Edmund Husserl

Bapak Fenomenologi

 

 

Fenomen dan Intensionalitas

·        Fenomen: Realitas yang sesungguhnya, “ada yang menampakkan diri atau realitas yang tampak”.

·        Fenomenologi: Pengetahuan diskursif dan teoritis  hasil dari kesadaran. Kesadaran adalah cermin di mana fenomena merefleksi diri dan mengungkap diri.

·        Obyektif bukan apa yang ada pada dirinya, terpisah dari subjek tetapi sesuai dengan subjek yang memahami.

·        Tidak ada obyektivitas tanpa subyek dan tidak ada obyek yang nampak tanpa suatu pandangan.

·        Jadi kesadaran selalu kesadaran akan….. dan fenomen (objek) selalu menampakkan diri kepada subjek à intensionalitas (struktur hakiki kesadaran)

·        Intensionalitas memberi makna kepada dunia. Tidak ada dua realitas substansial.

 

Konstitusi

1.        Proses tampaknya fenomen kepada kesadaran. Fenomen mengkonstitusikan diri dalam kesadaran.

2.        Aktivitas kesadaran yang memungkinkan tampaknya realitas. Dunia real dikonstitusikan oleh kesadaran.

Konstitusi = eksplisitasi

·        Tidak ada kebenaran pada dirinya, lepas dari kesadaran, kebenaran hanya mungkin dalam korelasi dengan kesadaran (sintesa persepsi gunung à konstitusi)

·        Konstitusi bukan penciptaan makna tetapi eksplisitasi.

·        Dalam setiap pemahaman ada endapan historis di dalamnya à proses yang mengakibatkan fenomen menjadi real dalam kesadaran à proses historis.

·        Menjelaskan apa lagi dalam kehidupanku? Misal: Kita begitu mudah menilai diri orang lain.

 

Metode Variasi Imajiner

·        Untuk memahami esensi fenomena perlu metode:

1.      Mulai dengan objek yang sudah didefinisikan (ex: meja) lalu dibuat variasi secara sistematik aspek-aspeknya yang membentuknya sesuai dengan gambar dan pengertian yang kita miliki.

2.      Aspek-aspek mana bila dihilangkan atau diubah akan mengakibatkan perubahan bentuk atau hilangnya identitas objek tersebut.

Contoh Metode Variasi Imajiner:

Sebuah meja yang dipotong; dipotong dikit tetap meja – misal satu kakinya. Tapi kalau dibagi menjadi dua tepat di tengah-tengahnya, sudah tidak bisa lagi dikatakan bahwa itu meja.

3.      Unsur-unsur penting yang tidak dapat berubah itu adalah esensi (eidos)

·        à esensi ini universal: semua kesadaran fenomenologis yang rigoris membawa ke tampilnya esensi atau makna esensial.

 

 

Eidos bukan idea atau bentuk

·        Esensi merupakan korelat intensi kesadaran yang merefleksikan intensionalitas

·        Esensi bukan entitas imaterial transenden seperti idea Plato, bukan imanen pada hal-hal tertentu seperti morphe (bentuk) Aristoteles.

·        Esensi itu objektif tetapi hanya bagi kesadaran yang membidiknya.

 

Hermeneutika mengacu ke Fenomenologi

·        Acuan ke fenomenologi menekankan pada distansiasi yang merupakan inti pengalaman kepemilikan.

·        Setiap kesadaran selalu melewati saat pengambilan jarak terhadap yang dihayati.

·        Pengambilan jarak sama dengan epoche, dalam makna non-idealis sebagai aspek gerakan intensionalitas kesadaran menuju makna.

·        Fenomenologi mulai pada saat menghentikan sementara apa yang dihayati demi yang bermakna. Epoche terkait dengan arah makna

 

Tindak kesadaran à Membidik Makna

·        Noese : Tindak kesadaran untuk membidik makna yang melampaui diri untuk menuju ke sesuatu yang lain.

·        Noeme : Yang dibidik yang diwadahi dalam makna intensional. Noeme imanen dalam Noese dan sekaligus imanensi aktivitas kesadaran yang dibentuk sebagai di luar kesadaran (transendensi)

Contoh hubungan Noese dan Noeme:

ü      Sharing doa à “saya ndak sreg menyebut Allah sebagai Bapa coz bapak ndak cocok dengan aku”

ü      Melayat satu mobil dengan Romo2: “Saya merasa diperhatikan ketika turun dari mobil. Padahal mungkin saja yang diperhatikan hanya para romo”

·        Bidikan intensional ini yang memberi makna kepada dunia.

·        Maka kesadaran bukan membuat orang menjadi penonton karena ia adalah relasi.

Subjek        : Selalu dalam dunia, bukan subjek yang merefleksikan.

 

Intersubyektivitas

·        Argumen solipsisme memperlihatkan miskinnya makna karena hasil dari reduksi pengalaman diri.

·        Pengalaman yang direduksi pada diri manusia tidak memperhitungkan pengalaman lain atau komunitas.

·        “Saya berpikir” membawa ke memerlukan jaringan intersubyektif untuk dapat mewadahi dunia dan tidak cukup hanya “saya berpikir”.

·        Subyek-subyek lain dapat masuk dalam hubungan subyek-subyek tidak hanya hubungan subyek-obyek.

·        Analisa konstitusi tidak mungkin tanpa benang merah ke arah orang lain yang juga memiliki kesadran yang mengarah pada fenomen.

Mengapa perlu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: