potensial F. Jalan pertama menyiratkan bahwa hanya sesuatu yang berkemampuan yang dapat penyebabkan perubahan untuk menjadi F yang secara potensial F. Seorang Kingmaker tidak perlu menjadi raja tapi ia harus memiliki kemampuan untuk membuat raja. Dengan demikian argumen ini masuk akal dan melemahkan argumen Kenny. Pembunuh tentu bukan jenazah tetapi dia mempunyai kemampuan untuk membunuh.

ü      Penjelasan itu belum terlalu masuk akal. Masih harus dipersoalkan: 1) bahwa ada sesuatu penyebab bagi keberadaan yg kontingen, dan 2) bahwa penyebab ini tidak membutuhkan suatu sebab bagi eksistensinya sesuatu di luar dirinya.

Di dunia ini ada hal yang mulai ada dan lenyap. Ini merupakan tanda ketidakstabilan atau kontingensi mereka, walaupun pada suatu saat mereka termasuk realitas. Tetapi jika segala-galanya lenyap tidak mungkin ada realitas sama sekali. Maka mestinya ada sesuatu yang tetap ada atau mutlak ada. Rupanya menjadi bagian dari kegiatan akal budi kita untuk cenderung bertanya mengapa sesuatu terjadi atau ada jika itu tidak harus terjadi? Misalnya, ketika bangun kita bertanya mengapa ada genangan air di lantai? Pertanyaan semacam ini senantiasa muncul dalam alam pikir kita. Mungkin ada yang memberi jawaban ilmiah melalui hukum alam, fisika, maupun kimia. Tetapi bisa dipersoalkan lebih lanjut mengapa ada genangan itu, dan bukan ada sama sekali? Gimana datangnya? Bagaimana mungkin? Atas dasar pemikiran itu kita dapat menyimpulkan bahwa keberadaan sesuatu memunculkan suatu pertanyaan mengenai sebab keberadaannya. Karenanya, bagian petama dari argumen kosmologis adalah masuk akal. Tinggal menganalisa mengapa dikatakan bahwa penyebab dari hal-hal yang ada tidak menuntut suatu penyebab untuk beradanya.

ü      Permasalahan ini menyangkut soal deret mundur yang tak terbatas. Jika adanya A disebabkan oleh B, mengapa B tidak disebabkan oleh C,D,E,dst sampai ad infinitum? Apakah kalau kita di satu pihak mengatakan bahwa ‘hal-hal yang ada menuntut adanya penyebab’ dan di lain pihak mengatakan bahwa ‘ada penyebab yang tdk butuh penyebab yg lain’ bukan suatu kontradiksi? Mengetahui bahwa sesuatu adalah suatu penyebab tidaklah sama dengan mengetahui penyebab itu di dalam dirinya. Jika seorang dokter mengatakan bahwa sesuatu pasti menyebabkan gejala sakit pada pasien tertentu, tidaklah ia berarti abhwa ia menyatakan tahu apa penyebabnya. Maka jika seseorang mengatakan bahwa ada penyebab dari hal-hal yang ada, ia tidak menyatakan bahwa tahu penyebabnya. Maka, jika seseorang mengatakan bahwa ada penyebab dari hal-hal yang ada, ia tidak menyatakan bahwa tahu penyebab itu atau menyatakan bahwa penyebab itu sejenis dengan hal-hal yang ada di dunia.

ü      Maka, pada intinya ARGUMEN KOSMOLOGIS ADALAH MASUK AKAL. Yang menjadi permasalahan berikutnya adalah apakah argumen itu dapat menjadi jalan yang masuk akal untuk menunjukkan ada-Nya Allah? Nampaknya masuk akal untuk megatakan bahwa bila orang berbicara tentang Allah orang mengandaikan berbicara mengenai sesuatu yang kepada-Nya berbagai nal dapat dikenakan. Ingat kata2 Owen dan Anthony Flew bahwa bagi teisme klasik, Allah adalah satu, sempurna, mahatau, mahakuasa, dan abadi. Kiranya ada alasan yang memadai untuk berbicara mengenai penyebab dari segala hal yang ada, tetapi dapatkah kita mengidentifikasikan penyebab ini dengan Allah sebagaimana yg diakui dalam Teisme Klasik? Bukankah iini seperti kata Hume, membalikkan akibat-akibat yang dikenal pada sesuatu di seberang mereka dan mengenakan pada sesuatu itu kulaitas-kualitas yang lebih dari cukup untuk menjadikan mereka? Pertanyaan ini sebenarnya menyerang cara berfikir secara metafisis. Apa yang ada di luar yang empiris atau yang ada di luar apa yang dapat diferifikasikan secara positif tidak dapat bermakna. Padahal, tata metafisis adalah apa yang berada di seberang yang empiris ini. Telah kita diskusikan bahwa argumen kosmologis adalah apa yang berada di seberang yang empiris ini. Telah kita diskusikan bahwa argumen bahwa argumen kosmologis adalah argumen yang masuk akal dan kiranya masuk akallah untuk mengidentifikasikan Penyebab pertama yang “dihasilkan” oleh argumen kosmologis dengan Allah. Secara metafisis identifikasi ini dapat diterima. Permasalahan menjadi berbeda kalau orang membatasi diri hanya pada proses penyebaban empiris. Karena Allah dalam refleksi metafisis adalah Penyebab yang tidak dapat disebabkan atau Penyebab yang berbeda secara radikal menurut hakikatnya dengan penyebaban hal-hal duniawi.

 

BAB VI: ROH MANUSIA JALAN MENUJU ALLAH

 

4.       Mengapa setiap pernyataan parsial tidak akan ada nilainya dan tidak mempunyai arti, selain dalam hubungannya dengan suatu pernyataan radikal mengenai “totalitas ada”? Bagaimana membuktikan bahwa “totalitas ada” yang dapat dipahami itu merupakan tujuan dari roh, tidak terbatas, transenden-satu dan berada secara nyata?

 

Hakikat kenyataan kita bahwa sesuatu ada memuat suatu referensi yang terhayati, terlaksana (exercita), sama sekali tidak terumuskan (insignata), yakni referensi pada totalitas objektif dari “ada”. Tindakan akal secara radikal menyatakan terdapatlah ‘ada’. Terdapatlah suatu tata “ada”, dengan hukum-hukum dan kepastian-kepastiannya yang tidak mutlak. Tata ini yang ditegaskan tanpa mempunyai syarat, meresapi akal secara mutlak.

Pernyataan parsial tidak ada nilainya dan tidak mempunyai arti selain dalam hubungannya dengan pertanyaan fundamental ini: a) menegaskan adanya suatu objek tiada lain adalah menempatkannya dalam ‘totalitas yang ada’ ini; b) menegaskan kemungkinan suatu hal, sama saja mengatakan bahwa totalitas ini dapat merangkum hal itu; bahwa ada tempat untuk benda itu dalam totalitas ini. Tak ada kesangsian. Apa yang bertahan terhadap kesangsian itu, bukan saja kenyataan ontologis dari “aku”-ku pribadi, tetapi secara radikal, kenyataan pada umumnya, di dalam subjek sendiri tercakup. Dengan ini sekaligus ditegaskan dua hal:

a.       Eksistensi kongkret dari satu hal: bahwa terdapat “ada” yang kongkret, dan “ada” yang mungkin tidaklah punya arti selain dalam hubungannya dengan “ada” yang bereksistensi itu.

b.      Dunia ideal dengan hukum-hukumnya: “ada” yang bereksistensi tadi sekaligus nampak hanya sebagai suatu kasus, suatu perwujudan dari “ada” yang ideal, yang melebihi “ada” yang bereksistensi itu dalam segala-galanya.

Ada dua aspek yang berhubungan timbal balik. Di satu pihak: yang mungkin, yang ideal itu tidak mempunyai arti selain dalam hubungannya dengan yang bereksitensi. Tetapi di lain pihak: yang bereksistensi ini rupanya dikondisikan oleh hukum-hukum yang masuk akal dan dikelilingi oleh suatu lingkup tanpa perbatasan dari berbagai kemungkinan.

Totalitas objek ini nampak bagi akal sebagai akhir dari tendensinya karena:

          Hanya totalitas ini yang sanggup memuaskan daya penegasan konstitutif dari akal;

          Di hadapan totalitas ada tak ada lagi “mengapa”

          Tidak ada lagi apa yang tidak dihadirkan;

          Keraguan, kegelapan, yang membuat akal tidak tenang, disebabkan oleh pengetahuan kita yang selalu kurang memadai.

Berarti bahwa akal cenderung untuk menyelami totalitas objek pemahaman ini, yang di dalamnya dia pada akhirnya dapat menemukan istirahat dan itulah baginya yang merupakan nilai tertinggi. Semua pengetahuan kita hanya mendapat nilai dari hubungannya dengan nilai tertinggi itu.

Maka, dalam setiap tindakan budi, dalam setiap pernyataan akal ditegaskan totalitas “ada” yang iteligibel sebagai tujuan tendensinya. Penegasan terhadap totalitas ini bagi akal merupakan suatu persyaratan a-priori. Keputusan-prinsip yang kepabsyahannya tidak tergantung pada panca indera/empiris.

 

“Totalitas ada” yang dapat dipahami itu tidak terbatas

Malebranche: “Kita selalu bergerak untuk maju lebih jauh.” Daya akal tidak terbatas: tendensinya melampaui semua objek yang terbatas, buktinya. Andaikan itu terbatas, dari kenyataan, akal telah memikirkan batas tersebut, itu sudah berarti bahwa ia sudah melampauiya. Totalitas seperti itu tidak memuaskan akal. Memahami batas sudah berarti melampauinya. Ada dua pengartian batas:

1.       atau dengan melihat sekaligus: di samping objek yang diandaikan terbatas, ada suatu objek yang lebih besar daripadanya. (batas dunia, dgn tebing yang membatasi danau),

2.       atau dengan mengalami adanya suatu resistensi untuk maju ke arah yang lebih tinggi/jauh: demikian saya memahami batas dari kekuatan2 saya dalam ketidakmampuan saya untuk melaksanakan. (misal: menerjemahkan buku) Ini berarti saya menghendaki/condong ke arah yang lebih dari yang saya lampaui.

Akal tidak hanya menegaskan “ada” yang terbatas ini atau itu, tetapi juga yang terbatas sebagai yang terbatas dan batas sebagai batas. Ini tidak mungkin tanpa mengatasi batas sebagai batas yang berarti mengarah pada yang tidak terbatas. Yang tak terbatas menjadi tujuan akhirdari dinamisme akal: yaitu tujuan yg tak pernah terkuasai dalam dirinya sendiri, tetapi yang selalu masih dituju dan ditegaskan. Hanya dalam hubungannya dengan akal, “ada” yang murni itu, atau “ada” yang bukan hasil pemberian menampakan diri sebagai tak terbatas.

 

“Totalitas ada” yang dapat dipahami bersifat transenden dan satu

“Transenden” berarti totalitas objek pemahaman itu tdk dapat disamakan dengan pengumpulan semua “ada” yang terbatas, bahkan andaikata pun yang terakhir ini dinyatakan tak terbatas jumlahnya. Totalitas ini mengatasi kumpulan dan jumlah itu: lebih awal dan lebih tinggi daripada mereka. Tak terbatas dalam hal kesempurnaannya adanya. Keseluruhan dunia “ada-ada” tidak dapat terlepas dari keterbatasan anggota2nya. “… a lack affecting the very exsistence of the members cannot fail to have repercussion for the whole; it cannot fail to affect the existence of the whole”.

Hanya dengan yang tak terbatas itu dinamisme akal budi bisa dipuaskan. Setiap kemampuan, setiap dinamisme, bersifat satu. Sesunggunya semakin orang maju dalam pengetahuannya, semakin pula akalnya menyatu dan menjadi intensif. Padahal yang menyatukan suatu kemampuan, suatu dinamisme adalah objeknya, tujuannya dan dalam hal dinamisme intelektual, objek dan tujuannya adalah “ada” yang tak terbatas – maka totalitas “ada”, objek dan tujuan akhir dari dinamisme intelektual, harus merupakan suatu totalitas yang “satu”, mendahului semua yang ada, transenden, dan bukan sekedar kumpulan “ada-ada” yang tetap majemuk. Totalitas kolektif belaka (masa eksistensial tertentu) bukan yang kita maksudkan.

 

“Totalitas ada” yang dapat dipahami itu bereksistensi secara nyata

Totalitas yang kita bicarakan ini bukan buatan pemikiran, bukan ideal semata-mata, tapi suatu realitas kongkret, sungguh ada. Lebih dulu, totalitas plg sedikit hrs diakui sebagai yang mungkin (bukan berlawanan dengan akal). Tujuan/akhir suatu gerakan tidak pernah sungguh2 bersifat ekstrinsik terhadap gerakan itu. Ia termasuk bagian gerakan itu. Suatu tujuan telah dirasakan adanya dalam gerakan itu, lewat semacam kehadiran intensional, “imanensi dinamis”. Memberikan spesifikasi kepadanya dan menjadi semacam kuasi-formanya. Atau: tujuan akhir ini adalah, dalam tata dinamis, seperti halnya forma memberikan penentuan terhadap adanya.

Seandainya totalitas inteligibel tidak ada, paling sedikit mungkin dan seandainya totalitas ini tidak mempunyai konsistensi objek, tendensi akal budi akan terbawa pada suatu objek khayali. Ini berarti setiap “ada” ditegaskan berkat hubungan implisit dengan totalitas yang dapat dipahami adalah rekaan belaka. Ini semua absurditas?

1.       Adalah tidak mungkin bahwa setiap “ada/objek” diegaskan berkat kaitannya dengan “apa yang tidak ada”

2.       Juga ditolak, seakan-akan “yang tidak ada” itu dinyatakan sebagai tujuan akhir tendensi alamiah dari kemampuan “ada”.

Mempertimbangkan alasan-asalan di atas, maka paling sedikit totalitas tersebut adalah mungkin. Kata mungkin di sini adalah unik – sungguh2 bereksistensi:

       Jika suatu “ada” terbatas tidak bereksistensi, ia tetap mungkin, cukup bahwa ia dapat diberi eksistensi oleh suatu “ada” yang lain.

       Tetapi suatu totalitas yang dipahami dari “ada” yang mendahului, mengatasi setiap “ada” yang terbatas, di luar mana sesuatu pun dapat dibayangkan, bagaimana, oleh siapa, lewat apa, ia dapat memperoleh eksistensinya?

       Juka totalitas itu tidak bereksistensi, tak sesuatu pun bereksistensi (tidak mungkin). Jika demikian kemungkinan dan objektivitasnya tidak mempunyai dasar. Di atas inilah yang lain bertumpu.

       Karena pada akhirnya bukanlah realitas yang bertumpu pada kemungkinan, tetapi kemungkinanlah yang bertumpu pada realitas.

       Maka, perlulah dinyatakan bahwa totalitas ini bukan hanya mungkin, objektif, tetapi juga secara nyata bereksistensi.

 

 

5.       “Totalitas ada” yang dapat dipahami itu tidak terbatas, bersifat transenden dan satu, serta bereksistensi secara nyata.

 

Lih jawaban 18

 

6.       Jelaskan gagasan “Itinerarium mentis in Deum”! Bagaimana prinsip bahwa “hasrat alam itu tidak pernah sia-sia belaka” tidak bisa dibenarkan? Perhatikan istilah “dinamisme alam” dan “hasrat yang berdasarkan kodrat akal sendiri”.

 

Itinerarium mentis in Deum = Perjalanan jiwa ke arah Tuhan.

Agustinus melukiskan hidup manusia sebagai perjalanan. Jiwaku belum tenang kalau belum beristirahat dalam Tuhan (kata2 dy yg terkenal). Walau belum sistematis, ajaran agustinus menuju pada pandangan bahwa pikiran sungguh2 merupakan jalan yang menuju ke arah Allah. Ini merupakan “bukti” lain adanya “Allah”. Ia menyelidiki struktur jiwa manusia. Pada taraf paling rendah: jiwa manusia punya panca indra, pada taraf yang lebih tinggi yang dimiliki adalah “panda indra batin” seperti bayangan dan ingatan atas taraf yang tertinggi dipunyai akal budi. Akal budi tertuju pada hal-hal jasmani dan rohani. Adanya nilai2 rohani inilah yang membuat jiwa manusia disebut roh. Dalam roh terletak kebenaran aturan dan cinta sebagai nilai-nilai hidup. Jalan pemikiran ini diteruskan oleh à Bonaventura, dll. Perjalanan ini dlm tradisi kristen disebut Itinerarium mentis in Deum = Perjalanan jiwa ke arah Tuhan.

 

“hasrat alam itu tidak pernah sia-sia belaka”

Artinya, suatu dinamisme alam tak akan pernah menuju kepada sesuatu yang tidak mungkin. Ini disebut prinsip realisme dari setiap keinginan kodrati. Yang mungkin, ideal, dunia dari esensi2 dan hukum2 tidak berdiri pada dirinya sendiri: mereka tergantung pada yang ada secara eksistensial.

Keberatan seseorang terhadap argumen ini hanya mungkin bagi mereka yang sudah mengakui kebijaksanaan dan penyelenggaraan ilahi, kita menyatakan bahwa prinsip tersebut tidak lain dari akibat yang wajar dari realisme esensial pada setiap dinamisme tendensial. Tetapi tidak semua hasrat semua hasrat mengandaikan adanya atau kemungkinan adanya objek, bisa juga khayali: ahli matematika yang ingin mengusahakan sebuah lingkaran dari segi empat. Tidaklah demikian gagasan yang ada pada kodrat dari roh sendiri. Bila dikatakan bahwa hasrat semacam ini mengarah pada suatu objek yang pada dirinya tidak ada kenyataannya, sama dengan mengatakan bahwa kodrat dari mana hasrat itu berasal, secara instrinsik bersifat absurd.

 

7.       Bandingkan gagasan itu dengan Jalan Keempat Thomas. Norma-tujuan pikiran saya sekaligus merupakan apa yang menerangkan kemungkinan difahaminya makhluk-makhluk terbatas dan bahwa Dia merupakan kausa eksemplar mereka dan kausa efisien. Apa artinya?

 

Argumen Thomas “Jalan Ke-empat” adalah ex gradibius entis (dari tingkat-tingkat ada/kesempurnaan). Pertanyaan diganti: “manakah penyebab terakhir yang mendasari tingkatan (objektif) dari ‘ada-ada’ dengan “manakah norma terakhir yang mendasari kebenaran putusan-putusan yang kita gunakan untuk menegaskan bahwa “ada-ada” itu kurang lebih berada?” Kita mengerti bahwa akal kita memberikan harkat berbeda-beda terhadap mahluk2 sesuai dengan penilaiannya, y.i sesuai dgn tingakatan kesesuaian mahluk2 itu, sebagaimana adanya, dengan norma tujuan yang dihayati akal itu. Sifat apresiasif putusan2 kita menempatakan yang kurang lebih sempurna dalam totalitas.

Pengetahuan manusia senantiasa maju berkat hubungannya dengan norma-tujuan akal (mendapat derajat dari adanya). Gerakan atau dinamisme yang menanjak terungkap secara kongkret dalam putusan-putusan: benarnya, baiknya, adanya.

 

 

Skolastik: menegaskan bahwa alam diciptakan menurut rencana Ilahi yang mengandung gagasan2 abadi dalam Akal Allah.

Causa conoscendi            : Alasan/dasar untuk suatu kebenaran

Causa fiende                      : Sebab dari keberadaan sesuatu

Causa exemplar               : pengaruh plato: (Idea) Sebab “pola/contoh”

 

Pikiran tak dapat menemukan diri, mengenal dirinya dalam mahluk2 terbatas, kecuali jika mahluk-mahluk terbatas itu ambil bagian dalam norma2 tujuan ini. Berarti norma-tujuan pikiran saya sekaligus merupakan apa yang menerangkan kemungkinan dipahaminya makhluk2 terbatas dan bahwa dia merupakan causa exemplar mereka. Dan ketergantungan total dalam hal kemungkinan pemahaman mengandung pula ketergantungan dalam hal adanya, maka kausa eksemplar harus menjadi kausa efisien. Maka melalui finalitas dinamisme intelektual kita telah menggabungkan kausa eksemplar dengan kausa efisien dari ada-ada yang terbatas.

 

 

8.       Bagaimana melihat jalan roh dan argumen ontologisme? Perhatian juga ungkapan “ketidakhadiran yang dirasakan”. Apa yang dimaksudkan bahwa pada Allah perangkuman bersifat aktual?

 

Argumen kita berbeda dengan argumen ontologisme. Allah bkn saja yang pertama secara ontologis, tetapi sebagai objek pertama yang kita kenal. Jika setiap ada yg terbatas tak dapat ditegaskan selain daam hubungannya dengan Ada yang tak terbatas, bukanlah Ada ini harus menjadi yang pertama-tama dikenal, atau tidakkah pengetahuan tentang Ada ini mendahului pengetahuan akan segala hal yg terbatas?

Perlu diingat bahwa yg membuat pemikiran mjd sungguh2 pemikiran adalah suatu hubungan perangkuman tertentu langsung dengan totalitas ada. Tetapi hubungan ini berbeda seturut intelegensi yang bersangkutan.

          Pada Allah: perangkuman itu bersifat ‘aktual’, sempurna: Allah adalah totalitas ada yang subsisten; padaNya terurai seluruh “virtus essendi”.

          Pada kita: perangkuman itu hanya berupa kemampuan dan keinginan. Ketidakterbatasan kita bersifat potensial/ tendensial. Totalitas itu tersirat dlm diri kita seperti ceruk, ketidakhadiran, kekurangan. Kita tidak puas terhadap kebenaran2 yg parsial dan relatif. Inilah yg membuat kita sadar akan keinginan pada yang tak terbatas.

Pemikiran ini pada dasarnya adalah penegasan akan Allah: tidak berarti eksistensiNya nampak secara langsung, tentang diri kita sendiri pun tak pernah sempurna.

Perbedaan dengan ontologisme: Bahwa totalitas ditegaskan, bukan ‘dilihat’, justru sebaliknya ketidakhadiranNya yang dirasakan. Konsep kita hanya dapat menunjuk dan menegaskan-Nya bukan memvisualisasikannya. Di disitulah letak pebedaan dengan ontologisme. Hubungan ada-ada dengan Ada yg tak terbatas bukanlah hubungan yg terlihat antara dua realitas yang sama-sama dilihat oleh intelegensi; kita tidak mengenal ada-ada yg terbatas sebagai terbatas berdasarkan perbandingan dengan Ada yang tak terbatas, melainkan dgn merasakan ketidakmampuan mereka untuk memuaskan ambisi2 dari pikiran. Kapasitas kita untuk menerima totalitas ada bukan pada tingkat kesadaran konseptual, melainkan pada tingkat kondisi kesadaran kita.

 

BAB VII: MAKNA ‘BUKTI’ ATAU ‘JALAN’ MENUJU ALLAH

 

9.       Kondisi ada dan roh yang terbatas membutuhkan secara hakiki ada-Nya Allah. Dialah yang mendasari dan mengatasi segala bentuk hubungan subjek-objek.

 

Kondisi ada dan roh yang terbatas membutuhkan secara hakiki ada-Nya Allah

 

Kehadiran Allah bersifat tendensial dan dinamis, bukan intuitif dalam arti sempit. Alasannya, karena masih ada beberapa kekurangan/ketidakmampaun dalam diri manusia”

1.       Ketidakmampuan ada2 untuk berada dari diri mereka sendiri, dan kebutuhan mereka untuk bersandar pada Ada yang mutlak dan wajib.

2.       Kekuarangan ada-ada berhadapan dengan pemikiran. Misal: kloning

3.       Kekurangan pemikiran2 kita sendiri

Dasar semua pembuktian adalah kebutuhan Roh akan Allah. Kebutuhan ini sekaligus kekurangan dan keluhuran, sebab menunjukkan kekuatan untuk menerima Allah, dan karenanya sudah merupakan kehadiran Allah yg potensial/tendensial, yg memberi kekhasan pd roh sendiri. Dlm kodrat spiritual ada citra & kesamaan yg merupakan prinsip dari setiap pengenalan yg kita miliki ttg Allah.

 

Dialah yang mendasari dan mengatasi segala bentuk hubungan subjek-objek.

 

Jika Ia bukan intuisi dlm arti sempit, dan tidak a priori, maka pikiran kita adalah partisipasi pada pikiran yang mutlak. Nampaknya, dr eksistensi benda2, kt tau sapa Allah. Tp sebenarnya Allah bukanlah dia yg dikondisikan oleh sesuatu apa pun dan bukan jika kita bisa menilai-Nya. Bila kita menilainya, yg kita nilai adlh gambaran kita ttg dia yg takkan pernah memadai.

Tdk mungkin qt berbicara tanpa menggunakan istilah subjek-objek. Kita mencari tatanan khas metafisik, yaitu tatanan ada sendiri, yg dari dirinya bukan merupakan subjek/objek.

Allah sumber asasi segala yg ada (baik subjek maupun objek), kondisi apriori bagi semua objektivasi dlm pengetahuan manusia. Transendensi terhadap segalanya, berada di luar kategori, meskipun untuk berbicara ttg Dia kita hrs menggunakan kategori2 kita. Jika yg mutlak merupakan kondisi yg transendental a priori bg kehidupan akal sendiir, maka Dia adalah a priori terhadap segala kategori. Orang tidak dapat melepaskan Ada yg menjadi sumber itu ke luar dari ikatan-ikatan subjektivitas dan objektivitas.

 

 

10.   Bagaimana menjelaskan dan menangani secara benar adanya kesulitan bahwa Allah mendasari dan mengatasi segala kategori subjek-objek? 40

 

Jika Ia bukan intuisi dlm arti sempit, dan tidak a priori, maka pikiran kita adalah partisipasi pada pikiran yang mutlak. Nampaknya, dr eksistensi benda2, kt tau sapa Allah. Tp sebenarnya Allah bukanlah dia yg dikondisikan oleh sesuatu apa pun dan bukan jika kita bisa menilai-Nya. Bila kita menilainya, yg kita nilai adlh gambaran kita ttg dia yg takkan pernah memadai.

Tdk mungkin qt berbicara tanpa menggunakan istilah subjek-objek. Kita mencari tatanan khas metafisik, yaitu tatanan ada sendiri, yg dari dirinya bukan merupakan subjek/objek.

Allah sumber asasi segala yg ada (baik subjek maupun objek), kondisi apriori bagi semua objektivasi dlm pengetahuan manusia. Transendensi terhadap segalanya, berada di luar kategori, meskipun untuk berbicara ttg Dia kita hrs menggunakan kategori2 kita. Jika yg mutlak merupakan kondisi yg transendental a priori bg kehidupan akal sendiir, maka Dia adalah a priori terhadap segala kategori. Orang tidak dapat melepaskan Ada yg menjadi sumber itu ke luar dari ikatan-ikatan subjektivitas dan objektivitas.

 

 

11.   Apa tujuan “bukti” ada-Nya Allah dalam filsafat ketuhanan? Mana persoalan berat sehubungan pengetrapan pemikiran kita pada Allah? Dan apa yang kita maksudkan bila kita berbicara tentang Allah? 40

 

Jalan menuju Allah perlu digabungkan dgn pengalaman penghayatan akan Allah. Tp pengalaman tsb sering kurang terang, msh implisit. Keyakinan ttg adanya Allah baru diwujudkan dlm pengakuan percaya kepadaNya dlm iman dan diterangkan melalui “bukti atau jalan” tersebut. “Bukti” ini g pernah sampai pd kepastian ilmiah, coz soal Allah g pernah jadi soal rasional belaka. KEPASTIAN AKAN AKANYA ALLAH ADALAH KEPASTIAN EKSISTENSIAL.

Tujuan bukti adanya Allah adalah untuk meyakinkan orang melalui pertimbangan akal budi (rasional) bahwa Allah sungguh2 ada. Pengakuan/penyangkalan akan adanya Allah tdk tergantung pd kekuatan ilmiah ‘bukti’ melainkan pd PENDIRIAN PRIBADI thdp soal hidup.

 

Persoalan berat penerapan konsep Allah kpd Allah:

1.       Dari satu pihak: saya tdk dapat mengangkat diri saya menuju Allah dengan titik tolak hal-hal duniawi kecuali jika saya berpikir ttg Allah lewat konsep2 (bukti), tetapi seolah2 Dia sendiri merupakan suatu hal duniawi.

2.       Dari lain pihak, saya tak dpt mencapai Allah sebagai Allah, jika pada saat yg sama saya tidak menyangkal bhw Ia termasuk mahluk alamiah (tunduk pd hukum metafisis)… ? contoh??? …., karena Dialah yg mendasari semuanya itu

Saya g dapat menggambarkan Allah kecuali sebagai suatu ada dan sekaligus menyangkal bhw dia itu suatu ada. Hanya dalam hubungan dgn ada-ada itu dan sekaligus menyangkal hubungan ini. Allah bukan Allah jika tidak menguasai saya, melebihi tanpa batas, tetapi ini mengandung resiko bhw ia luput dr pengalaman saya, lalu Ia tidak ada lagi secara nyata bagi saya.

Berbicara ttg Allah berarti ‘beranalogi…?

 

BAB VIII: BAHASA YG TERBATAS DAN ALLAH YG TAK TERBATAS; KONSEP ANALOGI TRANSENDENTAL

 

12.   Dalam analogi dan dinamisme intelektual kita mengenal Allah secara positif, secara negatif, dan melalui suatu kombinasi dari yang positif dan yang negatif. Bagaimana penjelasannya? Ingatlah juga via afirmationis, via negationis, dan via eminentiae.

 

13.   Konsep yang kita pakai untuk Allah harus senantiasa diperbaiki. Untuk itu perlulah kita memakai jenis bahasa yang tepat. Jenis bahasa univok atau analog yang tepat. Mengapa? Ingatlah perbedaan antara keduanya, juga dalam hubungannya dengan simbol dan perbedaan antara res significata dan modus significandi. Apa artinya analogi proportional transendental bagi konsep tentang Allah?

 

14.   Istilah-istilah positif tentang Allah benar-benar merupakan gagasan yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan seturut akal budi. Apa maksudnya dan terangkan hal itu sehubungan dengan sifat-sifat yang ada pada diri Allah secara virtualiter dan eminenter dan formaliter dan eminenter?

 

15.   Dimensi moral manusia mempunyai peranan yang penting dalam pembicaraan tentang Allah dalam konsep analogis. Apa maksudnya dan lihat juga pendapat Gabriel Madinier.

 

16.   Jelaskan makna dan jalannya argumen deontologis atas dasar kewajiban moral!

 

BAB IX

17.   Jelaskan garis besar perkembangan faham kreasionisme dalam filsafat barat kuno dan tradisi yudeo-kristiani!

 

18.   Coba terangkan arti dan isi paham kreasionisme menurut kelima unsurnya yang penting! Mengapa teisme kreasionis menjadi satu-satunya jalan untuk sembari mengakui eksistensi Allah sekaligus tidak menghapus keaslian ontologis dunia?

 

 

 

 

19.   Jelaskan hipotesis tentang suatu dunia tanpa awal dan adanya permulaan temporal dunia!

 

 

 

 

20.   Penciptaan yang bebas mengesampingkan segala macam keharusan. Terangkan!

 

 

 

 

21.   Bagaimana menjelaskan secara memadai adanya faham kreasionisme dan adanya kebebasan manusia?

 

 

 

 

 

22.   Mengapa kekekalan dunia tidak pernah dituntut dan tak pernah dapat dibuktikan? Mengapa permulaan tempral dunia tidak dapat dibuktikan secara apriori? Bandingkan dengan pendapat Donceel!

 

 

 

BAB X

23.   Bagaimana menanggapi secara benar pernyataan: “Kejahatan ada, maka Allah tidak ada”? Mengapa adanya kejahatan di dunia bukan merupakan alasan yang cukup untuk mengingkari adanya Allah yang mahabaik dan mahakuasa? Melalui jalan mana kita dapat “mendamaikan” adanya kejahatan dan ke-mahabaik-an serta ke-mahakuasa-an Allah?

 

 

 

BAB XI

24.   Jelaskan permasalahan pokok transendensi dalam persoalan pandangan panteisme serta mana saja sumber-sumber panteisme?

 

 

 

36. Bagaimana perjalanan pokok sejarah panteisme dan alasan-alasan utama apa yang melemahkan argumen panteisme

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: