Pendampingan Rohani SMU

“Menjadi Dewasa dan Beriman”

Pendampingan Rohani Siswa-i Katolik SMA N 1 Kalasan Yogyakarta

Jumat, 20 Juli 2007

 

Susunan Acara

 

07.3008.00            :  Pembuka (Pengantar, tema, breaking ice, doa pembuka)

08.0009.00            :  Sessi I (Tahap Perkembangan Kepribadian, Motivasi)

09.0009.15            :  istirahat

09.1509.30            :  breaking ice

09.30 – 11.00:  Sessi II (Aku dan Kelompokku)

11.00 – 11.15            :  Persiapan Ibadat

11.15 – 12.00            :  Ibadat Penutup

 

Pembuka (Pengantar, tema, breaking ice, doa pembuka)

1.   Pengantar dari Panitia, Perkenalan diri

2.   Breaking Ice dengan dua macam permainan: 1) Deret Urut, 2) Nama Bola

à Deret Urut

·        Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok (min. 5 orang per kelompok).  Jumlah kelompok menyesuaikan.

·        Dalam kelompok, masing-masing anggota mencoba berbaris dari depan ke belakang sesuai dengan kriterium urutan yang diminta (umur, nama, tanggal lahir, hobi, dst.)

·        Jumlah kelompok dikurangi; jumlah anggota dalam satu kelompok semakin diperbesar. Akhirnya, semua menjadi satu deret atau lingkaran

 

à Nama Bola

·        Peserta diminta membentuk lingkaran.

·        Pendamping berdiri di tengah lingkaran sambil membawa bola tenis.

·        Pendamping menjelaskan aturan main permainan ini.

·        Pertama, bola itu akan diberikan dari satu peserta ke peserta lain sambil menyebut sebuah pesan yang versi panjangnya: “Saya A menyerahkan bola ini kepada B”. Pesan pokoknya memperkenalkan nama diri si pembawa bola kepada si penerima bola.

·        Kedua, setiap kali satu putaran selesai pendamping mencatat lama waktu permainan itu.

·        Kemudian, pendamping menantang peserta melakukan hal itu dalam waktu yang semakin singkat sampai kira-kira pada waktu yang secara nalar, tidak mencukupi untuk berkenalan.

3.   Istirahat dulu untuk mengatur napas.

4.   Memulai acara dengan doa pembuka.

 

Sessi I (Perkembangan Kedewasaan dari perkembangan motivasi)

1.    Pendamping menguraikan secara singkat bahwa semua peserta sudah masuk masa kedewasaan secara fisik. Tetapi, apakah mereka sudah dewasa secara psiko-spiritual, belum dapat diketahui.

2.    Pendamping, sambil membagikan kertas, mengatakan bahwa apa yang akan dilakukan kali ini akan membantu mereka mengetahui sampai pada tahap mana kedewasaan psiko-spiritual mereka.

3.    Pendamping meminta peserta menuliskan sepuluh [10] keinginan gila mereka yang ingin segera mereka penuhi apabila mereka dapat melakukan segalanya; mempunyai segala fasilitas; dan tidak terikat oleh siapa atau apapun di dunia ini. Mereka bebas dan mempunyai segala hal. Keinginan gila ini adalah keinginan yang spontan muncul, dan bukan dengan pemikiran yang panjang dan mendalam. Peserta diminta menuliskan keinginan mereka itu dalam waktu 10-15 menit saja. Tidak lebih.

4.    Pendamping mengajak peserta menganalisis apa yang mereka tulis dengan “7 tingkat motivasi”: kenikmatanà kesenanganà egolatriaà humanisà incarnatorisà religiusà mistik.

5.    Pendamping mengajak peserta keluar (lapangan basket). Membuat peserta menjadi dua kelompok. Menutup mata separuh kelompok, dan menyuruh yang ditutup matanya itu berjalan. Pertama, sendirian; lalu, dibimbing temannya dari belakang; kemudian, temannya berjalan bersamanya.

6.    Intinya, pendamping mengajak peserta untuk menyadari bahwa kehadiran orang lain penting artinya bagi pertumbuhan hidupnya. Kehadirannya pun penting bagi pertumbuhan orang lain.

~ Break 15 menit ~

Sessi II (Aku dan Kelompokku)

1.    Pendamping mengajak peserta menyanyi atau bermain (cabu-cabu-cacaca) untuk memecah kebekuan selama kira-kira lima belas [15] menit.

2.    Pendamping kembali mengulangi hal terakhir dalam sessi I: “Kehadiranku penting artinya bagi pertumbuhan orang lain. Kehadiran orang lain penting juga bagi pertumbuhanku”.

3.    Pendamping mengajak peserta mengasah kemampuan peserta dalam hidup bersama dengan beberapa permainan.

 

à  Naga Balon

·        Peserta diminta masuk kembali dalam kelompok kembali

·        Pendamping membagikan balon yang udah ditiup dan diberi tali kepada masing-masing peserta di setiap kelompoknya

·        Peserta mengalungkan balon itu di leher mereka masing-masing sedemikian rupa sehingga balon terletak di punggung mereka.

·        Setiap kelompok berbaris memanjang dari depan ke belakang, dan saling berhadapan dengan kelompok yang lain.

·        Pendamping memberitahukan aturan main permainan ini.

·        Pertama, setiap kelompok berlomba meletuskan sebanyak mungkin balon kelompok yang lain. Kedua, kelompok yang dapat mempertahankan balon paling banyak-lah yang akan menang.

 

à  Pipa Gila

·        Peserta diminta masuk kembali dalam kelompok kembali. Kali ini dalam dua kelompok sama besar.

·        Pendamping membagikan dua buah pipa masing-masing sepanjang dua meter kepada masing-masing kelompok

·        Setiap peserta dalam kelompok diminta berdiri selang-seling tetapi berhadap-hadapan.

·        Kemudian, mereka diminta mengangkat pipa itu dengan jari telunjuk.

·        Inti permainan, setiap orang harus bekerja bersama untuk memecahkan sebuah permasalahan.

 

      à Aku mempercayaimu


Ibadat Penutup

 

Nyanyian Pembuka

Doa Pembuka

Bacaan Injil

 

Garam itu baik, tetapi kalau menjadi tawar, mungkinkah diasinkan kembali?

 

Pembacaan dari Injil Markus (Mrk 9,42-50)

 

 “Siapa menyebabkan salah satu dari orang-orang yang kecil ini tidak percaya lagi kepada-Ku, lebih baik kalau batu penggilingan diikatkan pada lehernya, dan ia dibuang ke dalam laut. Kalau tanganmu membuat engkau berdosa, potonglah tangan itu! Lebih baik engkau hidup dengan Allah tanpa sebelah tangan daripada engkau dengan kedua belah tanganmu masuk ke neraka, yaitu api yang abadi.

 [Di sana api tidak bisa padam, dan ulat tidak bisa. Dan kalau kakimu membuat engkau berdosa, potonglah kaki itu. Lebih baik engkau hidup dengan Allah tanpa sebelah kakimu, daripada engkau dengan kedua belah kakimu dibuang ke dalam neraka. [Di sana api tidak bisa padam dan ulat tidak bisa. Kalau matamu menyebabkan engkau berdosa, cungkillah mata itu! Lebih baik engkau masuk Dunia Baru Allah tanpa satu mata, daripada engkau dengan kedua belah matamu dibuang ke dalam neraka. Di sana api tidak bisa padam dan ulat tidak bisa mati.

Setiap orang akan dimurnikan dengan api, seperti kurban disucikan dengan garam.

Garam itu baik, tetapi kalau menjadi tawar, mungkinkah diasinkan kembali? Jadi, hendaklah kalian menjadi seperti garam — hiduplah bersama-sama dengan rukun.”

 

Homili Singkat

Pembuatan Niat – Doa Umat – Bapa Kami

Doa Penutup

Pengumuman

Nyanyian Penutup

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: