LEVINAS: PENAMPAKAN WAJAH

 

Penampakan Wajah analog dengan Syarat Kemungkinan Etika

          Penampakan wajah mengundang simpati, emoati, menghentak egiosme, dan menuntut sikap à memungkinkan hubungan etis

          Hubungan dg ‘yg lain’ tidak didefinisikan oleh pengetahuan yang menekankan objektivitasi dan representasi

          Ada yang sejati bukan mengetahui, tapi berjumpa dengan yang lain dalam keadilan. Etika bukan sekedar pikiran tapi pengalaman

          Penampakan wajah: bentuk hubungan yang ditandai kepedulian dan nir-kepentungan.

          Hubungan ini menyapa orang untuk bertanggungjawab, tanpa menuntut ‘yang lain melakukan yang sama

 

Ciri-ciri penampakan wajah:

1.      Wajah hadir dengan menolak upaya untuk mewadahinya, resisten terhadap dominasi, menolak pengobjekan

2.      Menolak pengobjekan tidak menimbulkan kekerasa, tapi membuahkan struktur positif, yaitu etika (peduli).

3.      Etika menuntut kehadiran ‘yang lain’ yang mengguncang (etika Levibas bukan otonomi tapi heteronomi)

4.      Memahami kesengsaraan berarti membangun kedekatan dengan ‘yang lain”. Wajah mengungkapkan kerentanan ‘yang lain’ sebagai bentuk perintah ‘Jangan membunuh!’.

5.      Kesadaran subjektivitas terusik tanpa keputusan subjek. Subjektivitas dan tanggungjawab sinonim bagi ‘yang lain’.

 

Hubungan Etis dan Kebebasan:

          Penampakan wajah membuat tidak mungkin untuk tidak peduli sehingga hubungan etis tidak netral: artinya wajah berbicara sehingga ‘mendengarkan’ hanya bisa dimengerti kalau merupakan jawaban terhadap rintihan ‘yang lain’.

          “Yang lain” tidak membatasi kebebasanku. Dengan menggugah tanggungjawab, ‘yang lain’ memberi pembenaran kebebasan.

          Pembenaran kebebasan karena transendensi diri: ungkapan kebebasan

          Tanggungjawab mendahului kebebasan; aku terusik sebelum mengambil keputusan. Aku kenali diriku dengan mengenali ‘yang lain’.

          Kehadiran ‘yang lain’ dalam kebebasanku mengakhiri kekerasan dan irrasionalitas à menerima penalaran

 

 

 

Etika Selalu Politik

          Dipahami sebagai politik yang bertanggungjawab terhadap ‘yang lain’ atau pihak ketiga, artinya semua ‘yang lain’sebagai bentuk pluralitas da;am komunitas.

          Pusat etika adalah masalah keadilan. Etika membawa kembali ke politik: artinya tanggungjawab terungkap dalam mengupayakan politik agar menjadi adil.

          Pihak ketiga membuat hubungan etika selalu terjadi dalam konteks politik, dalam ruang publik. Maka etika selalu sudah meruapakan politik

          Asal premis SARA: menolak kehadiran ‘yang lain’ atau mereduksi ‘yang transenden’. Yang berbeda menjadi ancaman.

 

 

 

Kerja

Karya

Aksi Politik

Ruang Publik

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Makna & nilai

ü  Mengabaikan kehadiran yang lain

ü  Tidak ada identitas

ü  Keseragaman

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ü  Makna, nilai kerja tergantung pada kondisi sosial

ü  Lingkup privat sbg kehidupan yg otentik

ü Yang lain sebagai yang memberi pengakuan nilai

ü Ruang Publik= pasar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ü Menyiapkan kondisin polis yang manusiawi

ü Kebahagiaan publik, belum ada ruang publik otonom

ü Ruang kebebasan dan kesamaan yang tercipta bila WN bertindak bersama dlm koordinasi dgn wicara dan persuasi

ü Semua institusi & lingkup yang memberi konteks kegiatan WN

ü Tempat menyingkap identitas pelaku

 

ü Ruang publik: sumber makna à wicara & tindakan. Hasil karya & sejarah diabadikan. Ruang publik= ingatan kolektif. Bebas dan solider menjadi kriteria.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: