FRIEDRICH NIETZSCHE

1844 – 1900

 

Karya-karyanya:

          Die Geburt der Tragodie (1872)  [ Kelahiran Tragedi]

          Menschlisches, Allzumenschilches (1879) [ Manusiawi, Terlalu Manusiawi]

          Die Froliche Wissenschaft (1882) [ Kegembiraan Mengetahui]

          Also sprach Zarathustra (1883-1885) [ Demikian kata-kata Zarathustra]

          Jenseits von Gut und Bose (1886) [ Melampaui yang Baik dan Jahat]

          Zur Genealogie der Moral (1887)

 

Pengaruh Schopenhauer

Ø      Kant, realitas (noumena) tidak bisa jadi obyek ilmu pengetahuan; Schopenhauer à bisa mempunyai pengalaman ttg realitas.

Ø      Pengalaman: pengalaman akan tubuh, sebagai kebutuhan, keinginan, kekuatan, kemampuan bertindak, kehendak.

Ø      Melalui tubuh, kita memiliki akses realita yang dalam. “ada” yang dalam dan dinamis = kehendak

Ø      Kehendak ini tidak sadar. Tapi hidup yang menghendaki, keinginan tak terbatas, dorongan universal, tanpa bentuk dan berbentuk.

Ø      Tidak ada obyek yang dapat memuaskan kehendak tak terbatas. Tidak ada finalitas kehendak. Ia buta, tidak sadar, konflik dengan dirinya.

Ø      Konflik: realitas universal dan tidak ada jalan keluarnya, sumber penderitaan tak terbatas. Cinta dan Rasio à strategi kehendak untuk hidup. Moral: kepekaan akan penderitaan universal; belarasa: langkah pemecahan sejauh menghapus individualisme egois.

Ø      Indiv. egois: afirmasi kehendak yang melahirkan penderitaan dan representasi yang menipu.

Ø      Pembebasan: matinya kehendak-hidup dalam diri à asketisme

 

Metafora dan Realitas Jamak

Ø      Banyak tulisannya berbentuk aphorisme: à rumusan kebijaksanaan, anjuran singkat tentang moral atau ilmu.

Ø      Baginya yang riil berbentuk jamak, selalu terbuka. Bahasa dalam konsep logis & ilmiah tidak cocok untuk melukiskan yang riil. Metafora (konotatif) lebih mampu mengungkapkan dunia. Bahasa = metafora. Konsep= metafora yang sudah usang/mati

Ø      Metafora dan analogi dapat mengintrodusir kesatuan dalam kekacauan fenomena dengan mengumpulkan yang berbeda.

Ø      Analogi bisa mengelompokkan banyak hal yang tidak sama tapi mirip. Setelah stabil, pengelompokan itu menjadi kategori, konsep, atau esensi.

Ø      Kekeliruan: menganggap konseptualisasi sebagai realitas

Ø      Konseptualisasi: interpretasi dari sejumlah cara bahasa analogis

Ø      Metafora sesuai dengan realitas yang dalam à mempersiapkan kedekatan antara filsafat dan sastra, akhir pembedaan antara kebenaran dan fiksi, fakta dan nilai.

 

Menerima pluralitas agama berarti mengakui keterbatasan manusia dalam menangkap kesempurnaan Tuhan.

ü      Perbedaan justru menunjukkan betapa kaya dan kepenuhan Tuhan

ü      Dalam pelembagaannya,  agama diwarnai unsur sosio-sejarawi (hukum kontingensi). Dalam proses penafsiran, terselip juga berbagai kepentingan.

Tuhan terlalu kaya dan sangat tak terbatas sehingga tradisi suatu agama yang tentu saja memiliki keterbatasan tidak akan bisa menimba secara tuntas kesempurnaan dan kepenuhan Tuhan.

 

Perspektivisme

ü      Pemikiran Nieszche à hermeneutik sekaligus berkaitan dengan produksi dan institusi2 (moral, agama, metafisika, dan ilmu).

ü      Ciri interpretatif dari semua yang terjadi: bahwa tidak ada kejadian pada dirinya. Kebenaran: sekelompok fenomena yang diseleksi dan dikumpulkan oleh penafsir. Teks yang sama memungkinkan sebuah penafsiran, tidak ada penafsiran yang paling tepat, yang mendasari yang lain.

ü      Prespektivisme: apa yang  dianggap sebagai riil atau kebenaran tergantung pada perspektif yang dipilih.

ü      Tidak ada yang riil pada dirinya sendiri, tidak ada kebenaran mutlak, tidak ada makna tunggal.

ü      Pilihan perspektif tergantung pada nilai (kepentingan dan tujuan) yang diistimewakan oleh subjek.

ü      Semua perspektif à aksiologis (diarahkan nilai). Tidak ada perspektif melulu logis, bebas nilai, objektif.

 

Revolusi Metodologi

ü      Kebaruannya terletak  pada metodologi.

ü      Mulai dengan menafsirkan semua proposisi yang paling rigoris, penilaian, dengan tidak bertanya salah atau benar, tapi menanyakan tipe penilaian yang memotivasi proposisi itu.

ü      Melihat penilaian moral yang mendahului elaborasi sistem pemikiran dan menunjukkan bahwa penilaian moral meruoakan ungkapan subjektivitas penilai.

ü      Semua pemikiran dielaborasi menurut sistem nilai à menerjemahkan kepentingan dia yang menyatakan dan menerjemahkan keyakinan

ü      Pemikiran mengandaikan penilaian. Memahami = evaluasi à mengorganisir dunia menurut perspektivisme nilai.

ü      Evaluasi selalu simptomatis tipe manusia, cermin sikap ttt terhadap kehidupan. Semua moral = evaluasi

ü      Motode yang baik dalam filsafat à genealogi: memahami simptom dengan melacak sampai asal-usulnya.

 

Genealogi dan Rekonstruksi

ü      Nistzche mengganti masalah kebenaran dengan masalah makna nilai moral dan ideal kita.

ü      Motode genealogi: pertanyaan bukan benar atau salah, tapi siapakah yang menyatakan bahwa yang baik adalah ini/itu? Apa kepentingan/nilai di balik dia membuat pernyataan itu?

ü      Ia mau menyingkap tipe manusia yang menjadi asal-usul evaluasi yang dianalisa dan memahami apa yang dikehendakinya.

ü      Moral menuntut evaluasi tentang evaluasi itu, menilai nilai dari nilai moral kita. Reevaluasi itu membawa ke moral yang baru (tujuan genealogi)

ü      Metode kritis ini memungkinkan rekonstruksi. Filsuf harus selalu mencoba, menentang semua yang dogmatis, bertindak/meligat dari berbagai perspektif karena realitas adalah selalu “menjadi”. Melihat realitas dengan 100 mata

 

Kegembiraan Mengetahui

ü      Penggunaan sistem, klasifikasi, hierarkisasi berarti mengingkari hal itu seperti apa adanya.

ü      Ideal kita: ungkapan perendahan kehidupan, kehendak menolak kehidupan dengan mempertentangkan yang ideal dengan kenyataan, esensi, dan fenomena.

ü      Metafisika idealis ini: filsafat penilaian moral yang menghukum dunia real atas nama dunia fiktif yang sesuai dengan keinginan kita.

ü      Konstruksi intelektual itu à ungkapan ketidakmampuan mengayati keberagaman keinginan dan realitas yang menyakitkan.

ü      Lebih mudah menyembah idola yang lahir dari pemikiran daripada menghadapi kehidupan yang kasar dan kejam.

ü      Kebutuhan untuk percaya: asal semua konstruksi idealis

ü      Lalu untuk apa?” : pertanyaan yang menderita bila tidak ada ideal, karena tidak bisa lagi menikmati dunia tanpa adanya yang transenden.

ü      Tuhan telah matià dilucutinya idola lama tetapi belum punya idola baru

ü      Nietzche membawa kegembiraan mengetahui lawan nihilisme.

 

 

Nihilisme Kontemporer

ü      Nihilisme: devaluasi universal terhadap nilai-nilai yang melahirkan kepastian patologis bahwa tidak ada lagi yang mempunyai makna.

ü      Fenomena yang diketahui umum sebagai dekadensi bukan hanya masalah beberapa orang, tapi penyakit peradaban manusia seluruhnya.

ü      Kita mengorbankan seluruh hdup demi suatu ideal kebenaran (Tuhan). Kesalehan, rendah hati, sederhana telah merusak kita, menjauhkan dari dunia.

ü      Bangsa-bangsa terus bekerja untuk perbaikan moral manusia: menjinakkan manusia secara sistematis. Semua bentuk pendidikan= ingin mengarahkan naluri, karena naluri mengancam dan tidak bisa diramalkan.

 

Keyakinan Ilmiah: bentuk nihilisme

ü      “ Menjadi” dianggap negatif karena masih diidealisir. Yang belum terjadi (yang seharusnya) lebih berharga daripada kenyataan yang terjadi. Menempatkan “yang tiada” lebih tinggi daripada “yang ada”.

ü      Kultus positivis akan kemajuan menerjemahkan ketakutan akan “menjadi” dan memandang rendah

ü      Optimisme terhadap yang ilmiah: pengganti iman agama yang memuja apa yang sedang berlangsung.

ü      Kebutuhan akan keabadian, yang menerjemahkan keyakinan ilmiah, tidak mampu memuaskan kecuali dengan mengandaikan keunggulan dunia ideal terhadap yang kongkrit.

ü      Ilmu pengetahuan mencari narkotika yang akan mampu membebaskan dari kecemasan. Keinginan akan pengetahuan ilmiah dijelaskan secara genealogis oleh kebutuhan akan keamanan yang mendorong manusia menciptakan suatu kisah dunia yang tunduk terhadap rasio, dunia tanpa kontradiksi, dunia di mana tidak ada orang menderita.

ü      Wajah lain keyakinan ilmiah: keyakinan nihilis bahwa kehidupan tidak berharga, keyakinan yang berasal dari pesimisme.

 

Idealisme: instrumen Reaksioner

ü      Idealisme mengacaukan “yang ada” dan “yang ideal”

ü      Hidup direndahkan ketika orang mendefinisi dunia yang tampak sebagai bayangan atau ilusi

ü      Menolak apa yang nampak sama dengan ingin suatu dunia yang lain, yang lebih baik.

ü      Kebenaran dilawankan dengan apa yang nampak, menghakimi dunia riil sebagai bertanggungjawab atas kesengsaraan.

ü      Moral mengkhianati ketidakmampuan untuk menerima kehidupan seperti apa adanya.

ü      Moral mengangkat yang ideal dengan mengorbankan kenyataan. Kebaikan, kenikmatan di dunia dianggap palsu; kebahagiaan hanya dijanjikan kepada mereka yang menjalani kehidupan tanpa kehidupan, kehidupan menjadi teoritis.

ü      Yang menghendaki dunia lain telah berbalik melawan kehidupan agar penuh keutamaan, agar kehidupan mengoreksi diri dan menjadi transit ke dunia lain.

ü      Dunia dituntut menyangkal diri dan menjadi aksetis.

 

 

By; Afrianto KPwkt

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: